Jakarta – Ilmu teknik mesin tidak hanya berkaitan dengan kendaraan, mesin industri, atau manufaktur. Di Universitas Diponegoro (Undip), salah satu cabang ilmu tersebut dikembangkan menjadi teknologi kesehatan berupa implan panggul buatan.
Inovasi ini dikembangkan oleh Prof Jamari bersama tim peneliti di Undip Biomechanics Engineering and Research Center (UBM-ERC). Penelitian tersebut memanfaatkan prinsip tribologi, yaitu ilmu yang mempelajari gesekan, keausan, pelumasan, serta interaksi antarpermukaan yang saling bersentuhan.
Melalui pendekatan tersebut, tim peneliti Undip mencoba menjawab persoalan yang selama ini dihadapi dalam penggunaan implan panggul, khususnya terkait kesesuaian dengan anatomi dan aktivitas masyarakat Indonesia.
Berawal dari Ilmu Teknik Mesin
Prof Jamari merupakan salah satu akademisi Undip yang mendalami bidang tribologi. Setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Belanda, ia mengembangkan gagasan untuk menerapkan pengetahuan mengenai mekanika kontak ke bidang medis.
Dalam prosesnya, penelitian tersebut mendapat dukungan dari perusahaan SKF. Dari kajian mengenai kontak mekanis, Prof Jamari kemudian berkolaborasi dengan dokter spesialis ortopedi untuk memahami berbagai persoalan yang muncul dalam penggunaan implan panggul.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah desain implan yang umumnya dibuat berdasarkan karakteristik tubuh masyarakat Barat.
Ukuran dan bentuk implan tersebut dinilai tidak selalu sesuai dengan anatomi masyarakat Asia. Jika desain terlalu besar, pemasangannya dapat membutuhkan pengambilan bagian tulang asli pasien yang lebih banyak.
Dirancang untuk Kebutuhan Gerak Masyarakat Indonesia
Selain faktor anatomi, aktivitas sehari-hari juga menjadi pertimbangan dalam pengembangan teknologi tersebut.
Implan panggul konvensional memiliki keterbatasan ketika digunakan untuk melakukan gerakan dengan sudut tertentu. Salah satunya adalah posisi duduk saat melakukan tasyahud akhir dalam salat yang membutuhkan fleksibilitas gerak pada bagian panggul.
Kondisi tersebut menjadi salah satu inspirasi bagi tim UBM-ERC untuk mengembangkan dual mobility total hip prosthesis, yakni teknologi sambungan panggul buatan yang dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik anatomi serta kebutuhan gerak masyarakat Indonesia.
Prof Jamari pun mempertanyakan kemungkinan menciptakan implan yang tidak hanya mampu mengatasi kerusakan sendi, tetapi juga tetap mendukung aktivitas sehari-hari pasien.
“Bisa enggak kita mendesain sambungan tulang panggul yang bisa digunakan untuk salat dan cocok untuk orang Indonesia?” kata Prof Jamari, dikutip dari Undip, Jumat (4/9/2026).
Riset Berlangsung Sejak 2007
Pengembangan teknologi panggul buatan tersebut bukan penelitian yang dilakukan dalam waktu singkat. Kajiannya telah dimulai sejak 2007 dan terus mengalami penyempurnaan melalui sejumlah generasi desain.
Pada iterasi desain kelima dan versi ketiga yang telah memperoleh paten, teknologi tersebut dikembangkan untuk menghasilkan rentang gerak yang lebih luas dengan tetap mempertahankan tingkat presisi.
Harapannya, teknologi ini dapat membantu pasien dengan kerusakan sendi panggul untuk kembali menjalani berbagai aktivitas secara lebih nyaman.
UBM-ERC sendiri kini berkembang sebagai salah satu pusat penelitian tribologi di Indonesia. Laboratorium tersebut menggabungkan keilmuan teknik mesin, khususnya mekanika dan tribologi, dengan bidang biomekanika serta anatomi manusia.
Melibatkan Sejumlah Institusi
Pengembangan panggul buatan ini juga dilakukan melalui kolaborasi lintas bidang dan institusi. Tim peneliti melibatkan mitra manufaktur ATMI Solo serta Unika Atma Jaya Yogyakarta dalam perjalanan pengembangan teknologi tersebut.
Berkat kiprahnya dalam riset dan pengembangan teknologi, Prof Jamari juga memperoleh Science and Technology Award 2025 dari Indonesia Toray Science Foundation (ITSF).
Inovasi tersebut menunjukkan bahwa penerapan ilmu teknik mesin dapat berkembang jauh melampaui bidang industri. Dengan menggabungkan tribologi, biomekanika, kedokteran, dan kebutuhan masyarakat, penelitian Undip berupaya menghadirkan teknologi kesehatan yang lebih sesuai dengan karakteristik pasien Indonesia.






