BPOM Siaga Hadapi Penutupan Selat Hormuz, Pasokan Bahan Baku Obat Indonesia Jadi Sorotan

PrakarsaWarga.Com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI memastikan terus memantau dampak penutupan kembali Selat Hormuz terhadap rantai pasok bahan baku obat yang masih bergantung pada impor. Langkah antisipasi disiapkan agar kebutuhan obat nasional tetap aman di tengah ketidakpastian situasi geopolitik.

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, mengatakan sekitar 90 persen bahan baku obat di Indonesia masih berasal dari luar negeri. Bahan tersebut meliputi bahan baku mentah, bahan antara, hingga produk jadi yang kemudian dikemas kembali di dalam negeri.

Menurut Taruna, ketersediaan obat merupakan bagian penting dari ketahanan nasional. Karena itu, pemerintah tidak ingin gangguan distribusi global menyebabkan kelangkaan obat di dalam negeri.

Sebagai langkah pencegahan, BPOM telah menyiapkan berbagai kebijakan, termasuk memberikan kemudahan kepada industri farmasi untuk melakukan peralihan sumber pasokan (switching supply chain) apabila jalur distribusi utama mengalami hambatan.

Selain bahan baku obat, BPOM juga mewaspadai potensi gangguan terhadap pasokan bahan kemasan farmasi. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, BPOM bekerja sama dengan Gabungan Pengusaha Farmasi guna memastikan industri tetap dapat beroperasi secara optimal meski terjadi kendala logistik internasional.

Taruna menjelaskan bahwa situasi di Selat Hormuz yang kembali memanas menjadi perhatian serius karena jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan penting dunia. Oleh sebab itu, koordinasi antara pemerintah dan pelaku industri terus diperkuat agar distribusi bahan baku tetap berjalan.

Di sisi lain, BPOM menilai industri kosmetik nasional relatif lebih aman dari dampak penutupan Selat Hormuz. Pasalnya, sebagian besar bahan baku kosmetik di Indonesia berasal dari kekayaan biodiversitas serta sumber daya mineral dalam negeri, sehingga ketergantungan terhadap impor jauh lebih rendah dibandingkan industri farmasi.

Sebelumnya, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan. Kebijakan tersebut diambil setelah sebuah kapal yang disebut mengabaikan instruksi pelayaran dihentikan melalui tembakan peringatan.

IRGC menyatakan masih terdapat kapal yang melintasi jalur yang tidak diizinkan meski telah mendapat peringatan untuk beralih ke rute resmi. Bahkan, salah satu kapal disebut mematikan sistem operasinya sehingga dinilai membahayakan keselamatan dan keamanan pelayaran di kawasan tersebut.

Perkembangan situasi di Selat Hormuz kini menjadi perhatian banyak negara, termasuk Indonesia, mengingat jalur tersebut memiliki peran strategis dalam perdagangan internasional dan distribusi berbagai komoditas penting, termasuk bahan baku industri farmasi.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Pemerintah Targetkan Produksi Tabung CNG 3 Kg Dimulai Juli 2026, Siapkan Alternatif LPG Subsidi

Pemerintah Targetkan Produksi Tabung CNG 3 Kg Dimulai Juli 2026, Siapkan Alternatif LPG Subsidi

Daftar 9 Provinsi yang Berlakukan Pemutihan Pajak Kendaraan Juli 2026, Cek Apakah Daerah Anda Termasuk

Daftar 9 Provinsi yang Berlakukan Pemutihan Pajak Kendaraan Juli 2026, Cek Apakah Daerah Anda Termasuk

Pemerintah Putuskan Tarif Listrik Tetap hingga September 2026, Bahlil: Demi Jaga Daya Beli Masyarakat

Pemerintah Putuskan Tarif Listrik Tetap hingga September 2026, Bahlil: Demi Jaga Daya Beli Masyarakat

Transformasi BUMN Berlanjut, Pemerintah Pangkas 240 Entitas hingga Juli 2026

Transformasi BUMN Berlanjut, Pemerintah Pangkas 240 Entitas hingga Juli 2026

Prabowo Siap Luncurkan Biodiesel B50, Berlaku Nasional Mulai 1 Juli 2026

Prabowo Siap Luncurkan Biodiesel B50, Berlaku Nasional Mulai 1 Juli 2026

Gatal Tak Kunjung Hilang, Pria Lansia Ini Ternyata Mengidap Sifilis Langka yang Menyerang Saraf

Gatal Tak Kunjung Hilang, Pria Lansia Ini Ternyata Mengidap Sifilis Langka yang Menyerang Saraf