PrakarsaWarga.Com – Hashim Djojohadikusumo optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai 8%. Keyakinan tersebut didasarkan pada potensi sejumlah program pemerintah yang dinilai dapat mendorong aktivitas ekonomi nasional, terutama di sektor perumahan, digitalisasi, dan ketahanan pangan.
Board of Advisors Prasasti tersebut menyampaikan optimismenya dalam Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 yang berlangsung di The Ritz-Carlton Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Menurut Hashim, target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% memang cukup ambisius. Namun, ia menilai angka tersebut bukan hal yang mustahil jika berbagai program strategis pemerintah dapat berjalan secara optimal.
“Saya sangat optimistis dengan prospek kita. Pertumbuhan 8% memang ambisius. Saya rasa itu bisa dicapai,” kata Hashim dalam forum tersebut.
1. Sektor Perumahan Bisa Menggerakkan Banyak Industri
Hashim menilai pembangunan perumahan dapat menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sektor ini memiliki keterkaitan dengan berbagai industri sehingga dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan konstruksi.
Ia mencontohkan pengalaman China yang pernah mencatatkan pertumbuhan ekonomi di atas 10% selama puluhan tahun. Menurutnya, pembangunan konstruksi dan perumahan turut berperan dalam menggerakkan perekonomian negara tersebut.
Hashim menyebut sektor konstruksi dan perumahan memiliki keterkaitan dengan sekitar 185 kegiatan ekonomi lainnya. Beberapa di antaranya adalah industri semen, furnitur, kayu, dan kabel listrik.
Artinya, peningkatan pembangunan rumah berpotensi mendorong permintaan bahan bangunan, membuka peluang usaha, serta menciptakan lapangan kerja di berbagai sektor pendukung.
Dengan efek berantai tersebut, program pembangunan perumahan dinilai dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan aktivitas industri dalam negeri.
2. Internet Terjangkau untuk Mendorong Ekonomi Digital
Selain perumahan, Hashim menyoroti pentingnya pemerataan akses internet bagi masyarakat. Ia menilai konektivitas digital yang lebih luas dapat membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru.
Hashim mengungkapkan sejumlah studi menunjukkan bahwa peningkatan 10% jumlah penduduk yang memiliki akses internet secara konsisten berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 0,7% hingga 1,3% per tahun.
Meski demikian, biaya internet yang masih relatif mahal menjadi salah satu tantangan yang perlu diatasi.
Menurut Hashim, akses internet yang lebih terjangkau dapat membantu masyarakat memanfaatkan teknologi untuk kegiatan produktif. Dampaknya juga berpotensi dirasakan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dengan dukungan konektivitas yang memadai, UMKM dapat memperluas pemasaran melalui platform digital, menjangkau konsumen baru, dan meningkatkan efisiensi operasional.
Pemerataan internet pun dinilai penting agar manfaat ekonomi digital tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar, tetapi juga menjangkau wilayah lain di Indonesia.
3. Swasembada Pangan untuk Mengurangi Impor
Program ketiga yang menjadi perhatian Hashim adalah penguatan ketahanan pangan melalui peningkatan produksi dalam negeri.
Ia menyoroti capaian swasembada beras yang menurutnya berhasil diraih tiga tahun lebih cepat dari target. Hashim juga menyebut Indonesia kembali mengekspor beras setelah sekitar 42 tahun.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, stok beras Indonesia mencapai 5,3 juta ton pada pekan sebelumnya.
“Stok beras 5,3 juta ton berdasarkan informasi yang saya terima pekan lalu. Dan sekarang Indonesia mengekspor beras untuk pertama kali dalam 42 tahun,” ujar Hashim.
Selain beras, ia memperkirakan Indonesia berpeluang mencapai swasembada kedelai dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Saat ini, kebutuhan kedelai nasional masih banyak dipenuhi melalui impor.
Peningkatan produksi pangan domestik diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri. Selain memperkuat ketahanan pangan, langkah tersebut berpotensi menekan kebutuhan devisa untuk impor dan meningkatkan pendapatan petani.
Target Pertumbuhan Ekonomi 8% Butuh Dukungan Berbagai Sektor
Hashim meyakini kombinasi pembangunan perumahan, perluasan akses internet, dan peningkatan produksi pangan dapat memperkuat fondasi ekonomi Indonesia.
Ketiga sektor tersebut memiliki peran berbeda, tetapi saling mendukung. Pembangunan perumahan dapat menggerakkan industri dan lapangan kerja, akses internet memperluas peluang ekonomi digital, sedangkan swasembada pangan berpotensi mengurangi ketergantungan impor.
Meski demikian, pencapaian pertumbuhan ekonomi 8% tetap membutuhkan pelaksanaan program yang konsisten, investasi yang produktif, peningkatan daya beli masyarakat, serta penciptaan lapangan kerja.
Optimisme Hashim menjadi gambaran potensi ekonomi Indonesia ke depan. Namun, realisasi target tersebut akan sangat bergantung pada efektivitas kebijakan pemerintah dan kemampuan berbagai sektor dalam menjaga pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.







