PrakarsaWarga.Com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menegaskan bahwa meningkatnya jumlah temuan kasus HIV di Kabupaten Sidoarjo bukan berarti terjadi lonjakan penularan. Bertambahnya angka kasus yang tercatat justru dipengaruhi oleh semakin luasnya layanan skrining HIV, sehingga lebih banyak masyarakat mengetahui status kesehatannya sejak dini.
Berdasarkan data Kemenkes, sejak tahun 2001 hingga Juni 2026 tercatat sebanyak 1.183 kasus HIV kumulatif ditemukan pada kelompok usia 0–24 tahun di Kabupaten Sidoarjo. Data tersebut merupakan hasil akumulasi selama lebih dari dua dekade, bukan jumlah kasus baru dalam waktu singkat.
Kemenkes menjelaskan bahwa peningkatan temuan kasus merupakan indikator keberhasilan program deteksi dini. Dengan semakin banyak masyarakat yang mengikuti pemeriksaan HIV, pasien dapat segera memperoleh terapi antiretroviral (ARV) sehingga kualitas hidup tetap terjaga dan risiko penularan dapat ditekan.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, menegaskan bahwa HIV merupakan penyakit kronis yang dapat dikendalikan apabila pengobatan dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak takut menjalani tes HIV, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko atau mendapatkan rekomendasi dari tenaga kesehatan. Menurutnya, deteksi dini menjadi langkah penting untuk memastikan penderita memperoleh pengobatan sedini mungkin.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah beredarnya video viral yang menyebut sebanyak 522 pelajar di Kabupaten Sidoarjo terpapar HIV/AIDS. Informasi tersebut sempat memicu kekhawatiran dan berbagai spekulasi di tengah masyarakat.
Menindaklanjuti hal itu, Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes melakukan supervisi terhadap program penanggulangan HIV di Kabupaten Sidoarjo. Langkah ini dilakukan untuk mengklarifikasi sekaligus memverifikasi data yang beredar agar informasi yang diterima masyarakat sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Tim supervisi juga mengunjungi Delta Crisis Center (DCC), yang menjadi salah satu sumber data dalam pemberitaan mengenai kasus HIV di Sidoarjo. Selain memeriksa validitas data, Kemenkes turut mengevaluasi pelaksanaan program pencegahan, skrining, pengobatan, hingga pendampingan bagi orang dengan HIV (ODHIV).
Kemenkes menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo agar upaya pencegahan dan pengendalian HIV berjalan lebih efektif. Masyarakat pun diimbau untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi serta menghindari stigma terhadap penyandang HIV, karena dukungan lingkungan menjadi bagian penting dalam keberhasilan pengobatan.









