PrakarsaWarga.com – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) berupaya memperkuat ekosistem kewirausahaan bagi generasi muda. Salah satu langkah yang didorong Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, adalah penyederhanaan regulasi agar anak muda lebih mudah mengembangkan ide bisnis dan menciptakan lapangan kerja.
Menurut Emil, menumbuhkan minat berwirausaha tidak cukup hanya melalui motivasi. Anak muda juga membutuhkan pendampingan, akses permodalan, pengetahuan bisnis, serta kesempatan untuk menguji inovasi sebelum produknya dipasarkan secara luas.
Hal tersebut disampaikan Emil seusai menghadiri special roadshow Diplomat Success Challenge (DSC) di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jumat (9/10).
Pemprov Jatim Dorong Kemudahan Regulasi Usaha
Emil menilai, calon wirausaha perlu mendapatkan ruang untuk mengembangkan ide sekaligus mempelajari kondisi pasar. Dengan begitu, mereka dapat memahami kebutuhan konsumen, menentukan harga yang sesuai, dan mengenali persaingan sebelum menjalankan bisnis secara lebih luas.
Ia menegaskan, pemerintah memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan usaha yang mendukung kreativitas dan inovasi generasi muda.
Menurutnya, regulasi yang terlalu rumit berpotensi menghambat perkembangan ide bisnis. Karena itu, Pemprov Jatim ingin menghadirkan kebijakan yang lebih memudahkan pelaku usaha muda dalam memulai dan mengembangkan usahanya.
Salah satu gagasan yang menjadi perhatian adalah sandbox kewirausahaan, yaitu ruang uji coba bagi pengusaha pemula untuk menguji kelayakan produk, melihat respons konsumen, serta mengevaluasi model bisnis sebelum memasuki pasar yang lebih besar.
Rencana tersebut akan dibahas lebih lanjut melalui komunikasi antara Pemprov Jatim, DSC, dan ITS. Pemerintah provinsi juga berencana menjalin komunikasi dengan Kementerian UMKM untuk menjajaki pengembangan program tersebut.
Konsep 3P Jadi Bekal Pengusaha Muda
Dalam kesempatan itu, Emil turut menyoroti pentingnya membangun kemampuan berwirausaha melalui proses belajar dan pengalaman. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan dalam program DSC adalah konsep 3P, yaitu pahami, piawai, dan pesona.
Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya membentuk karakter wirausaha yang mampu beradaptasi dengan perubahan. Menurut Emil, perjalanan seorang pengusaha tidak selalu berjalan dalam satu bidang bisnis yang sama. Karena itu, hal terpenting adalah membangun kemampuan dan pola pikir kewirausahaan agar dapat terus berkembang.
Emil juga mengapresiasi konsistensi DSC selama 17 tahun dalam mendampingi pengusaha muda di Indonesia.
DSC Tak Hanya Berikan Modal Usaha
Ketua Dewan Komisioner DSC, Surjanto Yasaputera, menjelaskan bahwa dukungan kepada wirausaha muda tidak terbatas pada pemberian hibah modal usaha. DSC turut membangun ekosistem kewirausahaan melalui edukasi, pendampingan, dan akses jejaring Diplomat Entrepreneur Network (DEN).
Surjanto menyebut ada tiga unsur utama yang perlu dimiliki seorang calon pengusaha, yakni kemauan personal, pengetahuan (knowledge), dan keterampilan (skill).
Pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai sumber, sementara keterampilan perlu dikembangkan melalui latihan dan pengalaman langsung. Namun, keduanya harus didukung kemauan untuk memulai usaha dan bertahan menghadapi berbagai tantangan.
Dengan kombinasi tersebut, calon wirausaha diharapkan mampu membangun usaha secara lebih matang dan berkelanjutan.
ITS Tanamkan Jiwa Wirausaha Sejak Mahasiswa Baru
Dukungan terhadap kewirausahaan generasi muda juga dilakukan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Wakil Rektor III ITS, Imam Baihaqi, mengatakan bahwa kampusnya tengah bertransformasi dari Research University menjadi Entrepreneurial University.
Transformasi tersebut tidak hanya bertujuan mencetak lulusan yang mampu mendirikan perusahaan, tetapi juga membentuk lulusan dengan pola pikir kewirausahaan.
ITS telah mengembangkan sejumlah fasilitas pendukung, termasuk pusat pengembangan karier dan kewirausahaan serta Science Technopark. Selain itu, mahasiswa baru diperkenalkan dengan pola pikir bisnis melalui mata kuliah wajib technopreneurship.
Imam menilai, mahasiswa perlu dilatih untuk melihat persoalan di lingkungan sekitar sebagai peluang usaha. Inovasi tidak selalu harus berupa teknologi canggih. Solusi sederhana yang menjawab kebutuhan masyarakat juga dapat menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan memberikan dampak sosial.
Ia mendorong anak muda untuk memulai usaha dengan mengenali masalah yang ada di sekitarnya, kemudian mencari solusi yang memiliki manfaat sekaligus peluang bisnis.
Melalui kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan ekosistem pendampingan usaha, pengembangan wirausaha muda di Jawa Timur diharapkan semakin terbuka. Kemudahan regulasi, akses pengetahuan, dan kesempatan menguji ide bisnis menjadi faktor penting untuk mendorong lahirnya pengusaha baru yang inovatif dan mampu menciptakan lapangan kerja.









