Dr. Catur Arif Prastyanto, ST, MEng, pakar infrastruktur jalan ITS, menjelaskan bahwa kerusakan dini pada jalan beraspal dapat terjadi akibat kondisi tanah dasar yang tidak stabil, masalah drainase, kendaraan dengan muatan berlebih, hingga penggunaan material yang tidak sesuai standar.
Faktor-faktor tersebut perlu diperhatikan agar pembangunan jalan memiliki kualitas yang baik dan mampu bertahan lebih lama.
1. Kondisi Tanah Dasar Tidak Stabil
Salah satu penyebab jalan aspal cepat rusak adalah kondisi tanah dasar atau subgrade yang kurang stabil. Tanah dasar merupakan fondasi utama yang menopang lapisan perkerasan jalan.
Apabila tanah tidak mampu menahan beban dengan baik, struktur jalan dapat mengalami penurunan atau perubahan bentuk. Akibatnya, permukaan aspal berisiko retak, bergelombang, bahkan berlubang.
Menurut Catur, kestabilan tanah menjadi aspek penting dalam pembangunan jalan karena sangat memengaruhi kemampuan struktur perkerasan dalam menerima beban kendaraan.
2. Air dan Drainase yang Buruk
Faktor berikutnya adalah air yang masuk dan terperangkap di dalam lapisan perkerasan. Meskipun aspal tidak mudah larut dalam air, struktur jalan memiliki pori-pori kecil yang memungkinkan air meresap melalui retakan atau celah konstruksi.
Ketika sistem drainase tidak berfungsi optimal, air dapat tertahan di dalam struktur jalan. Kondisi ini berpotensi melemahkan ikatan antara aspal dan agregat atau material penyusun perkerasan.
Dalam jangka panjang, kerusakan dapat berkembang menjadi retakan hingga lubang yang membahayakan pengguna jalan.
Karena itu, sistem drainase yang baik dan penanganan retakan sejak dini menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas jalan beraspal.
3. Kendaraan Berat dan Muatan Berlebih
Kendaraan berat juga menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat kerusakan jalan, terutama jika melampaui batas muatan yang diperbolehkan.
Catur menjelaskan bahwa setiap jalan dirancang dengan kemampuan tertentu untuk menahan beban kendaraan. Apabila kendaraan yang melintas membawa muatan berlebih, tekanan terhadap struktur perkerasan akan meningkat.
Kondisi ini berkaitan dengan kendaraan ODOL (Over Dimension Over Load), yaitu kendaraan dengan dimensi atau muatan yang melebihi ketentuan.
Jika terjadi secara berulang, beban berlebih dapat mempercepat munculnya retakan, deformasi permukaan, dan kerusakan pada lapisan jalan.
Oleh sebab itu, pengawasan terhadap kendaraan ODOL menjadi salah satu upaya penting untuk menjaga kondisi infrastruktur jalan.
4. Material Aspal dan Konstruksi Tidak Sesuai Standar
Selain kondisi tanah, air, dan beban kendaraan, kualitas material serta pelaksanaan konstruksi turut menentukan ketahanan jalan.
Penggunaan material yang tidak memenuhi spesifikasi dapat membuat struktur perkerasan lebih rentan mengalami kerusakan. Begitu pula jika proses pembangunan tidak mengikuti standar teknis yang telah ditetapkan.
Kualitas pekerjaan, pemilihan material, dan penerapan metode konstruksi yang tepat perlu diperhatikan sejak tahap perencanaan hingga pembangunan selesai.
Dengan pelaksanaan konstruksi yang sesuai standar, risiko kerusakan dini pada jalan beraspal dapat ditekan.
Kerusakan Jalan Perlu Ditangani dari Berbagai Faktor
Penjelasan pakar ITS tersebut menunjukkan bahwa jalan aspal berlubang tidak selalu disebabkan oleh kendaraan berat. Kondisi tanah dasar, sistem drainase, kualitas material, dan standar pelaksanaan konstruksi juga memiliki peran penting.
Perbaikan jalan karena itu tidak cukup hanya dilakukan dengan menambal lubang yang muncul di permukaan. Pemeriksaan terhadap penyebab kerusakan diperlukan agar penanganan yang dilakukan lebih tepat dan hasilnya dapat bertahan lebih lama.
Di sisi lain, kepatuhan terhadap batas muatan kendaraan serta pemeliharaan drainase dan perkerasan jalan perlu menjadi perhatian bersama.
Dengan memperhatikan berbagai faktor tersebut, kualitas infrastruktur jalan diharapkan dapat terjaga sehingga perjalanan masyarakat menjadi lebih aman dan nyaman.







