PrakarsaWarga.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Dalam dua pekan terakhir, kasus kebakaran lahan dan semak kering dilaporkan mengalami peningkatan di sejumlah wilayah.
Untuk memperkuat penanganan, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mendapat dukungan operasi udara dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sebuah helikopter water bombing mulai dikerahkan untuk membantu pemadaman dari udara.
Operasi perdana dilakukan pada Selasa (8/9/2026) dengan sasaran kawasan Bantuas. Helikopter tersebut mengambil sumber air dari void yang berada di sekitar lokasi untuk kemudian digunakan dalam proses pemadaman.
Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan bantuan helikopter diajukan Pemkot kepada BNPB sebagai langkah untuk memperkuat upaya penanggulangan karhutla yang selama ini dilakukan melalui operasi darat.
Menurutnya, pemadaman dari udara diharapkan dapat menjadi bagian dari strategi terpadu bersama petugas yang berada di lapangan.
“Operasi water bombing ini menjadi satu kesatuan dari operasi kesiapsiagaan kita dalam penanggulangan karhutla di Kota Samarinda,” ujar Andi Harun, Selasa (8/9/2026).
Bantuas Jadi Lokasi Operasi Perdana
Pada penerbangan pertama, helikopter diarahkan menuju kawasan Bantuas yang menjadi salah satu wilayah terdampak kebakaran lahan.
Operasi water bombing dijadwalkan berlangsung hingga menjelang matahari terbenam. Setelah pelaksanaan operasi, Pemkot Samarinda bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) akan melakukan evaluasi untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Andi mengatakan pengerahan helikopter tidak hanya difokuskan di Bantuas. Wilayah lain di Samarinda yang membutuhkan penanganan juga akan masuk dalam pemetaan operasi, termasuk kawasan Betapus.
“BPBD kita terus melekat bersama BNPB dalam rangka penanggulangan,” katanya.
Kebakaran Lahan Meningkat dalam Dua Pekan
Pengerahan helikopter dilakukan di tengah meningkatnya kasus kebakaran lahan dan semak kering di Samarinda.
Andi menyebut peningkatan tersebut terjadi dalam sekitar dua pekan terakhir. Beberapa kejadian bahkan masih ditangani aparat kepolisian untuk mengetahui penyebab kebakaran.
Penyebab kebakaran sendiri beragam. Selain faktor kondisi lahan yang kering, terdapat pula sejumlah kasus yang sedang diselidiki karena diduga memiliki unsur kesengajaan.
Sebelum mendapat bantuan operasi udara, Pemkot Samarinda telah melakukan berbagai langkah antisipasi. Personel pemadam disiagakan dan patroli dilakukan bersama unsur TNI dan Polri.
Rencana Modifikasi Cuaca Belum Bisa Dilakukan
Selain water bombing, Pemkot Samarinda sebelumnya juga berkoordinasi dengan BNPB untuk melakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC) sebagai salah satu upaya menghadapi kondisi kemarau panjang.
Namun, rencana tersebut belum dapat dilaksanakan karena kondisi awan di wilayah Samarinda dinilai belum memenuhi kebutuhan untuk pelaksanaan penyemaian.
“Kita telah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan BNPB, ternyata awan kita memang belum cukup,” ujar Andi.
Pemkot kini masih mengandalkan kombinasi penanganan darat dan operasi udara untuk menghadapi karhutla serta dampak kekeringan yang terjadi.
Pemkot Ajak Perusahaan Ikut Atasi Dampak Kemarau
Andi Harun juga mengajak sektor swasta untuk turut berkontribusi dalam menghadapi dampak kekeringan dan kemarau panjang di Samarinda.
Menurutnya, penanganan karhutla dan dampak kondisi cuaca membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, tidak hanya pemerintah dan petugas kebencanaan.
Pemkot berharap perusahaan yang beroperasi di Samarinda dapat ikut mengambil peran dalam upaya pencegahan maupun penanganan dampak kekeringan dan kebakaran lahan.
Dengan tambahan dukungan helikopter water bombing dari BNPB, Pemkot Samarinda berharap penanganan karhutla di sejumlah titik dapat dilakukan lebih cepat sekaligus mengurangi risiko kebakaran meluas ke area lainnya.







