PrakarsaWarga.Com — Upaya melestarikan Boso Walikan sebagai bahasa khas Malang terus mendapat perhatian. Bahasa yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Malang tersebut dinilai perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak kehilangan tempat di tengah perkembangan zaman.
Salah satu upaya pelestarian itu dilakukan melalui gelaran Ngalam Hebak (Malang Kabeh) di Sasana Krida Budaya, Celaket, Kota Malang, Minggu (27/9/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Polresta Malang Kota tersebut melibatkan Pemerintah Kota Malang, masyarakat, budayawan, hingga akademisi. Boso Walikan menjadi salah satu budaya lokal yang dibahas dalam kegiatan tersebut.
Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi mengatakan, gerakan pelestarian Boso Walikan lahir dari diskusi bersama akademisi dan berbagai elemen masyarakat.
“Bahasa Walikan adalah identitas dan ciri khas Kota Malang yang membedakan dari daerah lain. Ini yang harus sama-sama kita gelorakan untuk terus menumbuhkan rasa kepedulian dan rasa memiliki,” kata Danang, Senin (28/9/2026).
Menurut Danang, pelestarian budaya tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat Malang. Ia mengajak warga untuk bersama-sama menjaga nilai budaya dan kebersamaan yang menjadi bagian dari identitas daerah.
“Kalau tidak kita, siapa lagi. Karena kita yang tinggal dan bersosialisasi di sini. Kita semua wajib menjaga, melestarikan, dan menggaungkan nilai-nilai patriotik, kebersamaan, serta nilai-nilai baik yang menjadi identitas Kota Malang,” ujarnya.
Pemkot Malang Dukung Pelestarian Boso Walikan
Upaya tersebut juga mendapat dukungan dari Wali Kota Malang Wahyu Hidayat. Ia menilai penguatan budaya khas Malang sejalan dengan program Pemerintah Kota Malang.
Menurut Wahyu, Boso Walikan perlu kembali dikenalkan secara luas karena memiliki nilai sejarah dan menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Malang.
“Osob Kiwalan ini kearifan lokal yang unik dan tidak dimiliki daerah lain di Indonesia. Bahasa ini melambangkan keakraban dan kekompakan keluarga besar Malangan,” ujar Wahyu.
Ia mengatakan Pemkot Malang melalui program Dasa Bhakti berkomitmen menjaga tradisi lokal agar tetap hidup, termasuk dengan menghidupkan kembali berbagai kebudayaan daerah.
Deklarasi Holopes Janji Ngalam Hebak
Dalam kegiatan tersebut juga dideklarasikan Holopes Janji Ngalam Hebak. Deklarasi ini memuat 10 komitmen warga Ngalam Raya, mulai dari menjaga sejarah dan budaya hingga memperkuat persaudaraan antarwarga.
Salah satu poinnya menegaskan komitmen untuk memelihara dan mengembangkan budaya Ngalam, termasuk bahasa walikan, sastra, seni, tradisi, serta berbagai kearifan lokal sebagai warisan bersama.
Deklarasi tersebut juga mendorong terciptanya Ngalam sebagai ruang bersama yang aman, terbuka, inklusif, dan ramah bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang.
Selain itu, warga Ngalam Raya berkomitmen menjaga keamanan, kerukunan, lingkungan, serta mendorong kemajuan daerah melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, dan kebudayaan.
Komitmen lainnya adalah memperkuat hubungan antara warga lokal dan pendatang, terutama generasi muda, sekaligus menjaga keharmonisan antardaerah dan antarbudaya.
Dalam deklarasi tersebut ditegaskan pula bahwa kecintaan terhadap Ngalam merupakan bagian dari kecintaan kepada Indonesia. Karena itu, pelestarian budaya lokal diharapkan tetap berjalan dengan menghormati keberadaan dan budaya daerah lainnya.









