PrakarsaWarga.com– Rambut beruban sering dikaitkan dengan proses penuaan. Namun, belakangan muncul klaim bahwa uban merupakan tanda tubuh sedang berusaha melawan kanker. Benarkah demikian?
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Yenny Rachmawati, M.Biomed, menjelaskan bahwa anggapan tersebut tidak tepat. Menurutnya, warna rambut tidak bisa digunakan untuk mengetahui apakah tubuh seseorang sedang melawan kanker atau memiliki risiko kanker tertentu.
“Uban bukan berarti tubuh secara aktif melawan kanker. Warna rambut tidak dapat digunakan sebagai penanda untuk memperkirakan risiko kanker seseorang,” ujar dr. Yenny, dikutip dari laman IPB University, Minggu (30/8/2026).
Berawal dari Penelitian Sel Punca Rambut
Munculnya klaim mengenai hubungan uban dan kanker diduga berkaitan dengan penelitian eksperimental yang dilakukan pada 2025. Penelitian tersebut mengamati respons sel punca melanosit, yakni sel yang berperan dalam menghasilkan pigmen rambut.
Dalam penelitian terhadap tikus, kerusakan DNA pada sel punca melanosit dapat memicu respons yang berbeda. Salah satunya adalah proses penuaan sel yang menyebabkan jumlah atau fungsi sel tersebut menurun.
Ketika produksi pigmen berkurang, rambut yang tumbuh kemudian terlihat lebih putih atau abu-abu. Inilah yang menjadi salah satu mekanisme biologis terbentuknya uban.
Namun, dalam kondisi tertentu, sel yang mengalami kerusakan dapat mengambil jalur berbeda dan tetap bertahan. Kondisi tersebut berpotensi berkaitan dengan terbentuknya lesi melanositik yang memiliki hubungan dengan risiko melanoma, salah satu jenis kanker kulit.
Meski begitu, penelitian tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa uban merupakan bentuk perlindungan tubuh terhadap kanker.
Belum Ada Bukti Uban Menurunkan Risiko Kanker
Dr. Yenny menegaskan bahwa temuan pada penelitian hewan tidak sama dengan bukti pada manusia. Sampai saat ini, belum ada bukti epidemiologis yang cukup untuk menyatakan bahwa seseorang yang lebih cepat beruban mempunyai risiko melanoma atau kanker lainnya yang lebih rendah.
Artinya, munculnya uban pada usia muda tidak bisa dianggap sebagai tanda seseorang memiliki perlindungan khusus terhadap kanker. Begitu pula rambut yang belum beruban tidak berarti seseorang memiliki risiko kanker lebih tinggi.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menjadikan warna rambut sebagai indikator kesehatan tubuh secara keseluruhan, terutama untuk menilai risiko kanker.
Apa Saja Penyebab Rambut Beruban?
Munculnya uban merupakan proses yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Usia dan faktor genetik dari keluarga termasuk penyebab yang umum.
Selain itu, kondisi lingkungan dan gaya hidup juga dapat berpengaruh. Paparan polusi, kebiasaan merokok, serta stres oksidatif disebut dapat berperan dalam proses yang menyebabkan rambut kehilangan pigmennya.
Stres berat juga dapat memengaruhi sel punca melanosit. Aktivasi sistem saraf simpatis akibat tekanan psikologis dapat mempercepat berkurangnya sel yang berperan dalam produksi pigmen rambut.
Dalam beberapa kasus, uban yang muncul lebih cepat juga dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan atau kekurangan nutrisi. Misalnya, kekurangan vitamin B12 dan zat besi, gangguan pada kelenjar tiroid, hingga penyakit autoimun.
Jangan Jadikan Uban sebagai Patokan Risiko Kanker
Kesimpulannya, uban merupakan bagian dari proses biologis yang dipengaruhi oleh usia, genetik, lingkungan, gaya hidup, serta kondisi tertentu dalam tubuh. Belum ada dasar medis yang cukup untuk menyebut uban sebagai tanda tubuh sedang melawan kanker.
Jika muncul perubahan rambut yang dirasakan tidak biasa atau disertai keluhan kesehatan lainnya, pemeriksaan kepada tenaga medis dapat menjadi langkah yang lebih tepat daripada menyimpulkan kondisi kesehatan hanya berdasarkan warna rambut.







