PrakarsaWarga.Com – Sebanyak 921 lulusan SMP di Kabupaten Cianjur tercatat belum melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, SMK, atau sederajat pada tahun ini. Kondisi ekonomi keluarga disebut menjadi salah satu faktor utama yang membuat ratusan anak tersebut tidak meneruskan pendidikan formal.
Data tersebut disampaikan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur berdasarkan pendataan terhadap lulusan SMP tahun 2026. Dari 29.961 lulusan yang berasal dari 458 SMP, sebagian besar diketahui melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Kabid SMP Disdikpora Kabupaten Cianjur, Ipan Sopandi, mengatakan sebanyak 10.474 siswa melanjutkan ke SMA, sementara 14.569 siswa memilih SMK. Selain itu, terdapat 1.620 siswa yang melanjutkan ke Madrasah Aliyah (MA) dan 1.260 siswa mengikuti pendidikan kesetaraan Paket C.
Sebanyak 1.117 lulusan lainnya memilih melanjutkan pendidikan di pondok pesantren atau boarding school yang menyediakan kurikulum pendidikan formal.
“Sebagian besar melanjutkan pendidikan ke SMK. Ada juga yang mengikuti pendidikan kesetaraan,” ujar Ipan, Selasa (29/9/2026).
399 Anak Putus Sekolah Total
Dari 921 anak yang tidak melanjutkan pendidikan formal, Disdikpora mencatat tidak seluruhnya benar-benar berhenti dari aktivitas pendidikan.
Sebanyak 522 anak memilih mengikuti pendidikan di pesantren tanpa pendidikan nonformal, sedangkan 399 anak tercatat putus sekolah total.
Ipan mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena akses pendidikan tetap perlu dijaga agar anak-anak tidak kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.
Biaya Transportasi hingga Seragam Jadi Beban
Menurut Ipan, persoalan ekonomi menjadi salah satu kendala terbesar yang dihadapi keluarga. Meskipun pendidikan di sekolah negeri tidak dipungut biaya sekolah, orang tua masih harus menanggung berbagai kebutuhan pendukung.
Biaya transportasi menuju sekolah, uang saku harian, seragam, serta perlengkapan pendidikan lainnya dinilai dapat menjadi beban bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.
“Faktor utamanya ekonomi. Untuk SMA/SMK tidak banyak, sehingga harus mengeluarkan ongkos besar. Belum lagi biaya jajan harian. Untuk awal sekolah juga harus beli seragam dan kebutuhan sekolah,” jelasnya.
Jarak menuju sekolah juga menjadi persoalan tersendiri bagi sebagian siswa, terutama mereka yang harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk mengakses pendidikan tingkat SMA atau SMK.
Disdikpora Cianjur Siapkan Pendataan Ulang
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disdikpora Cianjur berencana melakukan pendataan kembali terhadap anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah.
Pendataan dilakukan untuk mengetahui kondisi masing-masing anak sekaligus mencari jalur pendidikan yang sesuai. Pemerintah daerah akan berupaya mendorong mereka kembali ke sekolah formal apabila memungkinkan.
Namun, bagi siswa yang memiliki kendala untuk kembali ke sekolah reguler, pemerintah akan mengarahkan mereka mengikuti pendidikan nonformal melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) atau program kesetaraan.
“Kami akan coba upayakan agar lanjut ke sekolah formal. Jika memang tidak memungkinkan, kami akan dorong masuk ke PKBM,” kata Ipan.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menekan angka putus sekolah di Cianjur sekaligus memastikan anak-anak tetap memperoleh akses pendidikan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka.







