PrakarsaWarga.Com – Sektor batu bara kembali menunjukkan peran penting sebagai penyumbang devisa bagi Indonesia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa nilai devisa dari ekspor batu bara telah mencapai sekitar US$14 miliar hingga US$15 miliar, atau setara Rp250 triliun hingga Rp268 triliun.
Menurut Bahlil, capaian tersebut mencerminkan membaiknya kinerja perdagangan batu bara Indonesia di tengah kondisi ekonomi global yang masih menghadapi berbagai tantangan. Pemerintah dinilai berhasil menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan sehingga harga batu bara tetap kompetitif di pasar internasional.
Ia menjelaskan, strategi pengelolaan supply dan demand menjadi salah satu faktor utama yang mendukung stabilitas harga komoditas. Dengan kondisi pasar yang lebih seimbang, ekspor batu bara mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan devisa negara.
Bahlil juga menyampaikan bahwa perkembangan positif tersebut telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto sebagai bagian dari evaluasi kinerja sektor energi dan pertambangan nasional.
Selain memberikan kontribusi terhadap devisa, sektor batu bara juga berperan besar dalam meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Hingga semester pertama tahun 2026, realisasi PNBP dari sektor batu bara telah melampaui 60 persen dari target tahunan.
Pencapaian ini menjadi sinyal positif bagi industri pertambangan nasional. Di tengah fluktuasi pasar komoditas dunia, sektor batu bara masih menjadi salah satu penopang penting bagi pertumbuhan ekonomi, penerimaan negara, serta stabilitas sektor energi Indonesia.
Pemerintah berharap tren positif tersebut dapat terus dipertahankan melalui kebijakan yang menjaga keseimbangan pasar, meningkatkan nilai tambah komoditas, serta memperkuat daya saing ekspor Indonesia di pasar global.









