PrakasaWarga.com – Pelajar Iran yang tengah mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri menghadapi hambatan baru. Pelaksanaan tes TOEFL dan GRE di Iran dihentikan setelah Amerika Serikat mengubah aturan terkait sanksi terhadap negara tersebut.
Penghentian ini menjadi persoalan bagi calon mahasiswa yang sedang mengejar pendaftaran universitas, program pascasarjana, hingga beasiswa di berbagai negara.
Salah seorang peserta TOEFL di Teheran mengaku sudah berbulan-bulan mempersiapkan diri untuk mendaftar program doktoral. Ia telah menghubungi profesor, menyiapkan dokumen, serta mempelajari materi ujian.
“Seluruh rencana saya bergantung pada ujian ini,” ujarnya kepada DW.
ETS Hentikan TOEFL dan GRE di Iran
TOEFL dan GRE diselenggarakan oleh Educational Testing Service (ETS), organisasi yang berbasis di Amerika Serikat.
ETS memutuskan menghentikan penyelenggaraan kedua tes tersebut di Iran setelah Office of Foreign Assets Control (OFAC) di bawah Departemen Keuangan AS menangguhkan General License G.
Lisensi tersebut sebelumnya memberikan dasar hukum bagi sejumlah kegiatan pendidikan dan pertukaran akademik tertentu untuk tetap berlangsung di Iran meski terdapat sanksi AS.
Dalam pemberitahuannya, ETS menyatakan akan menghentikan sementara pelaksanaan TOEFL dan GRE di Iran. Meski demikian, warga negara Iran masih diperbolehkan mengikuti kedua ujian tersebut di negara lain.
ETS juga menyebut tengah mencari kemungkinan agar pelaksanaan tes dapat kembali dilakukan di Iran.
Pelajar Harus ke Negara Tetangga
Belum adanya kepastian mengenai kapan TOEFL dan GRE kembali tersedia membuat calon mahasiswa harus mencari alternatif.
Sejumlah pelajar Iran sebelumnya sudah menghadapi masalah serupa dengan IELTS, tes kemampuan bahasa Inggris yang banyak digunakan untuk keperluan pendidikan internasional.
Akibatnya, sebagian pelamar memilih bepergian ke negara seperti Turki dan Armenia untuk mengikuti ujian.
Kondisi tersebut kini berpotensi kembali dialami peserta TOEFL dan GRE. Mereka harus menanggung biaya perjalanan, penginapan, transportasi, serta biaya ujian.
Bagi mahasiswa yang mengandalkan beasiswa atau pendanaan penuh, tambahan biaya tersebut tentu menjadi beban tersendiri.
Rencana Kuliah ke Eropa Ikut Terganggu
Seorang pelamar bernama Alireza mengatakan penghentian TOEFL mengganggu rencana studinya di salah satu universitas di Italia.
Sebelumnya, ia menjadikan TOEFL sebagai alternatif setelah IELTS tidak lagi tersedia di Iran. Universitas yang ditujunya bahkan telah menyetujui penggunaan skor TOEFL sebagai bukti kemampuan bahasa Inggris.
Namun, penghentian TOEFL membuat alternatif tersebut ikut hilang.
Menurut Alireza, mengikuti ujian di luar negeri membutuhkan biaya yang cukup besar, terutama di tengah kondisi ekonomi Iran yang sedang sulit.
Selain biaya tes, peserta juga harus membayar perjalanan dan setidaknya satu malam penginapan.
Mahasiswa Iran Buat Petisi
Situasi tersebut mendorong peserta TOEFL dan GRE di Iran meluncurkan petisi daring. Mereka meminta ETS mengembalikan akses terhadap kedua ujian tersebut di dalam negeri.
Para penggagas petisi menyebut ribuan mahasiswa berpotensi kehilangan akses terhadap tes yang menjadi persyaratan untuk masuk universitas, memperoleh beasiswa, mengikuti program pascasarjana, dan berbagai kesempatan akademik lainnya.
Mereka menilai penghentian ujian secara mendadak dapat membuat persiapan panjang para pelamar menjadi sia-sia.
