Jakarta – Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam meminta Iran menghormati kedaulatan negaranya dan tidak menjadikan Lebanon sebagai arena konflik regional di Timur Tengah.
Pesan tersebut disampaikan Salam saat bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Kamis (24/9/2026).
Dikutip dari AFP, Jumat (25/9/2026), Salam menegaskan Lebanon telah menanggung dampak besar dari berbagai konflik di kawasan. Dampak tersebut dirasakan dalam aspek keamanan, stabilitas politik, hingga kondisi ekonomi.
Salam mengatakan Lebanon tidak ingin kembali menjadi tempat bagi negara atau kelompok lain untuk mempertukarkan kepentingan maupun pesan dalam konflik regional.
Menurutnya, Beirut ingin membangun hubungan baru dengan Teheran yang didasarkan pada penghormatan terhadap kedaulatan dan kemerdekaan masing-masing negara.
“Hubungan yang sehat antarkedua negara harus didasarkan pada saling menghormati kedaulatan dan kemerdekaan masing-masing negara, tidak mencampuri urusan satu sama lain serta kepentingan bersama,” kata Salam.
Lebanon Ingin Hubungan Baru dengan Iran
Hubungan Lebanon dan Iran selama ini menghadapi sejumlah persoalan, terutama terkait tudingan campur tangan Iran dalam urusan domestik Lebanon.
Situasi tersebut semakin kompleks karena keberadaan Hezbollah, kelompok yang mendapat dukungan Iran dan terlibat dalam konflik dengan Israel. Ketegangan antara Hezbollah dan Israel turut membuat Lebanon terdampak konflik yang lebih luas di kawasan.
Salam menyatakan Beirut ingin membuka lembaran baru dalam hubungan dengan Teheran. Pemerintah Lebanon menginginkan hubungan bilateral yang tidak mengganggu kedaulatan dan kepentingan nasional masing-masing.
PM Lebanon Desak Israel Tarik Pasukan
Dalam pertemuan dengan Pezeshkian, Salam juga menyampaikan posisi Lebanon terkait konflik dengan Israel.
Ia meminta Israel menarik seluruh pasukannya dari wilayah Lebanon dan menghentikan serangan terhadap negara tersebut.
“Prioritasnya adalah Israel sepenuhnya menarik diri dari wilayah Lebanon dan menghentikan serangannya,” ujar Salam.
Selain persoalan eksternal, Salam menekankan pentingnya memperkuat kewenangan pemerintah Lebanon di seluruh wilayah negara.
Ia juga menegaskan bahwa kepemilikan senjata seharusnya berada di bawah kendali negara. Pernyataan itu berkaitan dengan persenjataan Hezbollah yang selama ini berada di luar kendali penuh pemerintah Lebanon.
“Lebanon harus bergerak maju untuk memperluas kewenangan negara Lebanon atas seluruh wilayahnya,” kata Salam.
“Memastikan bahwa senjata hanya dimiliki oleh negara,” lanjutnya.
Pemerintah Lebanon dalam beberapa waktu terakhir memang berupaya memperkuat kontrol negara atas keamanan dan persenjataan. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebelumnya turut menyambut langkah Beirut untuk memastikan monopoli negara atas kepemilikan senjata.
Pertemuan Salam dan Pezeshkian berlangsung ketika konflik Timur Tengah kembali memanas. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari diplomasi Lebanon untuk menata hubungan dengan Iran sekaligus menegaskan posisi Beirut agar tidak terseret lebih jauh dalam konflik regional.
Presiden Lebanon Joseph Aoun sebelumnya juga menyampaikan bahwa hubungan dengan Iran harus dibangun atas dasar saling menghormati serta tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing negara.
Melalui pertemuan tersebut, Lebanon kembali menegaskan keinginannya untuk membuka babak baru hubungan dengan Iran, dengan kedaulatan nasional dan kepentingan negara sebagai dasar hubungan bilateral.









