Skor Membaca PISA Indonesia Naik, P2G Minta Anggaran Buku Perpustakaan Diperkuat

PrakarsaWarga.Com – Kemampuan membaca siswa Indonesia menunjukkan perkembangan dalam hasil PISA 2025. Skor membaca Indonesia naik menjadi 365, dari sebelumnya 359 pada PISA 2022.

Meski mengalami peningkatan, capaian tersebut masih menunjukkan tantangan besar dalam kemampuan literasi. Berdasarkan hasil PISA 2025, hanya sekitar 27,11 persen siswa Indonesia yang memenuhi kompetensi minimum membaca.

Angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata negara-negara OECD yang mencapai sekitar 69 persen. Indonesia juga berada di posisi 74 dari 90 negara dan wilayah ekonomi yang mengikuti penilaian tersebut.

PISA sendiri merupakan survei yang mengukur kemampuan siswa berusia sekitar 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains. Pada 2025, survei ini melibatkan sekitar 760 ribu siswa dari 91 negara dan wilayah ekonomi, termasuk 14.168 siswa dari 419 sekolah di Indonesia.

Baru 27 Persen Siswa Capai Kompetensi Minimum

Siswa yang memenuhi kompetensi minimum membaca dalam PISA 2025 setidaknya mampu menemukan gagasan utama dari teks yang cukup panjang, mencari informasi berdasarkan kriteria tertentu, serta merefleksikan tujuan dan bentuk teks ketika diminta secara eksplisit.

Namun, tantangan muncul pada tingkat kemampuan membaca yang lebih tinggi.

Di Indonesia, hampir tidak ada siswa yang mencapai level 5 atau lebih dari tujuh tingkatan kemampuan membaca PISA. Pada level tersebut, siswa dituntut mampu memahami teks panjang, menangani konsep abstrak, serta membedakan fakta dan opini berdasarkan petunjuk yang tidak disampaikan secara langsung.

Artinya, kenaikan skor secara keseluruhan belum serta-merta menunjukkan bahwa sebagian besar siswa Indonesia telah memiliki kemampuan literasi membaca yang kuat.

P2G Dorong Budaya Membaca di Sekolah

Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mengapresiasi kenaikan skor membaca Indonesia. Namun, peningkatan tersebut dinilai perlu diikuti dengan dukungan yang lebih kuat dari sekolah, guru, orang tua, dan pemerintah.

Koordinator Nasional P2G Satriwan Salim mengatakan budaya membaca perlu dibangun melalui kebiasaan membaca berbagai jenis buku dan teks.

Tidak hanya buku fiksi dan nonfiksi, siswa juga perlu dibiasakan memahami grafik, infografis, tabel, hingga statistik sederhana yang berkaitan dengan materi pembelajaran.

Menurut P2G, kemampuan membaca bukan hanya tanggung jawab guru bahasa Indonesia atau matematika. Budaya membaca perlu diterapkan oleh seluruh guru mata pelajaran.

Anggaran Buku Perpustakaan Diminta Jadi Prioritas

P2G juga menyoroti pentingnya ketersediaan buku berkualitas di sekolah. Menurut mereka, budaya membaca akan lebih mudah berkembang apabila siswa memiliki akses terhadap bahan bacaan yang memadai.

Karena itu, anggaran untuk pengadaan buku perpustakaan dinilai perlu menjadi salah satu prioritas pemerintah.

Persoalan ini menjadi semakin penting karena anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada 2026 mengalami pemangkasan cukup besar. Anggarannya turun dari sekitar Rp721 miliar pada 2025 menjadi Rp377 miliar pada 2026.

377 miliarKepala Perpusnas Aminudin Aziz mengatakan efisiensi anggaran berdampak pada sejumlah kegiatan literasi, termasuk distribusi buku ke berbagai daerah.

Program distribusi buku ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) bahkan tidak berjalan pada 2026 karena tidak memiliki anggaran.

DPR Dorong Tambahan Anggaran Perpusnas

Persoalan anggaran tersebut kemudian mendapat perhatian dari Komisi X DPR RI.

Dalam pembahasan RAPBN 2027, Komisi X menerima pagu anggaran Perpusnas sebesar Rp417,725 miliar sekaligus menerima usulan tambahan sebesar Rp307,774 miliar.

Dengan tambahan tersebut, total anggaran yang diusulkan mencapai sekitar Rp725,47 miliar.

Dukungan tambahan anggaran itu disertai sejumlah catatan, antara lain penguatan program perpustakaan dan literasi, pemerataan layanan hingga daerah, serta penyesuaian layanan perpustakaan dengan perkembangan teknologi digital.

Literasi Tak Cukup Hanya Mengandalkan Skor

Kenaikan skor PISA 2025 menjadi sinyal positif bagi kemampuan membaca siswa Indonesia. Namun, rendahnya persentase siswa yang mencapai kompetensi minimum menunjukkan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Penguatan budaya membaca perlu berjalan bersamaan dengan peningkatan kualitas pembelajaran dan penyediaan bahan bacaan yang mudah diakses. Dengan begitu, peningkatan literasi tidak hanya terlihat dalam angka penilaian internasional, tetapi juga tercermin dalam kemampuan siswa memahami dan menggunakan informasi dalam kehidupan sehari-hari.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Prabowo Ungkap Perjalanan Empat Kali Gagal Sebelum Terpilih Jadi Presiden

Prabowo Ungkap Perjalanan Empat Kali Gagal Sebelum Terpilih Jadi Presiden

Dude Harlino Waspadai Abu Vulkanik Anak Krakatau, Soroti Kesehatan Anak

Dude Harlino Waspadai Abu Vulkanik Anak Krakatau, Soroti Kesehatan Anak

Mantan Ketua DPR Filipina Ditahan, Terseret Dugaan Korupsi Proyek Banjir Rp2,1 Triliun

Mantan Ketua DPR Filipina Ditahan, Terseret Dugaan Korupsi Proyek Banjir Rp2,1 Triliun

Raisya Bawazier dan Muhammad Zidan Sepakat Berpisah, Nafkah Pasca Cerai Rp120 Juta

Raisya Bawazier dan Muhammad Zidan Sepakat Berpisah, Nafkah Pasca Cerai Rp120 Juta

Rumah Subsidi Kini Bisa Dicek Lebih Praktis Lewat Satu Situs

Rumah Subsidi Kini Bisa Dicek Lebih Praktis Lewat Satu Situs

Psoriasis Muncul Setelah Booster Covid-19, Empat Tahun Saya Menunggu Jawaban Negara

Psoriasis Muncul Setelah Booster Covid-19, Empat Tahun Saya Menunggu Jawaban Negara