PrakarsaWarga.Com – Video yang memperlihatkan tiga siswi SMP ditampar seorang perempuan viral di media sosial. Polisi memastikan peristiwa tersebut terjadi di Kota Bogor dan melibatkan alumni sekolah korban.
Kasus tersebut terjadi pada Selasa, 11 Agustus 2026, sekitar pukul 15.30 WIB. Lokasi kejadian berada di kawasan permukiman yang tidak jauh dari sekolah para korban.
Dalam video yang beredar, tiga siswi berseragam Pramuka terlihat berada di sebuah jalan kecil di antara rumah warga. Mereka kemudian didatangi sejumlah perempuan, salah satunya mengenakan kaus hitam dan rok abu-abu.
Ketiga siswi tersebut terlihat ditanyai sebelum akhirnya mendapatkan tamparan secara bergantian. Aksi kekerasan itu dilakukan lebih dari satu kali.
Sejumlah pelajar laki-laki juga terlihat berada di sekitar lokasi. Polisi kemudian melakukan penyelidikan setelah video tersebut ramai diperbincangkan di media sosial.
Polisi Langsung Turun Tangan
Kapolsek Bogor Tengah Kompol Waluyo membenarkan bahwa kejadian dalam video berlangsung di wilayah hukumnya.
Polisi melakukan penyelidikan dengan mendatangi lokasi dan meminta keterangan dari pihak-pihak terkait.
Identitas sejumlah orang yang terlihat dalam video juga telah diketahui. Polisi selanjutnya melakukan klarifikasi untuk mengetahui kronologi lengkap kejadian.
Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa tiga korban merupakan siswi salah satu SMP negeri di Kota Bogor. Sementara itu, tiga perempuan yang melakukan kekerasan diketahui merupakan alumni sekolah tempat korban belajar.
Pelaku dan Korban Disebut Tidak Saling Kenal
Kanit Reskrim Polsek Bogor Tengah Ipda Budi Setiawan mengatakan pihaknya telah melakukan klarifikasi kepada pihak sekolah.
Dari keterangan yang diperoleh, pelaku dan korban ternyata tidak memiliki hubungan pertemanan dekat.
Staf Bagian SMP Dinas Pendidikan Kota Bogor, Ade Siswanto, menyebut laki-laki yang terlihat dalam video merupakan teman dari para pelaku. Mereka juga disebut masih berstatus alumni.
“Pelaku dan korban tidak kenal,” ujar Ade.
Menurutnya, pertemuan tersebut awalnya berkaitan dengan persoalan pribadi antara pelaku dan korban.
Berawal dari Rumor soal Kos
Polisi mengungkap aksi kekerasan tersebut dipicu rumor mengenai tempat kos salah satu pelaku.
Pelaku disebut mendapat informasi bahwa dirinya menjadi bahan pembicaraan. Rumor tersebut berkaitan dengan dugaan adanya teman laki-laki yang sering datang dan berkumpul di tempat kos hingga larut malam.
Merasa tidak terima dengan kabar tersebut, pelaku kemudian mendatangi korban untuk meminta klarifikasi.
Namun, upaya menyelesaikan persoalan secara langsung justru berujung pada tindakan kekerasan terhadap tiga siswi SMP tersebut.
Menurut Ade Siswanto, persoalan awalnya berkaitan dengan rumor mengenai kehidupan pribadi pelaku.
“Intinya minta klarifikasi terkait rumor tadi, sampai akhirnya ada pemukulan,” kata Ade.
Polisi menyebut informasi yang menjadi pemicu pertengkaran tersebut sebelumnya tidak diklarifikasi secara langsung sehingga berkembang menjadi konflik.
Berakhir dengan Perdamaian
Meski sempat viral di media sosial, kasus penamparan tersebut akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan.
Pihak keluarga korban dan pelaku telah melakukan mediasi. Karena seluruh pihak yang terlibat masih berusia anak atau berkaitan dengan anak, keluarga memilih menyelesaikan persoalan tanpa membawa kasus tersebut ke proses hukum lebih lanjut.
Dalam kesepakatan tersebut, pihak pelaku berjanji tidak mengulangi tindakan kekerasan.
Polisi juga telah menyampaikan hasil mediasi kepada pihak sekolah. Namun, video kejadian yang sebelumnya direkam kemudian menyebar luas di media sosial dan menjadi perhatian publik.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa persoalan pribadi maupun rumor di kalangan pelajar perlu diselesaikan melalui komunikasi dan klarifikasi, bukan dengan tindakan kekerasan. Pendampingan dari keluarga, sekolah, serta lingkungan sekitar juga diperlukan agar konflik serupa tidak kembali terjadi.