Selain meminta ETS kembali membuka layanan ujian, para mahasiswa juga mendesak OFAC memberikan pengecualian khusus untuk tes
Jakarta – Pelajar Iran yang tengah mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri menghadapi hambatan baru. Pelaksanaan tes TOEFL dan GRE di Iran dihentikan setelah Amerika Serikat mengubah aturan terkait sanksi terhadap negara tersebut.
Penghentian ini menjadi persoalan bagi calon mahasiswa yang sedang mengejar pendaftaran universitas, program pascasarjana, hingga beasiswa di berbagai negara.
Salah seorang peserta TOEFL di Teheran mengaku sudah berbulan-bulan mempersiapkan diri untuk mendaftar program doktoral. Ia telah menghubungi profesor, menyiapkan dokumen, serta mempelajari materi ujian.
“Seluruh rencana saya bergantung pada ujian ini,” ujarnya kepada DW.
ETS Hentikan TOEFL dan GRE di Iran
TOEFL dan GRE diselenggarakan oleh Educational Testing Service (ETS), organisasi yang berbasis di Amerika Serikat.
ETS memutuskan menghentikan penyelenggaraan kedua tes tersebut di Iran setelah Office of Foreign Assets Control (OFAC) di bawah Departemen Keuangan AS menangguhkan General License G.
Lisensi tersebut sebelumnya memberikan dasar hukum bagi sejumlah kegiatan pendidikan dan pertukaran akademik tertentu untuk tetap berlangsung di Iran meski terdapat sanksi AS.
Dalam pemberitahuannya, ETS menyatakan akan menghentikan sementara pelaksanaan TOEFL dan GRE di Iran. Meski demikian, warga negara Iran masih diperbolehkan mengikuti kedua ujian tersebut di negara lain.
ETS juga menyebut tengah mencari kemungkinan agar pelaksanaan tes dapat kembali dilakukan di Iran.
Pelajar Harus ke Negara Tetangga
Belum adanya kepastian mengenai kapan TOEFL dan GRE kembali tersedia membuat calon mahasiswa harus mencari alternatif.
Sejumlah pelajar Iran sebelumnya sudah menghadapi masalah serupa dengan IELTS, tes kemampuan bahasa Inggris yang banyak digunakan untuk keperluan pendidikan internasional.
Akibatnya, sebagian pelamar memilih bepergian ke negara seperti Turki dan Armenia untuk mengikuti ujian.
Kondisi tersebut kini berpotensi kembali dialami peserta TOEFL dan GRE. Mereka harus menanggung biaya perjalanan, penginapan, transportasi, serta biaya ujian.
Bagi mahasiswa yang mengandalkan beasiswa atau pendanaan penuh, tambahan biaya tersebut tentu menjadi beban tersendiri.
Rencana Kuliah ke Eropa Ikut Terganggu
Seorang pelamar bernama Alireza mengatakan penghentian TOEFL mengganggu rencana studinya di salah satu universitas di Italia.
Sebelumnya, ia menjadikan TOEFL sebagai alternatif setelah IELTS tidak lagi tersedia di Iran. Universitas yang ditujunya bahkan telah menyetujui penggunaan skor TOEFL sebagai bukti kemampuan bahasa Inggris.
Namun, penghentian TOEFL membuat alternatif tersebut ikut hilang.
Menurut Alireza, mengikuti ujian di luar negeri membutuhkan biaya yang cukup besar, terutama di tengah kondisi ekonomi Iran yang sedang sulit.
Selain biaya tes, peserta juga harus membayar perjalanan dan setidaknya satu malam penginapan.
Mahasiswa Iran Buat Petisi
Situasi tersebut mendorong peserta TOEFL dan GRE di Iran meluncurkan petisi daring. Mereka meminta ETS mengembalikan akses terhadap kedua ujian tersebut di dalam negeri.
Para penggagas petisi menyebut ribuan mahasiswa berpotensi kehilangan akses terhadap tes yang menjadi persyaratan untuk masuk universitas, memperoleh beasiswa, mengikuti program pascasarjana, dan berbagai kesempatan akademik lainnya.
Mereka menilai penghentian ujian secara mendadak dapat membuat persiapan panjang para pelamar menjadi sia-sia.
Selain meminta ETS kembali membuka layanan ujian, para mahasiswa juga mendesak OFAC memberikan pengecualian khusus untuk tes






