
PrakasaWarga.Com — Penguatan rupiah dalam beberapa tahun ke depan dinilai bukan perkara mudah. Besarnya pasar domestik Indonesia ternyata belum cukup menjadi fondasi yang kuat untuk menjaga nilai tukar rupiah agar terus menguat.
Ekonom senior Didik J Rachbini menilai Bank Indonesia (BI) masih menghadapi tantangan struktural yang cukup berat dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Pandangan tersebut disampaikan menyusul persetujuan Komisi XI DPR RI terhadap Destry Damayanti sebagai Gubernur BI yang baru.
Destry nantinya menggantikan Perry Warjiyo dan akan memimpin bank sentral untuk periode lima tahun ke depan setelah resmi dilantik.
Menurut Didik, pergantian pucuk pimpinan BI tidak serta-merta mampu mengubah persoalan mendasar yang selama ini membebani rupiah. Faktor eksternal maupun kondisi struktural ekonomi domestik dinilai masih menjadi tantangan utama.
Pasar Domestik Besar Belum Cukup
Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar, kelas menengah yang luas, serta aktivitas ekonomi domestik yang kuat. Kondisi tersebut memang mampu menopang pertumbuhan ekonomi.
Namun, besarnya konsumsi dalam negeri belum otomatis menghasilkan pasokan devisa yang cukup untuk memperkuat rupiah.
Didik menilai persoalan utama berada pada lemahnya sektor eksternal Indonesia. Aktivitas ekonomi yang terlalu berorientasi pada pasar domestik membuat pemasukan devisa tidak sebanding dengan kebutuhan dolar AS untuk berbagai transaksi internasional.
Indonesia membutuhkan dolar AS untuk membayar impor, utang luar negeri, pembelian barang modal hingga bahan baku industri.
Di sisi lain, pasokan devisa sangat bergantung pada ekspor, investasi asing, pariwisata, dan sumber penerimaan dari luar negeri lainnya.
Andalkan Suku Bunga Saja Dinilai Tak Cukup
Selama ini, suku bunga menjadi salah satu instrumen penting BI untuk menjaga stabilitas rupiah. Ketika rupiah mengalami tekanan berat, kenaikan suku bunga dapat dilakukan untuk meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia bagi investor.
Namun, kebijakan tersebut memiliki konsekuensi.
Suku bunga tinggi memang berpotensi menarik modal asing karena investor mendapatkan imbal hasil lebih besar. Akan tetapi, biaya pembiayaan yang tinggi juga dapat menekan dunia usaha, kredit perumahan, serta investasi domestik.
Sebaliknya, jika suku bunga diturunkan untuk mendorong pertumbuhan dan investasi, daya tarik aset berbasis rupiah dapat berkurang. Investor berpotensi memilih aset dalam dolar AS apabila imbal hasilnya dianggap lebih menarik.
Karena itu, Didik menilai penguatan rupiah tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan suku bunga.
Ekspor dan Devisa Jadi Kunci
Salah satu persoalan yang perlu dibenahi adalah kemampuan Indonesia menghasilkan devisa dari sektor eksternal.
Indonesia memang memiliki komoditas unggulan seperti batu bara, minyak kelapa sawit, dan nikel yang menjadi sumber penerimaan ekspor. Namun, ketergantungan pada komoditas membuat penerimaan devisa rentan terhadap perubahan harga global.
Ketika harga komoditas turun, pemasukan devisa dapat ikut tertekan. Pada saat bersamaan, kebutuhan impor barang modal dan bahan baku tetap berjalan.
Kondisi tersebut kemudian dapat meningkatkan tekanan terhadap rupiah.
Didik menilai Indonesia perlu mengubah orientasi ekonomi menjadi lebih berorientasi keluar atau outward looking. Artinya, kegiatan ekonomi tidak hanya bertumpu pada konsumsi masyarakat dalam negeri, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan ekspor barang dan jasa serta memperbesar penerimaan dari luar negeri.
Cadangan Devisa Perlu Diperkuat
Dalam analisisnya, Didik juga menyoroti posisi cadangan devisa Indonesia. Berdasarkan data yang dikutipnya, cadangan devisa Indonesia berada di sekitar US$145,3 miliar pada akhir Juli 2026.
Angka tersebut dinilai belum cukup kuat jika dibandingkan dengan ukuran ekonomi Indonesia dan kebutuhan devisa nasional.
Sebagai perbandingan, cadangan devisa Singapura disebut mencapai sekitar US$426,2 miliar, sedangkan Thailand sekitar US$279,2 miliar. Malaysia tercatat memiliki cadangan devisa sekitar US$132,6 miliar.
Menurut Didik, penguatan cadangan devisa menjadi penting karena dapat memberikan bantalan ketika terjadi tekanan terhadap nilai tukar.
Perbaikan Iklim Investasi Juga Penting
Selain ekspor, investasi asing juga menjadi salah satu sumber devisa yang dibutuhkan untuk memperkuat posisi eksternal Indonesia.
Namun, arus modal asing tidak hanya ditentukan oleh tingkat suku bunga. Kepastian hukum, biaya transaksi, risiko investasi, serta kualitas tata kelola juga menjadi pertimbangan investor.
Jika negara lain menawarkan iklim bisnis yang lebih kompetitif dan tingkat kepastian hukum yang lebih tinggi, investor memiliki pilihan untuk mengalihkan modalnya ke pasar tersebut.
Karena itu, persoalan rupiah tidak sepenuhnya berada di tangan BI.
Perbaikan nilai tukar membutuhkan dukungan kebijakan ekonomi yang lebih luas, mulai dari peningkatan daya saing ekspor, penguatan sektor industri, perbaikan iklim investasi hingga peningkatan penerimaan devisa.
Dengan berbagai persoalan tersebut, Didik memperkirakan BI masih menghadapi pekerjaan berat untuk membuat rupiah lebih stabil dan kuat dalam lima tahun mendatang.
Pergantian gubernur BI dinilai tidak akan cukup apabila persoalan struktural ekonomi dan lemahnya sektor eksternal tidak ikut dibenahi.







