Lampung — Abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau terpantau masuk ke lingkungan Institut Teknologi Sumatera (Itera), Lampung. Kondisi tersebut mendorong tim Program Studi Teknik Lingkungan Itera melakukan pemeriksaan kualitas udara dan analisis laboratorium.
Pemantauan dilakukan ketika aktivitas perkuliahan di kampus menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat erupsi Anak Krakatau. Kondisi kampus yang lebih sepi dimanfaatkan tim untuk mengamati kualitas udara serta keberadaan partikulat di lingkungan sekitar.
Kualitas Udara Dipantau dari Dalam dan Luar Gedung
Dosen Teknik Lingkungan Itera, Novi Kartika Sari, mengatakan tim menggunakan sejumlah instrumen untuk memantau kondisi udara di lingkungan kampus.
Pengukuran dilakukan di area luar Gedung A serta di dalam bangunan. Beberapa parameter yang diperiksa antara lain PM2.5 dan PM10, sulfur dioksida (SO₂), nitrogen dioksida (NO₂), karbon monoksida (CO), dan karbon dioksida (CO₂).
Tim juga mencatat kondisi meteorologi seperti arah serta kecepatan angin, suhu, kelembapan, dan tekanan udara.
Data tersebut digunakan untuk melihat kondisi kualitas udara sekaligus mengetahui kemungkinan adanya pengaruh partikulat akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Alat Tidak Bisa Memastikan Asal Partikulat
Novi menjelaskan, instrumen yang digunakan merupakan alat pemantauan kualitas udara sehingga tidak dapat secara langsung memastikan bahwa seluruh partikulat yang terukur berasal dari abu vulkanik.
Meski demikian, data hasil pengukuran dapat digunakan untuk melihat apakah suatu lokasi mengalami perubahan kualitas udara yang kemungkinan berkaitan dengan material erupsi.
Dengan kata lain, pemeriksaan lebih difokuskan pada kondisi udara yang diterima lingkungan kampus sebagai lokasi terdampak.
Gunakan Beberapa Metode Pengukuran
Untuk mengetahui konsentrasi partikulat, tim menggunakan metode berbeda berdasarkan lokasi pengukuran.
Partikulat PM10 dan PM2.5 di luar ruangan diperiksa menggunakan High Volume Air Sampling (HVAS). Sementara itu, pengambilan sampel partikulat di dalam ruangan dilakukan menggunakan **Low Volume Air Sampling (LVAS).
Gas SO₂ dan NO₂ diperiksa melalui metode impinger, sedangkan kadar CO dan CO₂ dipantau menggunakan perangkat berbasis sensor.
Penempatan alat juga mempertimbangkan standar pengukuran kualitas udara, faktor keselamatan, serta kebutuhan listrik karena pemantauan dilakukan secara aktif dan berkelanjutan.
Partikulat Dalam Ruangan Masuk Kategori Tidak Sehat
Hasil sementara menunjukkan kondisi gas yang dipantau masih berada dalam tingkat yang relatif aman untuk dampak akut.
Namun, kondisi berbeda terlihat pada partikulat di dalam ruangan. Hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi partikulat dalam gedung sudah masuk kategori tidak sehat.
Sementara itu, hasil pengukuran partikulat di luar ruangan masih dalam tahap penyelesaian. Pemeriksaan laboratorium awal menunjukkan adanya indikasi bahwa kualitas udara luar juga berada pada kondisi yang perlu diwaspadai.
Pemantauan Dilanjutkan Beberapa Hari
Tim Teknik Lingkungan Itera masih melanjutkan pemantauan untuk mendapatkan gambaran kondisi udara yang lebih lengkap.
Pengamatan akan dilakukan selama beberapa hari dan disesuaikan dengan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Data tersebut diharapkan dapat membantu memberikan gambaran mengenai perubahan kualitas udara di lingkungan kampus serta menjadi bahan evaluasi terhadap kondisi udara selama aktivitas erupsi berlangsung.







