PrakarsaWarga.Com – Laboratorium di sekolah selama ini identik dengan tempat siswa melakukan praktikum. Namun, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong agar laboratorium Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) memiliki fungsi yang lebih luas.
BRIN tengah merancang kerangka tata kelola laboratorium STEM berbasis ekosistem inovasi. Konsep tersebut dirancang agar laboratorium tidak hanya digunakan untuk kegiatan praktik, tetapi juga mendukung penelitian, pembelajaran berbasis proyek, pengembangan inovasi, peningkatan kemampuan guru, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak.
Model tersebut menjadi bagian dari upaya transformasi pendidikan, termasuk pengembangan pembelajaran di Sekolah Garuda.
STEM Tak Cukup Dipelajari dari Teori
Peneliti Pusat Riset Pendidikan (PRP) BRIN, Suharman Halawa, mengatakan pengembangan talenta siswa membutuhkan pengalaman belajar yang lebih dari sekadar memahami teori sains.
Siswa perlu mendapatkan kesempatan untuk memahami bagaimana sebuah pengetahuan dibangun, menyusun pertanyaan penelitian, menguji gagasan, hingga mencari solusi terhadap persoalan berdasarkan bukti.
Karena itu, keberadaan laboratorium dapat menjadi salah satu ruang untuk membangun pengalaman belajar tersebut.
Laboratorium STEM dapat digunakan untuk menghubungkan materi pembelajaran dengan kegiatan penelitian dan penyelesaian masalah secara langsung.
Antusiasme Guru Tinggi, Keterampilan Teknis Masih Terbatas
Persoalan lain yang ditemukan BRIN berkaitan dengan kesiapan guru.
Hasil survei yang dilakukan di lima provinsi menunjukkan adanya kesenjangan keterampilan atau skills gap dalam penerapan STEM.
Wilayah yang menjadi lokasi survei meliputi Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.
Menurut Suharman, para guru secara umum menunjukkan persepsi positif dan antusiasme terhadap pembelajaran STEM. Namun, sebagian besar guru masih merasa kemampuan teknis mereka belum cukup untuk menerapkan pendekatan tersebut secara optimal di kelas.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan laboratorium saja belum cukup. Infrastruktur perlu diikuti dengan penguatan kapasitas tenaga pendidik.
BRIN Siapkan Kerangka Ekosistem Inovasi
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, BRIN mengusulkan STEM Innovation Ecosystem Laboratory Governance Framework.
Kerangka ini dirancang dengan enam komponen utama, yaitu:
1. Tata kelola dan kepemimpinan
2. Penelitian dan pengembangan solusi inovatif
3. Pembelajaran berbasis inkuiri, proyek, dan desain
4. Kemitraan multisektor
5. Peningkatan profesionalisme guru
6. Diseminasi praktik baik
Keenam komponen tersebut dirancang agar fungsi laboratorium tidak berdiri sendiri.
Hasil penelitian dan inovasi yang dikembangkan di laboratorium, misalnya, dapat digunakan kembali dalam pembelajaran dan dibagikan kepada sekolah atau pihak lain.
Sekolah, Kampus, dan Industri Bisa Terlibat
Salah satu unsur yang ditekankan dalam kerangka tersebut adalah kolaborasi multisektor.
Sekolah dapat membangun kerja sama dengan perguruan tinggi maupun dunia industri untuk memperluas pengalaman siswa dan guru.
Kolaborasi tersebut dapat memberikan akses terhadap pengetahuan, teknologi, maupun pengalaman praktis yang tidak selalu tersedia di lingkungan sekolah.
Sementara itu, hasil praktik dan inovasi yang telah dikembangkan dapat didokumentasikan dan disebarluaskan agar manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh satu sekolah.
Model Dikaji di Lima Sekolah
BRIN juga melakukan kajian di lima sekolah dengan karakteristik yang berbeda.
Salah satunya adalah SMA Unggul Garuda Timor di Nusa Tenggara Timur, yang digunakan untuk melihat tantangan pengelolaan laboratorium di wilayah 3T.
BRIN juga mengkaji MAN Insan Cendekia Gorontalo untuk melihat pengelolaan pendidikan yang melibatkan lintas kementerian.
Sementara itu, SMA Del di Sumatera Utara menjadi lokasi kajian untuk mempelajari pola kemitraan yang berbasis yayasan dan sektor swasta.
Dua sekolah lain yang menjadi bagian dari kajian adalah SMAN Unggulan MH Thamrin Jakarta dan SMA Taruna Nusantara. Keduanya digunakan untuk melihat karakteristik pengelolaan sekolah negeri dengan model yang berbeda.
Keragaman sekolah tersebut menjadi bahan bagi BRIN untuk melihat bagaimana model tata kelola laboratorium STEM dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.
Guru Jadi Kunci Keberlanjutan Lab STEM
Dalam model yang sedang dirancang, guru menjadi salah satu unsur penting.
Peningkatan kapasitas guru tidak hanya diarahkan pada kemampuan mengoperasikan peralatan laboratorium. Guru juga perlu mampu merancang pembelajaran berbasis penelitian, proyek, eksperimen, dan pemecahan masalah.
Dengan demikian, laboratorium tidak berhenti sebagai fasilitas fisik yang digunakan ketika praktikum berlangsung.
Lab STEM Diharapkan Jadi Pusat Pembelajaran dan Inovasi
Melalui kajian tersebut, BRIN ingin menghasilkan rekomendasi tata kelola laboratorium STEM yang dapat menyesuaikan karakteristik setiap sekolah.
Konsep yang dikembangkan menempatkan laboratorium sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang lebih luas.
Jika diterapkan secara tepat, laboratorium dapat menjadi ruang yang mempertemukan pembelajaran siswa, pengembangan kompetensi guru, penelitian, inovasi, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi dan industri.
Dengan pendekatan tersebut, keberadaan laboratorium STEM tidak hanya diukur dari kelengkapan fasilitasnya, tetapi juga dari bagaimana ruang tersebut digunakan untuk menghasilkan pengalaman belajar dan inovasi di sekolah. (RAF)







