PrakarsaWarga.Com – Usia 13 tahun biasanya masih menjadi masa bagi seorang remaja untuk menjalani pendidikan sekolah. Namun, hal berbeda dialami Joseph (Joe) Petraro-Hyppolite, remaja asal Long Island, Amerika Serikat (AS).
Di usia tersebut, Joe dikabarkan telah diterima untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister di New York University (NYU). Ia sebelumnya juga telah menyelesaikan pendidikan SMA saat berusia 11 tahun.
Joe memiliki IQ yang disebut mencapai 168. Namun, ia menegaskan bahwa kemampuan yang dimilikinya bukan berarti membuat semua hal menjadi mudah.
Sudah Dapat Skor SAT 1.590 di Usia 10 Tahun
Perjalanan akademik Joe berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan kebanyakan pelajar seusianya.
Saat berusia 10 tahun, ia berhasil memperoleh skor 1.590 dalam SAT. Setahun kemudian, Joe telah menyelesaikan pendidikan SMA.
Saat ini, ia masih menjalani pendidikan sarjana dan belajar bersama mahasiswa yang usianya jauh lebih tua darinya.
Joe kemudian dijadwalkan memulai pendidikan magister pada musim gugur mendatang.
S2 yang Dipilih Berkaitan dengan Olahraga dan Sains
Program magister yang akan ditempuh Joe berkaitan dengan manajemen olahraga. Ia juga menyebut bidang kinesiologi dan biologi sebagai bagian dari ketertarikannya.
Meski memiliki perjalanan akademik yang tidak biasa, Joe mengaku tetap merasa gugup menghadapi tahap pendidikan berikutnya.
Di sisi lain, ia juga melihat kesempatan tersebut sebagai pintu menuju pengalaman baru.
Pernah Masuk Kelas Pendidikan Khusus
Di balik prestasi akademiknya, Joe juga memiliki perjalanan pendidikan yang tidak selalu berjalan mulus.
Ibunya, Anne Petraro-Hyppolite, mengatakan Joe pernah ditempatkan di kelas pendidikan khusus setelah didiagnosis dengan sindrom Tourette.
Menurut CDC, sindrom Tourette merupakan kondisi pada sistem saraf yang dapat menyebabkan seseorang mengalami gerakan atau suara yang muncul secara tiba-tiba dan berulang, yang disebut tic.
Bagi Anne, perkembangan pendidikan putranya hingga dapat melanjutkan ke jenjang magister pada usia yang sangat muda merupakan sesuatu yang sulit dipercaya.
Ia juga menggambarkan Joe sebagai anak yang sangat menyukai belajar.
Joe: Berbakat Bukan Berarti Semua Hal Mudah
Meski memiliki kemampuan akademik yang menonjol, Joe tidak menganggap dirinya otomatis mengetahui semua hal.
Ia mengatakan bahwa berbagai pengetahuan tetap harus dipelajari dan dipahami melalui proses.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa menurut Joe, kemampuan akademik tidak menggantikan proses belajar.
Saat ini, ia masih harus menyelesaikan pendidikan sarjananya yang ditargetkan selesai pada Mei tahun depan.
Punya Cita-cita di Bidang Paleontologi
Menariknya, perjalanan akademik Joe belum berhenti di manajemen olahraga maupun biologi.
Ia mengatakan bahwa dirinya pada akhirnya ingin terjun ke bidang paleontologi, ilmu yang mempelajari kehidupan masa lalu berdasarkan bukti-bukti seperti fosil.
Jika rencananya berjalan sesuai target, Joe diperkirakan menyelesaikan pendidikan magister pada usia yang masih sangat muda, sekitar waktu ketika ia mulai mencapai usia yang memungkinkan untuk mengemudikan mobil.
Libur Kuliah Diisi dengan Kegiatan Sukarelawan
Di luar kegiatan akademik, Joe juga menggunakan waktu luangnya untuk menjadi sukarelawan.
Salah satu kegiatannya dilakukan di panti jompo Five Towns. Ia membantu memastikan para penghuni dapat pulang dengan aman.
Bagi Joe, aktivitas tersebut menjadi bagian lain dari kehidupannya di luar pendidikan dan pencapaian akademik.
Perjalanan Joe menunjukkan bahwa pendidikan dapat ditempuh melalui jalur yang sangat beragam. Di usianya yang masih 13 tahun, ia telah melewati sejumlah jenjang pendidikan lebih cepat dari kebanyakan pelajar, tetapi tetap harus menjalani proses belajar untuk mencapai tujuan akademiknya. (RFA)









