PrakarsaWarga.Com – Indonesia menjadi negara dengan proporsi penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk pendidikan dan pembelajaran tertinggi dalam survei Statista Consumer Insights. Sebanyak 61% responden di Indonesia mengaku menggunakan AI untuk kebutuhan belajar dalam kehidupan pribadi.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan sembilan negara lain yang disurvei. India berada di posisi kedua dengan 57%, disusul Afrika Selatan 56%.
Menariknya, penggunaan AI untuk belajar di Indonesia bahkan lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat dan China.
Indonesia Ungguli India hingga Amerika Serikat
Berdasarkan data Statista Consumer Insights, persentase responden yang menggunakan AI untuk pendidikan dan pembelajaran adalah sebagai berikut:
– Indonesia: 61%
– India: 57%
– Afrika Selatan: 56%
– Brasil: 44%
– China: 42%
– Spanyol: 30%
– Australia: 26%
– Jerman: 25%
– Amerika Serikat: 22%
– Belanda: 14%
Survei tersebut melibatkan 500 hingga 4.300 responden berusia 18-64 tahun di masing-masing negara dan dilakukan pada Januari-Juni 2026.
Data ini menunjukkan tingginya pemanfaatan AI untuk belajar di Indonesia. Penggunaan AI untuk pendidikan dan pembelajaran juga masuk dalam tiga besar penggunaan AI untuk kebutuhan pribadi di sebagian besar negara yang diteliti.
AI Jadi Alat Bantu Belajar
Meski penggunaan AI semakin populer, teknologi ini tetap perlu digunakan secara bijak.
Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD Andreas Schleicher dalam pengantar laporan PISA 2025 menekankan bahwa AI dapat membantu proses pembelajaran apabila siswa memiliki kemampuan kognitif dan metakognitif yang memadai.
Kemampuan kognitif diperlukan agar siswa tidak sekadar menerima jawaban dari AI. Mereka tetap perlu memahami persoalan, mengolah informasi, membandingkan berbagai sumber, serta menilai apakah jawaban yang diberikan masuk akal dan memiliki dasar bukti.
Sementara itu, kemampuan metakognitif membantu siswa menyadari bahwa AI hanyalah alat bantu. Jawaban dari AI tetap perlu diperiksa, dipertanyakan, dan dievaluasi.
Penggunaan AI di AS dan Jerman Berbeda
Perbedaan tingkat penggunaan AI antarnegara tidak selalu berarti masyarakat di setiap negara menggunakan AI untuk tujuan yang berbeda.
Menurut data Statista, perbedaan persentase tersebut lebih banyak menggambarkan tingkat penggunaan AI secara keseluruhan.
Di Amerika Serikat dan Jerman, misalnya, pendidikan dan pembelajaran menjadi salah satu penggunaan AI pribadi yang populer. Namun, penggunaannya masih berada di bawah riset atau pencarian informasi secara daring.
OECD: AI Jangan Gantikan Proses Berpikir
Tingginya penggunaan AI untuk belajar membawa peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan.
AI dapat membantu siswa mencari informasi, memahami materi, dan mendukung proses belajar. Namun, ketergantungan terhadap jawaban instan berisiko membuat siswa melewatkan proses memahami dan mengevaluasi informasi.
Karena itu, kemampuan berpikir tetap menjadi bagian penting dalam penggunaan teknologi AI di pendidikan.
Pesan yang ditekankan OECD sederhana: AI sebaiknya digunakan untuk membantu manusia berpikir, bukan mengambil alih proses berpikir.
Bagi siswa, artinya jawaban dari AI bukanlah titik akhir. Informasi yang diperoleh tetap perlu dipahami, dicek, dan dipertimbangkan sebelum digunakan dalam proses belajar.









