Dari Kumuh Jadi Inovatif, RT 11 Gandaria Utara Sulap Sampah Jadi Berkah

PrakarsaWarga.Com – Berawal dari lingkungan yang kerap dijadikan tempat pembuangan sampah, RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kini bertransformasi menjadi kawasan yang lebih bersih, aman, dan inovatif. Berbagai program berbasis teknologi dan gotong royong warga menjadi kunci perubahan lingkungan tersebut.

Perubahan mulai terlihat sejak Imam Basori (43), yang akrab disapa Pak Ibas, menjabat sebagai Ketua RT pada 2019. Salah satu langkah awalnya adalah membenahi lapangan yang sebelumnya dipenuhi sampah dan sering dimanfaatkan oleh warga luar untuk membuang sampah sembarangan.

Arif Wicaksono (23), anggota karang taruna RT 11, menceritakan bahwa kondisi tersebut sempat membuat warga merasa tidak nyaman. Bersama pengurus RT dan masyarakat, Ibas kemudian mengajak warga bergotong royong membersihkan area tersebut hingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan positif.

Kini, kawasan itu tidak hanya menjadi tempat berkumpul warga, tetapi juga ruang untuk menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat.

Empat Pilar Perubahan Lingkungan

Dalam membangun lingkungan yang lebih baik, Ibas menetapkan empat fokus utama, yakni keamanan, lingkungan, pendidikan, dan ekonomi. Keempatnya menjadi dasar pengembangan berbagai inovasi di wilayah RT 11.

Dari sisi keamanan, warga telah memanfaatkan sejumlah teknologi, seperti E-Gate 11, kamera CCTV, layanan komunikasi Si Jaga Warga, dan Panic Button. Program tersebut bertujuan mendukung keamanan sekaligus mempermudah komunikasi antarwarga.

Di bidang pendidikan, warga dari berbagai kelompok usia juga mendapat kesempatan belajar bahasa Inggris. Pengurus RT menghadirkan tenaga pengajar dari Kampung Inggris, Pare, Kediri, agar anak-anak hingga lansia memiliki kemampuan dasar berkomunikasi dalam bahasa asing.

Sementara itu, persoalan sampah menjadi salah satu tantangan lingkungan yang mendorong lahirnya inovasi baru.

Komling, Cara Kreatif Mengatasi Sampah

Keterbatasan lahan membuat pengurus RT kesulitan menerapkan metode pengolahan sampah organik menggunakan lubang kompos berukuran besar. Selain membutuhkan ruang, metode tersebut juga berpotensi menimbulkan keluhan apabila penempatannya terlalu dekat dengan rumah warga.

Dari hasil diskusi dan identifikasi masalah, lahirlah program Komling atau Komposter Keliling. Program ini menggunakan kendaraan menyerupai sepeda listrik untuk mendatangi warga dan mengumpulkan sampah organik secara rutin.

Melalui sistem jemput bola, warga tidak perlu membawa sampah organik ke satu tempat pengumpulan. Mereka juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya memisahkan sampah berdasarkan jenisnya.

Saat beroperasi setiap sore, Komling dilengkapi jingle sebagai penanda bagi warga untuk menyerahkan sampah organik yang telah dipilah. Dalam satu kali pengumpulan, jumlah sampah organik yang terkumpul dapat mencapai sekitar 10 kilogram.

Sampah tersebut kemudian diolah menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman warga. Hasil pengolahan juga mendukung kegiatan budidaya ikan lele, nila, dan bawal di lingkungan setempat.

Edukasi Sampah Lewat Permainan

Agar kebiasaan memilah sampah lebih mudah dipahami, pengurus RT 11 tidak hanya mengandalkan sosialisasi formal. Mereka juga menghadirkan kegiatan edukatif yang melibatkan anak-anak dan masyarakat.

Salah satunya adalah lomba battle pilah sampah saat perayaan 17 Agustus. Melalui permainan tersebut, peserta belajar mengenali perbedaan sampah organik, anorganik, serta sampah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Ada pula kegiatan Detektif Lingkungan dan lomba membuat jingle. Pendekatan yang menyenangkan ini diharapkan mampu membangun kebiasaan menjaga kebersihan sejak usia dini.

Menurut Ibas, edukasi menjadi bagian penting dari pengelolaan sampah. Teknologi saja tidak cukup apabila masyarakat belum memahami cara memilah dan mengolah sampah dengan benar.

Mesin Komposter dan Sampah Geprek

Selain Komling, RT 11 memiliki mesin Koma atau komposter mandiri untuk mendukung pengolahan sampah. Terdapat pula alat yang disebut sampah geprek, yang berfungsi memipihkan botol agar lebih mudah ditangani dalam proses daur ulang.

Botol yang telah dipipihkan selanjutnya dapat dijual kepada pengepul. Hasil penjualannya dimanfaatkan kembali untuk mendukung pembangunan dan kebutuhan lingkungan RT.

Sementara itu, hasil kompos dan berbagai hasil budidaya dibagikan kepada warga yang membutuhkan. Sistem ini mendorong masyarakat untuk ikut merasakan manfaat dari pengelolaan sampah secara bersama-sama.

Gotong Royong dan Teknologi Jadi Kunci

Transformasi RT 11 Gandaria Utara menunjukkan bahwa persoalan sampah dapat ditangani melalui perpaduan inovasi teknologi, edukasi, dan partisipasi masyarakat.

Dari area yang sebelumnya menjadi tempat pembuangan sampah, lingkungan tersebut berkembang menjadi ruang pemberdayaan warga yang mengintegrasikan kebersihan, keamanan, pendidikan, dan ekonomi.

Inisiatif Komling juga memperlihatkan pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya. Dengan memilah sampah sejak rumah tangga, masyarakat dapat membantu mengurangi beban pengelolaan sampah sekaligus menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Pengalaman RT 11 menjadi contoh bahwa perubahan lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan proyek besar. Kepedulian warga, kepemimpinan yang aktif, serta solusi yang sesuai dengan kebutuhan setempat dapat menjadi langkah awal menuju lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

 

 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

PHK di Jawa Timur Tembus 6.154 Orang, Pakar Ingatkan Ancaman Daya Beli

PHK di Jawa Timur Tembus 6.154 Orang, Pakar Ingatkan Ancaman Daya Beli

Industri Event Indonesia Siapkan Kalkulator Ekonomi untuk Ukur Dampak Pariwisata

Industri Event Indonesia Siapkan Kalkulator Ekonomi untuk Ukur Dampak Pariwisata

Dituduh Palak Pengendara, Pria Dikeroyok hingga Tangan Kanan Patah

Dituduh Palak Pengendara, Pria Dikeroyok hingga Tangan Kanan Patah

Wanita 25 Tahun di Palembang Jadi Korban Penganiayaan, Luka Sayatan Ditemukan di Leher dan Lengan

Wanita 25 Tahun di Palembang Jadi Korban Penganiayaan, Luka Sayatan Ditemukan di Leher dan Lengan

Dari Kumuh Jadi Inovatif, RT 11 Gandaria Utara Sulap Sampah Jadi Berkah

Dari Kumuh Jadi Inovatif, RT 11 Gandaria Utara Sulap Sampah Jadi Berkah

Windah Basudara Diserang Buzzer Usai Soroti Karhutla Sumatera dan Kalimantan

Windah Basudara Diserang Buzzer Usai Soroti Karhutla Sumatera dan Kalimantan