Zulhas-Yandri Dorong Desa Jadi Motor Ekonomi, 358 Desa Mulai Bidik Pasar Ekspor

PrakarsaWarga.Com – Pemerintah terus mendorong desa agar tidak hanya menjadi pemasok bahan pangan, tetapi juga berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas bersama Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto memaparkan sejumlah strategi untuk mewujudkan target tersebut.

Zulhas mengatakan desa memiliki posisi penting dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat. Karena itu, pemerintah mendorong agar setiap desa memiliki pusat aktivitas ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan warga.

Salah satu program yang didorong adalah Koperasi Desa Merah Putih. Menurut Zulhas, koperasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu solusi bagi masyarakat desa, khususnya pelaku usaha mikro dan kecil yang selama ini menghadapi persoalan akses pembiayaan.

Ia mencontohkan adanya skema pembiayaan dengan bunga yang sebelumnya cukup tinggi. Melalui Koperasi Desa Merah Putih, pemerintah mendorong agar biaya pinjaman dapat ditekan sehingga lebih terjangkau masyarakat.

“Program kita ingin menjadikan desa itu menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Setiap desa ada pusat pertumbuhan ekonomi. Maka dibangunlah Koperasi Desa Merah Putih,” ujar Zulhas dalam program #ZulhasBikinJelas bersama detikcom.

358 Desa Disebut Sudah Masuk Program Desa Ekspor

Mendes PDT Yandri Susanto kemudian memaparkan sejumlah program yang disiapkan untuk memperkuat perekonomian desa. Salah satunya melalui Desa Ekspor.

Yandri menyebut saat ini sudah ada sekitar 358 desa yang masuk dalam program tersebut. Nilai transaksi yang dihasilkan disebut telah mendekati Rp1 triliun.

Konsep Desa Ekspor dirancang untuk memperpendek rantai distribusi. Produk yang dihasilkan masyarakat desa diupayakan dapat terhubung langsung dengan pasar di negara tujuan sehingga ketergantungan terhadap rantai perdagangan yang panjang bisa dikurangi.

“Desa ekspor ini memang mendekatkan desa dengan buyer. Jadi middleman atau para tengkulak atau rantai pasok yang selama ini panjang, itu kita potong. Jadi dari desa kita sambungkan langsung dengan negara tujuan,” kata Yandri.

Gula Aren Desa Temon Tembus Pasar Internasional

Yandri mencontohkan Desa Temon di Pacitan, Jawa Timur, sebagai salah satu desa yang telah mengembangkan produk lokal untuk pasar internasional.

Desa tersebut diketahui memproduksi gula aren organik yang kemudian dipasarkan ke sejumlah negara, di antaranya Malaysia, Belanda, dan Australia.

Menurut Yandri, pemangkasan rantai distribusi dan akses langsung menuju pasar ekspor turut memberikan dampak terhadap pendapatan petani.

“Jadi itu membuat pendapatan petani naik 40 persen,” ujarnya.

Ada Desa Tematik untuk Dorong Produksi Lokal

Selain Desa Ekspor, Kementerian Desa juga mengembangkan konsep Desa Tematik. Program tersebut diarahkan untuk membuat desa fokus pada komoditas atau potensi tertentu yang memiliki peluang pasar.

Beberapa contoh yang disebut Yandri antara lain desa ayam petelur, desa melon, desa semangka, hingga desa jagung.

Produk-produk tersebut nantinya tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, termasuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga memiliki peluang untuk masuk ke pasar internasional.

Yandri menyebut pemerintah telah memiliki jaringan pasar dengan sejumlah negara tujuan ekspor.

“Kita mau produk-produk desa itu menuju negara-negara tertentu yang sekarang masih ada kita punya 49 negara tujuan ekspor,” kata Yandri.

12 Aksi Bangun Desa Jadi Bagian Strategi Pemerintah

Berbagai program tersebut merupakan bagian dari 12 Aksi Bangun Desa, Bangun Indonesia. Program ini mencakup sejumlah agenda, mulai dari Koperasi Desa, BUMDes, Desa Ekspor, Desa Tematik, pemberdayaan pemuda desa, hingga program ketahanan pangan dan ketahanan air.

Pemerintah berharap pengembangan berbagai potensi tersebut dapat membuat desa memiliki sumber pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat.

Dengan penguatan koperasi, pengembangan usaha desa, peningkatan produksi pangan, serta akses langsung ke pasar ekspor, desa diharapkan tidak lagi hanya berperan sebagai daerah produksi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam rantai ekonomi nasional.

Strategi tersebut sekaligus menjadi upaya pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal dan membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat desa.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional Batch 6 Dibuka hingga 14 Oktober

Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional Batch 6 Dibuka hingga 14 Oktober

LIN Bangka Belitung Tegaskan Kekompakan dan Satu Komando

LIN Bangka Belitung Tegaskan Kekompakan dan Satu Komando

Mendikti Dorong Riset Kampus Tak Berhenti di Jurnal, Harus Jadi Inovasi yang Berdampak

Mendikti Dorong Riset Kampus Tak Berhenti di Jurnal, Harus Jadi Inovasi yang Berdampak

6 Mata Kuliah di Australia yang Jadi Dasar Pendidikan Gibran Disetarakan dengan SMK

6 Mata Kuliah di Australia yang Jadi Dasar Pendidikan Gibran Disetarakan dengan SMK

Aisyah Aqilah Bungkam soal Isu Putus dengan Refal Hady

Aisyah Aqilah Bungkam soal Isu Putus dengan Refal Hady

Nino Fernandez Buka Suara soal Isu Perceraian dengan Hannah Al Rashid dan Steffi Zamora

Nino Fernandez Buka Suara soal Isu Perceraian dengan Hannah Al Rashid dan Steffi Zamora