PrakarsaWarga.com – Sejumlah pelaku industri otomotif Jepang menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi industri otomotif Indonesia, mulai dari proses perizinan, pembiayaan bagi industri kecil dan menengah (IKM), hingga penerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Masukan tersebut disampaikan dalam agenda Business Discussion Lunch bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang berlangsung di Nagoya, Jepang, Sabtu (19/9).
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai penguatan kerja sama industri sekaligus upaya meningkatkan daya saing sektor manufaktur dan otomotif Indonesia.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, hadir dalam agenda tersebut bersama Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian, Ali Murtopo Simbolon.
Dalam pertemuan itu, pemerintah menerima berbagai masukan dari pelaku industri terkait sejumlah hambatan yang dinilai masih perlu diperbaiki. Pemerintah juga menyatakan akan terus melakukan penyempurnaan kebijakan untuk menciptakan iklim investasi yang lebih mendukung.
Susiwijono mengatakan pemerintah terbuka terhadap masukan dari dunia usaha dan akan mengambil langkah konkret untuk menangani berbagai persoalan yang masih menjadi hambatan investasi.
Menurutnya, rangkaian pertemuan bisnis di Nagoya menunjukkan bahwa penguatan daya saing industri tidak hanya bergantung pada investasi dan teknologi. Kualitas sumber daya manusia serta rantai pasok yang kuat juga menjadi faktor penting.
Hal tersebut dinilai semakin relevan ketika industri otomotif Indonesia memasuki fase transformasi menuju kendaraan listrik. Perubahan teknologi membuat kebutuhan terhadap komponen berteknologi tinggi, termasuk semikonduktor dan sistem cerdas, semakin besar.
Karena itu, penguatan ekosistem industri otomotif dinilai perlu dilakukan secara menyeluruh, termasuk dengan meningkatkan kemampuan industri komponen dalam negeri.
Pemerintah berharap keterlibatan Indonesia dalam berbagai forum bisnis dan industri internasional dapat membuka lebih banyak peluang kerja sama, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok manufaktur global.
Penguatan industri otomotif juga menjadi bagian penting dari upaya Indonesia mengembangkan sektor manufaktur yang lebih kompetitif di tengah perkembangan kendaraan listrik dan teknologi otomotif pintar.








