Iran Siapkan Zona Eksklusi di Teluk, Ketegangan dengan AS Makin Memanas

PrakarsaWarga.Com  – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah Teheran mengeluarkan ancaman baru berupa “perang ekonomi” dan pembentukan zona eksklusi maritim di kawasan Teluk Persia.

Ancaman tersebut disampaikan ketika konflik kedua negara memasuki bulan keenam. Di tengah eskalasi, Iran juga mengklaim telah menggunakan rudal canggih untuk menghadapi kapal perang AS di sekitar Selat Hormuz.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan Washington telah menerima peringatan melalui penggunaan rudal-rudal terbaru Iran.

“Perang ekonomi akan dibalas dengan zona eksklusi maritim di seluruh Teluk Persia hingga perimeter blokade,” ujar Rezaei melalui media sosial X, Selasa (8/9).

Menurut dia, postur operasional Iran terhadap kapal perang dan pangkalan militer AS telah mengalami perubahan besar. Iran sebelumnya juga menyatakan zona pembatasan tersebut akan diberlakukan mulai dari wilayah yang menjadi titik awal blokade AS dan meluas ke sejumlah kawasan di Teluk.

Kapal yang memasuki area tersebut disebut akan masuk dalam daftar sanksi Iran.

Iran Klaim Gunakan Rudal Canggih

Ancaman tersebut diduga berkaitan dengan penggunaan rudal balistik Qassem Basir. Media Iran melaporkan rudal tersebut digunakan dalam serangan terhadap kapal perang AS di sekitar Selat Hormuz.

Iran menyebut Qassem Basir sebagai rudal yang telah ditingkatkan dengan kemampuan manuver lebih baik. Rudal tersebut juga diklaim mampu menghadapi sistem pertahanan rudal dan memiliki sistem panduan yang dapat beroperasi di tengah gangguan peperangan elektronik.

Namun, militer AS menyatakan kapal perangnya berhasil menghindari serangan rudal tersebut.

Sebelumnya, AS juga melakukan serangan terhadap tiga kapal tanker minyak milik Iran pada Sabtu (5/9). Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian serangan antara kedua negara yang terus berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.

Houthi Serang Sejumlah Kota di Arab Saudi

Ketegangan regional semakin meluas setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan ke sejumlah wilayah Arab Saudi.

Komando koalisi pimpinan Saudi menyebut serangan di Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran menyebabkan sedikitnya 73 orang terluka.

Media Houthi, Ansarollah, menyebut sejumlah fasilitas menjadi sasaran, termasuk Bandara Internasional Abha, pangkalan udara King Khalid, serta fasilitas perusahaan minyak negara Saudi Aramco di Abha dan Jizan.

Kementerian Energi Arab Saudi juga mengonfirmasi adanya serangan terhadap sejumlah fasilitas energi di wilayah selatan. Serangan tersebut memicu kebakaran di beberapa lokasi dan membuat sejumlah operasi harus dihentikan sementara.

Petugas pemadam kebakaran dan tim tanggap darurat kemudian dikerahkan untuk mengendalikan situasi sekaligus mengevaluasi dampak kerusakan.

Arab Saudi mengecam serangan tersebut dan menyatakan akan mengambil langkah untuk merespons. Riyadh juga menyerukan penghentian seluruh bentuk eskalasi, termasuk serangan terhadap jalur pelayaran.

Selat Hormuz Jadi Titik Rawan

Situasi semakin rumit karena konflik kini turut berdampak pada jalur pelayaran internasional. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting bagi distribusi minyak dan gas dunia.

Iran sebelumnya menyatakan akan mengumumkan zona pembatasan baru di Teluk Persia sekaligus peta koridor pelayaran baru di Selat Hormuz. Namun, hingga kini belum diketahui kapan rincian kebijakan tersebut akan diumumkan.

Lalu lintas kapal pengangkut komoditas melalui Selat Hormuz juga kembali melambat. Iran masih memiliki kemampuan rudal dan drone yang dapat digunakan untuk mengancam kapal tanker serta fasilitas negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengatakan harga minyak dunia berpotensi turun tajam apabila AS memenangkan perang melawan Iran.

“Harga minyak akan turun drastis … ketika kita MEMENANGKAN perang melawan Iran,” kata Trump melalui media sosial.

Trump juga menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Di tengah konflik yang semakin panjang, para pemimpin Iran disebut masih mempertahankan kekuasaan sambil mendorong pelonggaran sanksi. Teheran juga disebut berharap dapat memperoleh keuntungan ekonomi dari kapal-kapal yang tetap menggunakan jalur strategis Selat Hormuz.

Perkembangan tersebut membuat kawasan Teluk Persia dan jalur pelayaran di sekitarnya menjadi salah satu titik paling rawan dalam konflik yang melibatkan Iran, AS, serta sejumlah kelompok dan negara di kawasan Timur Tengah.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Karhutla Samarinda Meningkat, BNPB Turunkan Helikopter Water Bombing ke Bantuas

Karhutla Samarinda Meningkat, BNPB Turunkan Helikopter Water Bombing ke Bantuas

IHSG Menguat 1%, Ini Saham yang Jadi Sorotan Investor

IHSG Menguat 1%, Ini Saham yang Jadi Sorotan Investor

Penyerangan Dini Hari di Sukabumi, Dua Pemuda Jadi Korban Penganiayaan

Penyerangan Dini Hari di Sukabumi, Dua Pemuda Jadi Korban Penganiayaan

Puan Dorong Penyelidikan Lahan Bekas Karhutla yang Diduga Beralih Jadi Perkebunan Sawit

Puan Dorong Penyelidikan Lahan Bekas Karhutla yang Diduga Beralih Jadi Perkebunan Sawit

Raisya Bawazier Tegaskan Beda Budaya Bukan Alasan Rumah Tangga dengan Zidan Retak

Raisya Bawazier Tegaskan Beda Budaya Bukan Alasan Rumah Tangga dengan Zidan Retak

Raisya Bawazier dan Muhammad Zidan Pisah Rumah, Ini Fakta di Balik Perceraian

Raisya Bawazier dan Muhammad Zidan Pisah Rumah, Ini Fakta di Balik Perceraian