PrakarsaWarga.com— Radang usus buntu atau apendisitis selama ini identik dengan operasi. Namun, tidak semua kasus harus langsung berakhir di meja bedah. Pada kondisi tertentu, pengobatan menggunakan antibiotik dapat dipertimbangkan sebagai alternatif, terutama jika radang belum menimbulkan komplikasi.
Spesialis penyakit dalam dr Vardian Mahardika, M.Biomed, SpPD, AIFO-K dari Siloam Hospitals menjelaskan bahwa apendisitis secara umum terbagi menjadi dua kondisi, yakni uncomplicated appendicitis dan complicated appendicitis.
Pada apendisitis tanpa komplikasi, apendiks mengalami peradangan tetapi belum pecah dan belum membentuk abses. Dalam kondisi tertentu, pasien yang memenuhi kriteria dapat menjalani terapi antibiotik tanpa operasi.
Meski demikian, pilihan tersebut tetap memiliki risiko. Salah satunya adalah kemungkinan radang usus buntu kembali kambuh sehingga pasien pada akhirnya tetap membutuhkan operasi.
“Kalau uncomplicated, artinya meradang tapi belum pecah atau membentuk abses. Pada pasien terpilih, antibiotik tanpa operasi ini bisa menjadi pilihan. Tetapi tetap ada risiko untuk kambuh dan suatu saat membutuhkan operasi,” jelas dr Dika.
Sementara itu, apendisitis dengan komplikasi membutuhkan penanganan yang berbeda. Kondisi ini dapat terjadi ketika usus buntu mengalami perforasi atau pecah, membentuk abses, maupun ketika infeksi mulai menyebar ke jaringan di sekitarnya.
Dalam situasi tersebut, tindakan medis perlu dilakukan lebih agresif. Operasi pengangkatan usus buntu, khususnya melalui metode laparoskopi, masih menjadi salah satu standar terapi bedah.
Diagnosis Tidak Cukup dari Satu Pemeriksaan
Untuk memastikan adanya radang usus buntu, dokter dapat menggunakan berbagai pemeriksaan, termasuk pemeriksaan pencitraan seperti USG atau CT scan.
Pada CT scan, salah satu gambaran yang dapat mendukung diagnosis apendisitis adalah target sign atau doughnut sign, yaitu tampilan berbentuk lingkaran berlapis yang menyerupai donat.
Menurut dr Dika, apendiks yang normal biasanya berbentuk seperti tabung kecil, dindingnya tidak menebal, dapat mengalami kompresi, dan diameter luarnya umumnya tidak lebih dari sekitar 6 milimeter.
Namun, satu temuan pemeriksaan tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk memastikan diagnosis. Dokter perlu menggabungkan hasil pemeriksaan fisik, gejala, pemeriksaan penunjang, dan kondisi pasien secara keseluruhan.
Jadi, Bisakah Usus Buntu Sembuh Tanpa Operasi?
Jawabannya bisa pada pasien tertentu, tetapi bukan berarti semua penderita usus buntu dapat menghindari operasi. Terapi antibiotik perlu diputuskan berdasarkan jenis apendisitis dan hasil evaluasi dokter.
Karena itu, seseorang yang mengalami gejala yang mengarah pada radang usus buntu sebaiknya tidak mencoba mengobati sendiri. Pemeriksaan medis diperlukan untuk menentukan apakah kondisi tersebut masih memungkinkan ditangani dengan obat atau justru membutuhkan tindakan operasi.








