PrakarsaWarga.Com – Sejarah baru tercipta di dunia pendidikan tinggi Jepang. University of Tokyo menunjuk profesor Yuko Fujigaki sebagai presiden terpilih universitas tersebut pada 28 September 2026.
Penunjukan Fujigaki menjadi perhatian karena ia akan menjadi perempuan pertama yang memimpin University of Tokyo sejak universitas tersebut berdiri hampir 150 tahun lalu.
Fujigaki saat ini merupakan profesor di Graduate School of Arts and Sciences University of Tokyo. Ia dijadwalkan mulai menjalankan tugas sebagai presiden pada 1 April 2027, menggantikan Teruo Fujii.
Masa kepemimpinannya akan berlangsung selama enam tahun hingga 31 Maret 2033.
Mulai Memimpin Saat Kampus Rayakan 150 Tahun
Awal masa jabatan Fujigaki bertepatan dengan momentum penting bagi University of Tokyo. Pada 2027, universitas tersebut memasuki peringatan 150 tahun berdirinya institusi pendidikan tinggi tersebut.
Dalam momentum tersebut, Fujigaki menilai kehadiran perempuan di posisi tertinggi universitas memiliki arti tersendiri bagi masyarakat Jepang.
Ia berharap pencapaiannya tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga dapat mendorong lebih banyak perempuan untuk memilih jalur akademik.
Fujigaki secara khusus ingin melihat semakin banyak perempuan yang menjadi mahasiswa maupun peneliti di University of Tokyo.
Siapa Yuko Fujigaki?
Fujigaki dikenal sebagai akademisi yang menekuni bidang science, technology and society atau kajian mengenai hubungan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan masyarakat.
Ia juga memiliki keahlian dalam scientometrics, bidang yang mempelajari aktivitas serta perkembangan ilmu pengetahuan melalui pendekatan pengukuran dan analisis.
Kariernya di University of Tokyo telah berlangsung selama puluhan tahun.
Setelah memperoleh gelar PhD dari Graduate School of Arts and Sciences University of Tokyo, Fujigaki bergabung dengan kampus tersebut sebagai asisten profesor pada 1990.
Ia kemudian sempat menjadi wakil direktur bidang riset di National Institute of Science and Technology Policy.
Pada 2000, Fujigaki kembali ke University of Tokyo sebagai profesor madya dan diangkat menjadi profesor penuh pada 2010.
Pernah Menduduki Sejumlah Jabatan Strategis
Pengalaman Fujigaki tidak hanya berada di ruang akademik. Ia juga telah mengisi sejumlah posisi kepemimpinan di University of Tokyo.
Beberapa jabatan yang pernah diembannya antara lain asisten eksekutif presiden, wakil dekan Graduate School of Arts and Sciences, serta wakil presiden eksekutif.
Jabatan wakil presiden eksekutif tersebut dijalankan Fujigaki hingga Maret 2026.
Pengalaman administratif dan akademik tersebut menjadi bagian dari rekam jejak yang dinilai dalam proses pemilihan presiden universitas.
Tidak Mendapat Suara Terbanyak di Putaran Kedua
Proses pemilihan presiden University of Tokyo berlangsung sejak April 2026 dan melalui beberapa tahapan.
Lima kandidat sebelumnya masuk daftar pendek setelah melalui seleksi yang dilakukan panel beranggotakan 16 orang dari unsur internal dan eksternal universitas.
Selanjutnya, hampir 2.200 perwakilan memberikan suara untuk menentukan kandidat pilihan.
Dalam putaran kedua yang melibatkan tiga kandidat, Fujigaki memperoleh 553 suara. Jumlah tersebut berada di bawah profesor teknik Takao Someya yang memperoleh 1.107 suara.
Meski demikian, keputusan akhir tidak ditentukan semata-mata berdasarkan jumlah suara tersebut.
University President Screening & Inspection Committee kemudian melakukan evaluasi terhadap para kandidat, termasuk melalui wawancara, sebelum akhirnya memilih Fujigaki sebagai presiden terpilih.
Ketua komite seleksi, Hiroko Kuniya, mengatakan keputusan tersebut mempertimbangkan rekam jejak serta kemampuan masing-masing kandidat.
Menurut Kuniya, kemampuan Fujigaki dalam menjembatani ilmu pengetahuan dan teknologi dengan masyarakat serta komitmennya terhadap reformasi tata kelola menjadi salah satu pertimbangan.
Punya Tantangan Memulihkan Kepercayaan
Tugas Fujigaki ke depan bukan hanya berkaitan dengan kegiatan akademik. Ia juga akan memimpin University of Tokyo di tengah perhatian terhadap persoalan tata kelola kampus.
Dalam beberapa waktu terakhir, universitas menghadapi sejumlah persoalan dan kasus yang melibatkan lingkungan akademik serta rumah sakit universitas.
Situasi tersebut membuat reformasi tata kelola menjadi salah satu agenda penting bagi kepemimpinan berikutnya.
Fujigaki menyatakan akan melanjutkan berbagai reformasi yang telah berjalan dan memperkuat langkah pencegahan korupsi.
Ia juga menargetkan pemulihan kepercayaan masyarakat terhadap University of Tokyo dan institusi akademik secara lebih luas.
Mempertanyakan Kembali Fungsi Universitas
Selain persoalan tata kelola, Fujigaki membawa pandangan mengenai fungsi universitas di tengah perubahan pendidikan tinggi.
Menurutnya, universitas tidak semestinya hanya dipandang sebagai tempat untuk mendapatkan gelar atau menguasai keterampilan tertentu.
Ia melihat perguruan tinggi memiliki fungsi yang lebih luas, terutama dalam menjaga keberlanjutan pengetahuan manusia dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pandangan tersebut menjadi salah satu gagasan yang akan dibawa Fujigaki ketika mulai memimpin University of Tokyo pada April 2027.
Dengan pengalaman panjang sebagai akademisi sekaligus administrator, masa kepemimpinan Fujigaki akan menjadi periode baru bagi University of Tokyo, terlebih karena bertepatan dengan perayaan 150 tahun berdirinya universitas tersebut. (RFA)







