PrakarsaWargacom – Rencana kerja sama Indonesia dan China dalam pembangunan rumah susun (rusun) membuka peluang baru bagi sektor properti nasional. Investasi asing tersebut dinilai dapat memperkuat pembiayaan proyek perumahan, mempercepat pembangunan, serta menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.
Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) telah menjajaki kerja sama dengan pemerintah China untuk mendatangkan calon investor dari negara tersebut. Menteri PKP Maruarar Sirait atau Ara menyebutkan, pemerintah telah memetakan 10 titik lahan yang berpotensi ditawarkan sebagai lokasi pembangunan rusun.
Meski demikian, lokasi dan konsep pembangunan masih dalam tahap pembahasan. Rusun yang direncanakan dapat menyasar segmen kelas menengah, masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), maupun menggabungkan hunian dengan area komersial.
Investasi China Berpotensi Perkuat Pembiayaan Properti
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menilai masuknya investor China dapat membantu pemerintah memenuhi kebutuhan pembiayaan pembangunan perumahan.
Menurut Ferry, kehadiran modal asing juga berpotensi memberikan kepastian pelaksanaan proyek dan mempercepat proses pembangunan. Investor yang telah mengeluarkan dana besar tentu memiliki kepentingan agar proyek berjalan sesuai rencana.
Selain aspek pembiayaan, kerja sama ini berpeluang mendorong transfer teknologi dan pengetahuan kepada kontraktor serta pengembang lokal.
Ferry menjelaskan, kolaborasi dengan investor asing dapat menjadi kesempatan bagi pelaku usaha dalam negeri untuk meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas bangunan, dan mengoptimalkan efisiensi pembangunan.
Pengembang Lokal Tetap Memiliki Ruang untuk Berkembang
Ferry menilai kehadiran perusahaan China dalam proyek rusun tidak serta-merta menjadikan mereka pesaing langsung pengembang lokal.
Menurutnya, perusahaan China sebenarnya telah lama terlibat dalam sektor properti dan konstruksi di Indonesia. Dalam sejumlah proyek, keterlibatan tersebut berlangsung melalui kerja sama dengan pengembang dalam negeri.
Ia menambahkan, pengembang lokal masih memiliki kontribusi yang besar dalam pembangunan hunian di Indonesia. Karena itu, kerja sama baru ini berpotensi menjadi bentuk kolaborasi, bukan sekadar persaingan bisnis.
Keterlibatan Perusahaan Lokal Jadi Perhatian
Pengamat properti sekaligus Direktur PT Global Asset Management, Steve Sudijanto, juga memandang rencana investasi tersebut sebagai peluang positif. Namun, ia menekankan pentingnya memastikan keterlibatan pelaku industri lokal dalam proyek pembangunan rusun.
Steve berharap setidaknya 70 persen pihak yang terlibat dalam proyek berasal dari dalam negeri. Menurutnya, hal ini penting agar manfaat investasi asing dapat dirasakan lebih luas oleh industri dan tenaga kerja Indonesia.
Ia juga menyoroti besarnya dana yang dibawa investor sebagai salah satu faktor yang menentukan dampak proyek terhadap perekonomian.
Steve menyebut investasi minimal US$500 juta atau sekitar Rp8,8 triliun berdasarkan kurs Rp17.751 per dolar AS. Menurutnya, modal yang besar dapat mendukung kelancaran proyek sekaligus mendorong aktivitas ekonomi di sektor konstruksi dan industri turunannya.
China Dinilai Tidak Otomatis Mengancam Pasar Properti Lokal
Keterlibatan China dalam industri properti Indonesia bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Sebelumnya, investor dari sejumlah negara, seperti Jepang, Singapura, dan Australia, juga telah berpartisipasi dalam sektor konstruksi dan perumahan nasional.
Steve menilai Indonesia masih memiliki ruang pengembangan properti yang luas. Besarnya kebutuhan hunian, ditambah potensi pasar dari kelompok milenial serta generasi Z, menjadi salah satu faktor yang membuat sektor ini tetap menarik bagi investor.
Meski demikian, dampak investasi terhadap persaingan usaha akan bergantung pada bentuk proyek, skema kerja sama, serta peran masing-masing pihak dalam pembangunan dan pemasaran hunian.
Kepastian Status Tanah Menjadi Syarat Penting
Di sisi lain, Direktur Jenderal Tata Kelola dan Pengendalian Risiko Kementerian PKP, H. Roberia, mengungkapkan bahwa status kepemilikan tanah menjadi salah satu perhatian calon investor China.
Menurutnya, investor perlu mengetahui secara jelas pihak yang memiliki lahan yang akan digunakan untuk proyek. Kejelasan status tanah menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko ketika perusahaan menanamkan modal dalam jumlah besar.
Pemerintah masih melakukan pembahasan terkait aspek tersebut, termasuk pelaporan kepada Menteri PKP.
Pembangunan Rusun Diharapkan Bantu Kurangi Backlog Hunian
Rencana pembangunan rusun bersama China juga berkaitan dengan kebutuhan perumahan di Indonesia yang masih tinggi.
Berdasarkan data BPS yang disebutkan dalam pemberitaan, backlog perumahan mencapai 9,29 juta rumah tangga atau sekitar 12,39 persen secara nasional. Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan terhadap pembangunan hunian yang lebih luas dan terjangkau.
Menteri PKP Maruarar Sirait menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan penanaman modal asing (PMA) atau foreign direct investment (FDI), terutama dalam sektor perumahan. Selain mendukung penyediaan hunian, pembangunan tersebut diharapkan menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar.
Ara menyebut sektor perumahan memiliki banyak industri turunan yang terlibat, sehingga dampak investasinya berpotensi meluas ke berbagai bidang usaha.
Kesimpulan: Rencana investasi China dalam pembangunan rusun di Indonesia berpotensi memberikan dampak pada pembiayaan, percepatan proyek, penyerapan tenaga kerja, serta pengembangan teknologi konstruksi. Namun, realisasi manfaat tersebut tetap bergantung pada kepastian lahan, besaran investasi, konsep hunian, dan keterlibatan pelaku usaha lokal.







