
PrakarsaWarga.Com — Fenomena antrean orang tua untuk mendaftarkan anak ke bimbingan belajar (bimbel) di Gayam, Yogyakarta, belakangan menjadi perhatian. Antusiasme tersebut menunjukkan besarnya perhatian orang tua terhadap pendidikan anak, tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang seberapa jauh orang tua perlu terlibat dalam menentukan pilihan pendidikan anak.
Keterlibatan orang tua memang dapat memberikan dampak positif terhadap proses belajar. Laporan UNICEF menyebut dukungan orang tua dalam pendidikan dapat berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan dan kepercayaan diri anak.
Namun, keterlibatan tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak. Studi yang dikaitkan dengan penelitian Eva M. Pomerantz dan sejumlah peneliti lainnya juga menyoroti bahwa persoalannya bukan sekadar seberapa besar keterlibatan orang tua, melainkan apakah dukungan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan anak.
Bimbel Bisa Membantu, Asalkan Tidak Jadi Paksaan
Memilih bimbel bersama anak sebenarnya dapat menjadi bentuk dukungan dalam pendidikan. Masalah bisa muncul ketika keputusan tersebut sepenuhnya didasarkan pada keinginan orang tua tanpa mempertimbangkan kemampuan, minat, dan kebutuhan anak.
Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep shadow education, yaitu pendidikan tambahan di luar sekolah seperti les dan bimbingan belajar. UNESCO sebelumnya telah menyoroti perkembangan sistem tersebut di berbagai negara Asia.
Di Korea Selatan, misalnya, bimbingan belajar tambahan bahkan sudah diikuti sebagian anak sejak usia sangat muda.
Pakar UGM: Peran Orang Tua Perlu Berubah
Pengamat pendidikan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Agustinus Subarsono, M.Si., MA, mengatakan orang tua tetap memiliki peran penting dalam perjalanan pendidikan anak. Namun, tingkat keterlibatan sebaiknya menyesuaikan usia dan perkembangan kemandirian anak.
Saat masih kecil, orang tua umumnya memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan pendidikan. Memasuki SMP dan SMA, anak mulai memiliki pengetahuan serta kemampuan untuk menentukan pilihan sendiri sehingga campur tangan orang tua sebaiknya dikurangi.
Ketika memasuki perguruan tinggi, ruang bagi anak untuk menentukan bidang studi yang diminati semakin besar. Dalam tahap ini, orang tua lebih tepat berperan sebagai fasilitator dan pendamping.
Menurut Subarsono, setiap anak memiliki karakter, kemampuan, talenta, serta cita-cita yang berbeda. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak memaksakan impian pribadi kepada anak.
Kenapa Orang Tua Berlomba Masukkan Anak ke Bimbel?
Menurut Subarsono, tingginya minat terhadap bimbel salah satunya dapat menunjukkan adanya kekhawatiran orang tua terhadap kesiapan anak menghadapi persaingan pendidikan.
Hal tersebut terlihat dari banyaknya siswa SMA yang mengikuti bimbel sebagai persiapan masuk perguruan tinggi negeri. Kondisi ini bisa menjadi tanda bahwa sebagian orang tua maupun siswa merasa pembelajaran di sekolah belum cukup untuk menghadapi tes masuk kampus.
Selain itu, tekanan untuk menyelesaikan target materi di sekolah juga dapat menjadi persoalan. Materi yang sudah disampaikan guru belum tentu langsung dipahami seluruh siswa.
Bimbel kemudian dianggap sebagai tempat tambahan untuk memperbanyak latihan soal dan mempersiapkan diri menghadapi seleksi perguruan tinggi.
Namun, ambisi orang tua untuk melihat anak masuk sekolah atau kampus tertentu juga dapat menjadi faktor pendorong. Jika terlalu besar, anak berisiko hanya menjadi pelaksana dari target yang sebenarnya bukan pilihannya.
Pendidikan Tak Hanya Soal Sekolah dan Bimbel
Subarsono menilai keberhasilan anak tidak semata-mata ditentukan oleh pendidikan formal. Di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), seseorang juga dapat mengembangkan kemampuan melalui kursus, pelatihan, belajar mandiri, membaca, olahraga, seni, dan berbagai aktivitas lainnya.
Karena itu, orang tua disarankan menjadi teman berdiskusi bagi anak. Dukungan dapat diberikan dengan mendengarkan kebutuhan anak dan membantu menyediakan kesempatan untuk mengembangkan minat serta kemampuannya.
Semakin dewasa, anak juga perlu mendapat kesempatan untuk mengambil keputusan terkait pendidikan. Orang tua tetap dapat memberikan nasihat, tetapi tidak harus menentukan seluruh pilihan.
Kolaborasi dengan sekolah atau kampus juga penting agar orang tua mengetahui perkembangan akademik, perilaku, minat, hingga kendala yang dihadapi anak.
Pada akhirnya, mendukung pendidikan anak bukan berarti menentukan seluruh jalan hidupnya. Peran orang tua justru dapat menjadi lebih berarti ketika mampu mendampingi anak menemukan dan mengejar tujuan yang memang ingin dicapainya sendiri.




