PrakarsaWarga.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menyiapkan sejumlah langkah berbasis riset dan teknologi untuk menghadapi potensi kekeringan berkepanjangan di Indonesia. Fenomena cuaca yang terjadi saat musim kemarau menjadi perhatian, terutama karena dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan kekurangan air.
Ketua Task Force BRIN untuk penanganan bencana di Sumatera, Joko Widodo, mengatakan tim pusat riset atmosfer saat ini melakukan kajian terhadap berbagai anomali cuaca yang berpotensi terjadi ke depan.
Data yang dikumpulkan kemudian akan dianalisis untuk menghasilkan informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pendukung bagi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Data tersebut kemudian kami sampaikan kepada teman-teman BMKG untuk menjadi support data dalam analisis,” kata Joko setelah Kick Off Meeting Task Force Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bencana di Gedung BRIN, Jakarta, Rabu (16/9/2026).
Risiko Kebakaran Hutan Meningkat Saat Kemarau
Musim kemarau yang panjang juga meningkatkan perhatian terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah yang memiliki area gambut luas seperti Sumatera dan Kalimantan.
Menurut Joko, lahan gambut memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kebakaran ketika kandungan air di dalam tanah mengalami penurunan.
“Kondisi air tanah lebih dari 40 cm di bawah tanah membuat lahan gambut rentan terbakar,” ujarnya.
Karena itu, pemantauan kondisi lahan dan ketersediaan air menjadi bagian penting dalam upaya mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan selama periode kering.
BRIN Kembangkan Teknologi Pengolahan Air
Selain ancaman kebakaran, kekeringan juga berpotensi menimbulkan persoalan ketersediaan air bersih. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BRIN telah mengembangkan teknologi pengolahan air siap minum atau arsinum.
Teknologi tersebut dapat digunakan untuk mengolah air dari berbagai sumber, termasuk air laut. Sistem ini dirancang agar dapat ditempatkan di lokasi tertentu maupun dipindahkan sesuai kebutuhan dan ketersediaan sumber air.
Joko mencontohkan, BRIN sebelumnya mengerahkan tiga unit arsinum ke wilayah Sumatera. Setiap unit memiliki kapasitas pengolahan sekitar 10 ribu meter kubik per hari atau sekitar 5 ribu galon per hari.
Unit tersebut dapat ditempatkan secara permanen di suatu lokasi maupun dioperasikan secara mobile dengan menyesuaikan sumber air yang tersedia.
Terintegrasi Teknologi IoT
Teknologi arsinum yang dikembangkan BRIN juga telah dilengkapi sistem otomatisasi berbasis Internet of Things (IoT). Penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari unit statis untuk pesantren dan perkantoran hingga versi mobile yang dipasang di atas kendaraan.
Teknologi tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk menghadapi persoalan air akibat kekeringan. BRIN juga telah mengerahkan arsinum untuk membantu masyarakat di sejumlah wilayah terdampak bencana.
Selain digunakan di lokasi banjir di Sumatera, teknologi pengolahan air tersebut sebelumnya turut diterapkan dalam penanganan bencana gempa di Lombok serta banjir di kawasan Jabodetabek.
Melalui riset atmosfer, pemantauan risiko bencana, serta pengembangan teknologi pengolahan air, BRIN terus menyiapkan dukungan berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi untuk menghadapi berbagai dampak perubahan kondisi cuaca dan bencana di Indonesia.







