Sarmuji Hadapi Tantangan Besar, Industri Jadi Kunci Kejar Pertumbuhan Ekonomi

PrakarsaWarga.Com – Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menghadapi tantangan besar setelah dipercaya masuk dalam jajaran Kabinet Merah Putih. Salah satu pekerjaan utama yang perlu mendapat perhatian adalah memperkuat kembali sektor industri nasional agar mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi.

Kinerja industri manufaktur dalam beberapa periode terakhir menjadi sorotan. Berdasarkan data yang disampaikan Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini, pertumbuhan sektor industri turun dari 5,48% pada kuartal II 2025 menjadi sekitar 4,5% pada kuartal II 2026.

Menurut Didik, kondisi tersebut menjadi tantangan ketika pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Apalagi, industri memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia.

“Bagaimana bisa pertumbuhan ekonomi akan mencapai 7% jika kondisi sektor industri lemah dan menurun seperti dua tahun terakhir ini,” ujar Didik dalam keterangannya, dikutip Kamis (1/10/2026).

Target Kontribusi Manufaktur 21,9 Persen

Tantangan sektor industri semakin besar jika melihat target pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Kontribusi industri manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) ditargetkan naik dari baseline 18,67% menjadi 21,9% pada 2029.

Pada periode yang sama, pemerintah juga menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 8%.

Didik menilai pencapaian target tersebut membutuhkan kebijakan industri yang lebih kuat. Menurut dia, pergantian Menteri Perindustrian perlu diikuti dengan evaluasi terhadap strategi dan kebijakan yang selama ini diterapkan.

Ia menilai pemerintah tidak cukup hanya melakukan pergantian pejabat, tetapi juga perlu menghadirkan pendekatan baru untuk mendorong sektor industri.

“Bagaimana strategi dan kebijakan yang seharusnya dilakukan ke depan dengan penyegaran Menteri Perindustrian yang baru? Jawabannya mutlak tidak menjalankan kebijakan as usual seperti selama dua tahun ini,” katanya.

PMI Manufaktur Sempat Tertekan

Selain pertumbuhan industri, kondisi manufaktur juga dapat dilihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur. Indikator ini sempat berada di level 46,9 pada Juni 2026 dan 49,8 pada Agustus.

PMI kemudian kembali berada di level 52,4 pada September 2026.

Didik juga menyoroti pertumbuhan yang belum merata di antara subsektor industri. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari tantangan yang perlu ditangani pemerintah agar industri dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.

RAPBN 2027 Jadi Perhatian

Kebijakan anggaran juga menjadi sorotan dalam upaya memperkuat sektor industri. Didik menilai RAPBN 2027 yang telah disahkan belum menunjukkan dorongan yang secara khusus diarahkan untuk memperkuat sektor produktif, termasuk industri.

Ia berpendapat besarnya defisit anggaran lebih banyak berkaitan dengan kebutuhan pembayaran utang serta pembiayaan berbagai program sosial.

“Desain kebijakannya dengan defisit yang cukup besar kemungkinan hanya untuk bayar utang dan mandatory ke program sosial, yang membutuhkan dana APBN dalam jumlah besar,” ujar Didik.

Menurutnya, besarnya defisit anggaran tidak otomatis menunjukkan adanya ekspansi yang diarahkan pada kegiatan produktif. Karena itu, efektivitas kebijakan pemerintah akan sangat bergantung pada perubahan desain kebijakan ekonomi dan industri.

Industri Dinilai Punya Peran Besar

Didik memperkirakan sektor industri yang memiliki bobot sekitar 19% terhadap PDB dan tumbuh sekitar 4,5% hanya memberikan kontribusi sekitar 0,86% terhadap pertumbuhan ekonomi.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan periode ketika Indonesia mampu mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 7%. Saat itu, sektor industri disebut tumbuh hingga dua digit sehingga memberikan dorongan lebih besar terhadap perekonomian.

Karena itu, menurut Didik, penguatan sektor industri menjadi salah satu pekerjaan rumah penting bagi Menteri Perindustrian yang baru.

Pemerintah dinilai perlu memperkuat kebijakan yang mampu mendorong investasi, meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pasar, serta meningkatkan daya saing industri dalam negeri.

Didik menilai target pertumbuhan ekonomi 7-8% akan menghadapi tantangan apabila kinerja industri tidak mengalami peningkatan.

“Jika tidak ada perubahan kebijakan dari sektor ini, maka jangan harap ekonomi bisa tumbuh sampai 7-8%,” ujarnya.

Dengan posisi barunya, Muhammad Sarmuji kini menghadapi tantangan untuk memperkuat sektor industri sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Yuko Fujigaki Jadi Perempuan Pertama yang Pimpin University of Tokyo, Ini Profil dan Tantangannya

Yuko Fujigaki Jadi Perempuan Pertama yang Pimpin University of Tokyo, Ini Profil dan Tantangannya

Lulusan Magister Manajemen FEB UI Kini Bergelar MBA, Ini Perubahan dan Manfaatnya

Lulusan Magister Manajemen FEB UI Kini Bergelar MBA, Ini Perubahan dan Manfaatnya

Polda Kalsel Amankan 2.574 Botol Miras dari 5 Kafe Tanpa Izin

Polda Kalsel Amankan 2.574 Botol Miras dari 5 Kafe Tanpa Izin

Manajemen Virgo Siapkan Bantuan Hukum untuk Nakhoda yang Jadi Tersangka

Manajemen Virgo Siapkan Bantuan Hukum untuk Nakhoda yang Jadi Tersangka

Udara Palembang Memburuk, ASN Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Udara Palembang Memburuk, ASN Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Mengapa Jepang Tetap Bersih Meski Minim Tempat Sampah di Ruang Publik

Mengapa Jepang Tetap Bersih Meski Minim Tempat Sampah di Ruang Publik