Namun, penerapan kebijakan tersebut menghadirkan tantangan bagi Kementerian Agama (Kemenag), khususnya dalam mempersiapkan tenaga pendidik yang mampu mengajarkan bahasa Inggris kepada siswa MI.
Kepala Subdirektorat Bina Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah, Direktorat GTK Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Rini Rizki Rahmayani, mengungkapkan pihaknya sempat menghadapi kesulitan dalam merancang strategi pemenuhan kebutuhan guru.
Persoalannya, Kemenag harus menyiapkan guru dalam waktu relatif singkat. Di sisi lain, perekrutan guru bahasa Inggris khusus untuk MI bukan menjadi pilihan yang ditempuh dalam kebijakan ini.
Akibatnya, guru kelas yang sudah mengajar di madrasah perlu mendapatkan pembekalan agar mampu mengajarkan bahasa Inggris, meskipun latar belakang pendidikan mereka tidak secara khusus berkaitan dengan bidang tersebut.
Rini menjelaskan, sebagian besar guru MI merupakan lulusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) atau program studi lain yang tidak berfokus pada pengajaran bahasa Inggris.
Kondisi tersebut membuat peningkatan kompetensi guru menjadi pekerjaan besar yang harus segera diselesaikan sebelum kebijakan mulai diterapkan.
British Council Bantu Persiapan Guru Bahasa Inggris MI
Untuk menjawab tantangan tersebut, British Council menghadirkan program pelatihan melalui inisiatif Strengthening the Teaching of English in Primary Schools through Communities of Practice (STEPS-CoP).
Program ini diluncurkan di Kantor Kementerian Agama, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2026).
Rini menyambut positif program tersebut karena dinilai menawarkan pola pelatihan yang terstruktur dan memiliki dampak yang dapat diukur. Menurutnya, metode pelatihan yang dikembangkan British Council juga berpotensi diterapkan dalam program peningkatan kompetensi guru lainnya di lingkungan Kemenag.
Melalui pendekatan tersebut, guru diharapkan memperoleh keterampilan dan kepercayaan diri untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada siswa sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah.
Latar Belakang Guru Beragam Jadi Perhatian
School Systems Lead British Council, Buyung Sudrajat, mengatakan keberagaman latar belakang pendidikan guru MI memang menjadi tantangan dalam pelaksanaan program pelatihan.
Meski demikian, ia optimistis pendekatan Community of Practice (CoP) dapat membantu menjawab kebutuhan tersebut.
Metode CoP menekankan pembelajaran melalui komunitas praktik, sehingga para guru dapat saling berbagi pengalaman, berdiskusi, dan mengembangkan kemampuan mengajar secara berkelanjutan.
Buyung menjelaskan bahwa pendekatan serupa telah diterapkan di Mesir dan Vietnam dengan jumlah peserta mencapai 16.000 orang.
Pengalaman dari kedua negara tersebut menjadi salah satu dasar optimisme British Council dalam mendukung peningkatan kemampuan guru di Indonesia.
Dengan persiapan yang matang dan pelatihan yang tepat, penerapan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di kelas 3 MI diharapkan dapat berjalan lebih efektif. Kesiapan guru menjadi faktor penting agar kebijakan ini tidak hanya terlaksana secara administratif, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Inggris sejak dini.







