Pulang ke Kampung, Perempuan Batak Ini Sukses Angkat Potensi Kemenyan Lewat Bisnis Digital Shopee

PrakarsaWarga.Com – Di tengah tren generasi muda yang memilih merantau ke kota besar demi mengejar karier, seorang perempuan muda asal Sumatera Utara justru mengambil jalan berbeda. Ia kembali ke kampung halaman, merawat warisan keluarga, sekaligus membangun kemandirian ekonomi melalui teknologi digital.

Sosok tersebut adalah Devi Vebryanti Simanungkalit (25), perempuan asal Desa Situmeang Hasundutan, Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Setelah sebelumnya sempat bekerja di Jakarta, Devi memutuskan pulang untuk mendampingi keluarga dan mengembangkan usaha getah kemenyan yang telah menjadi bagian dari kehidupan keluarganya secara turun-temurun.

Bagi Devi, kembali ke kampung bukan berarti berhenti mengejar kesuksesan. Justru dari tanah kelahirannya, ia menemukan peluang baru dengan memanfaatkan perkembangan teknologi melalui platform digital.

Melalui aplikasi Shopee, Devi memasarkan produk getah kemenyan ke berbagai daerah di Indonesia. Dengan bermodalkan telepon genggam dan koneksi internet, ia mengubah usaha tradisional keluarga menjadi bisnis yang mampu menjangkau pasar lebih luas.

“Getah kemenyan memiliki potensi besar dan nilai ekonomi yang tinggi. Sejak November 2025 saya mulai serius mempromosikannya melalui media sosial. Saya percaya usaha ini bisa berkembang dan memberikan hasil,” ujar Devi kepada detikSumut, Minggu (30/8/2026).

Mengubah Tradisi Keluarga Menjadi Peluang Bisnis Modern

Bagi masyarakat Batak Toba, kemenyan bukan hanya sekadar hasil hutan. Tanaman ini memiliki nilai budaya, sosial, hingga ekonomi yang kuat. Sejak lama, getah kemenyan digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bahan wewangian hingga bagian dari tradisi masyarakat.

Devi melihat ada peluang besar dari komoditas yang selama ini dijaga keluarganya. Ia ingin membuktikan bahwa produk lokal dari kampung juga mampu bersaing apabila dipasarkan dengan cara yang tepat.

Dalam kesehariannya, Devi menjalankan berbagai aktivitas bisnis mulai dari mengelola toko online, membuat konten promosi, berkomunikasi dengan pelanggan, hingga memastikan pesanan dikirim dengan baik.

Baginya, teknologi digital menjadi jembatan yang menghubungkan produk kampung dengan konsumen dari berbagai wilayah.

Awal Mula Menjual Kemenyan Melalui Shopee

Keputusan Devi memasukkan produk kemenyan ke Shopee bermula dari permintaan pelanggan. Beberapa pembeli meminta agar produk tersebut tersedia di marketplace agar transaksi lebih mudah dan terpercaya.

“Awalnya ada pembeli yang meminta produk getah kemenyan tersedia di Shopee. Karena semakin banyak yang bertanya, akhirnya saya daftarkan. Tidak lama setelah dibuat, keesokan harinya langsung ada pesanan,” jelas Devi.

Sejak bergabung dengan Shopee, Devi merasakan perubahan besar dalam perjalanan bisnisnya. Kepercayaan pelanggan meningkat karena transaksi dilakukan melalui platform yang sudah dikenal masyarakat.

Menurutnya, banyak pembeli merasa lebih aman karena proses pembayaran, pengiriman, hingga layanan perlindungan transaksi tersedia dalam aplikasi.

Tantangan Sebelum Mengenal Marketplace

Sebelum memanfaatkan Shopee, Devi menjalankan usaha secara manual melalui WhatsApp. Namun metode tersebut membuat perkembangan bisnis berjalan lebih lambat.

Ia menghadapi sejumlah kendala seperti biaya pengiriman yang mahal, keterbatasan jangkauan pelanggan, serta kekhawatiran pembeli terhadap keamanan transaksi.

“Dulu kalau jualan manual, belum tentu ada pesanan setiap minggu. Selain itu ongkir cukup mahal dan pembeli terkadang khawatir apakah barang sampai atau tidak,” katanya.

Kendala lain yang dirasakan Devi adalah akses ekspedisi. Lokasi tempat tinggalnya cukup jauh dari layanan pengiriman sehingga proses pengantaran barang membutuhkan waktu lebih lama.

Namun setelah menggunakan Shopee, berbagai hambatan tersebut mulai berkurang. Devi kini lebih mudah mengirim produk ke pelanggan dari berbagai daerah seperti Aceh, Kalimantan, Jawa, hingga Bali.

Dari Usaha Kecil Menjadi Penghasilan Jutaan Rupiah

Meski bisnis kemenyan yang dijalankan Devi masih tergolong baru, perkembangan penjualannya menunjukkan hasil positif.

Ia menyebut, sebelum menggunakan marketplace, pesanan masih sangat terbatas. Namun setelah bergabung dengan Shopee, jumlah transaksi meningkat hingga mencapai lebih dari seratus pesanan.

“Dulu kadang satu minggu tidak ada pembeli. Sekarang dalam seminggu bisa ada sekitar tiga sampai tujuh pesanan,” ungkap Devi.

Dari usaha tersebut, Devi kini mampu memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta per bulan.

Kisah Devi menjadi bukti bahwa perempuan muda di daerah juga mampu membangun ekonomi keluarga dengan memanfaatkan teknologi. Kampung halaman bukan lagi dianggap sebagai tempat dengan keterbatasan, tetapi dapat menjadi ruang untuk menciptakan peluang dan kesuksesan.

Dengan semangat menjaga warisan keluarga sekaligus beradaptasi dengan dunia digital, Devi membuktikan bahwa produk tradisional seperti kemenyan tetap memiliki tempat di pasar modern.

Related Posts

Rupiah Diprediksi Masih Tertekan, Ini Tantangan Besar Bank Indonesia

PrakasaWarga.Com — Penguatan…

Continue reading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Rupiah Diprediksi Masih Tertekan, Ini Tantangan Besar Bank Indonesia

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen, Momentum Mulai Melandai

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen, Momentum Mulai Melandai

Tottenham Sudah Belanja Besar, tapi Mentalitas Masih Jadi Masalah

Tottenham Sudah Belanja Besar, tapi Mentalitas Masih Jadi Masalah

Uban Muncul Bukan Berarti Tubuh Sedang Melawan Kanker, Ini Penjelasan Medisnya

Uban Muncul Bukan Berarti Tubuh Sedang Melawan Kanker, Ini Penjelasan Medisnya

Dampak Karhutla Tak Berhenti di Asap, Prestasi Belajar Anak Bisa Menurun

Dampak Karhutla Tak Berhenti di Asap, Prestasi Belajar Anak Bisa Menurun

Kelola Sampah dari Rumah, Langkah Kecil yang Bisa Kurangi Beban Kota Bandung

Kelola Sampah dari Rumah, Langkah Kecil yang Bisa Kurangi Beban Kota Bandung