PrakarsaWarga.com – Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) memasuki fase pergantian kepemimpinan melalui Musyawarah Nasional (Munas) APTIKOM VII. Selain memilih pengurus baru, agenda tersebut menjadi momentum untuk memperkuat pemerataan pendidikan dan ekosistem teknologi informasi di berbagai daerah.
Ketua APTIKOM Provinsi Jawa Timur, Yoyon Arie Budi Suprio, mengatakan kepemimpinan APTIKOM periode 2026-2030 diharapkan mampu menyatukan potensi akademisi, peneliti, dan praktisi teknologi informasi dari seluruh Indonesia.
“Melalui musyawarah yang demokratis, inklusif, dan berasaskan semangat tumbuh bersamaan, Munas APTIKOM VII secara resmi akan menetapkan Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal terpilih untuk periode kepengurusan 2026-2030,” ujar Yoyon saat membuka Munas APTIKOM VII di Yogyakarta, Sabtu (3/10/2026).
Menurut Yoyon, tantangan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan transformasi digital membutuhkan kolaborasi yang lebih kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, serta para pelaku teknologi.
Karena itu, kepengurusan baru APTIKOM diminta tidak hanya berfokus pada program di tingkat nasional. Penguatan organisasi di daerah juga dinilai penting agar setiap wilayah dapat mengembangkan program sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing.
Kolaborasi dengan pemerintah daerah dan industri lokal juga diharapkan semakin terbuka. Kerja sama tersebut dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan talenta digital sekaligus mempercepat transformasi digital di daerah.
Pemerataan Jadi Perhatian Utama
Wakil Ketua III APTIKOM Jawa Timur Bidang Humas dan Kelembagaan, Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA, menekankan pentingnya pemerataan kesempatan bagi seluruh anggota APTIKOM.
Menurutnya, perguruan tinggi dan anggota yang memiliki kapasitas serta kontribusi perlu mendapatkan ruang untuk berkembang di dalam organisasi.
“Organisasi nasional memiliki tanggung jawab yang lebih besar, yaitu mengangkat mereka yang belum kuat, membuka akses bagi mereka yang masih berada di pinggir, serta menghadirkan kesempatan kepada anggota yang sebelumnya belum pernah mendapatkannya. Itulah esensi pemerataan,” ujar Supangat.
APTIKOM juga menyiapkan sejumlah agenda strategis untuk periode mendatang. Program tersebut mencakup digitalisasi, internasionalisasi, pengembangan artificial intelligence, kolaborasi dengan industri, publikasi internasional, hingga hilirisasi hasil riset.
Supangat menilai pergantian kepemimpinan harus dibarengi dengan pembaruan sistem kerja. Regenerasi, kata dia, tidak cukup hanya dengan mengganti nama dan struktur kepengurusan.
APTIKOM diharapkan semakin mengedepankan sistem organisasi yang transparan, berbasis meritokrasi, serta memberikan kesempatan yang lebih merata kepada seluruh anggota.
“APTIKOM adalah milik seluruh anggotanya,” tegas Supangat.
Munas APTIKOM VII pun menjadi salah satu titik penting bagi organisasi untuk menentukan arah kepengurusan periode 2026-2030. Selain memilih pemimpin baru, forum tersebut juga membawa agenda memperkuat pemerataan akses, kolaborasi teknologi, dan pengembangan talenta digital di berbagai wilayah Indonesia.









