PrakarsaWarga.Com – Bank Indonesia (BI) melihat perekonomian Indonesia masih memiliki peluang untuk tumbuh di tengah kondisi ekonomi global yang menghadapi tekanan suku bunga dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman mengatakan, kenaikan tensi geopolitik telah berdampak terhadap harga sejumlah komoditas dan mendorong inflasi di berbagai negara. Kondisi tersebut kemudian direspons sejumlah bank sentral dunia melalui kebijakan suku bunga.
The Federal Reserve atau The Fed, European Central Bank (ECB), hingga Bank of Japan (BOJ) disebut telah melakukan penyesuaian kebijakan suku bunga seiring perkembangan inflasi global.
BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia masih berada di sekitar 3% pada 2026. Namun, apabila ketegangan geopolitik mulai mereda, pertumbuhan ekonomi global berpotensi meningkat pada 2027.
Di tengah tekanan global tersebut, ekonomi Indonesia dinilai masih memiliki sejumlah penopang. Salah satunya berasal dari kinerja ekspor komoditas nonmigas.
Harga sejumlah komoditas unggulan Indonesia, seperti minyak sawit mentah atau CPO, batu bara, dan nikel, mengalami peningkatan. Kondisi ini dapat memberikan keuntungan bagi penerimaan ekspor Indonesia.
Meski demikian, kenaikan harga komoditas energi juga dapat meningkatkan biaya impor, terutama untuk kebutuhan minyak dan gas. Dengan demikian, dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dapat berbeda antara komoditas ekspor dan impor.
Dari sisi pertumbuhan, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,61% pada kuartal I-2026 dan 5,29% pada kuartal II-2026. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 berada pada kisaran 4,9% hingga 5,7%.
Sementara itu, kondisi inflasi domestik masih berada dalam rentang yang dinilai terkendali. Inflasi Indonesia tercatat 3,19% pada Agustus 2026, sedangkan inflasi inti berada di level 2,92%.
BI mencatat pengaruh nilai tukar dan harga komoditas mulai terlihat pada beberapa komponen inflasi, termasuk inflasi inti, volatile food, dan administered prices. Namun, BI masih melihat inflasi berada dalam sasaran yang ditetapkan.
Aida menegaskan, kondisi tersebut menunjukkan Indonesia masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus menghadapi berbagai tekanan yang berasal dari perkembangan global.
Dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga dan inflasi yang masih berada dalam sasaran, BI akan terus mencermati perkembangan geopolitik, harga komoditas, serta kebijakan bank sentral global yang dapat memengaruhi perekonomian Indonesia.








