PrakarsaWarga.Com – Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dan derasnya arus informasi digital, peran pustakawan dinilai semakin penting dalam membangun budaya literasi masyarakat. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa pustakawan kini bukan lagi sekadar pengelola koleksi buku, melainkan menjadi penjaga nalar bangsa yang memastikan masyarakat memperoleh informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut Fajar, kemajuan teknologi memang memungkinkan siapa saja mengakses informasi hanya dalam hitungan detik. Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan karena tidak semua informasi yang beredar di ruang digital memiliki nilai pengetahuan yang benar ataupun mengandung kebijaksanaan.
Di sinilah pustakawan memiliki peran strategis sebagai penghubung antara masyarakat dengan sumber informasi yang kredibel sekaligus membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis di tengah banjir informasi digital.
AI Tidak Akan Menggantikan Buku dan Pustakawan
Fajar menilai perkembangan teknologi, termasuk kehadiran AI, tidak akan menghilangkan fungsi buku maupun profesi pustakawan.
Meskipun kini banyak buku tersedia dalam format digital, keberadaan buku tetap memiliki peran penting dalam membentuk karakter, melatih kemampuan berpikir mendalam, memperluas wawasan, serta mengembangkan imajinasi pembaca.
Karena itu, transformasi digital seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan peluang bagi pustakawan untuk menghadirkan layanan yang lebih inovatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.
Pustakawan Dituntut Beradaptasi dengan Perkembangan Zaman
Di era digital, pustakawan dituntut memiliki kemampuan yang lebih luas dibandingkan sebelumnya. Selain mengelola koleksi perpustakaan, mereka juga diharapkan mampu menjadi kurator pengetahuan, fasilitator literasi digital, serta mitra guru dalam membangun kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Peran tersebut dinilai sangat penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, mampu memilah informasi yang benar, memahami berbagai sumber pengetahuan, serta tidak mudah terpengaruh oleh hoaks atau informasi yang menyesatkan.
Minat Baca Nasional Masih Perlu Ditingkatkan
Dalam kesempatan tersebut, Fajar juga menyoroti data dari Perpustakaan Nasional yang menunjukkan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) Indonesia masih berada di angka 54,8.
Angka tersebut menunjukkan bahwa budaya membaca masyarakat masih memiliki ruang yang sangat besar untuk terus ditingkatkan. Menurutnya, setiap buku yang dibaca, perpustakaan yang aktif dimanfaatkan, dan pustakawan yang mampu menginspirasi masyarakat merupakan investasi penting dalam menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang unggul.
Budaya Membaca Jadi Kunci Kemajuan Bangsa
Fajar menegaskan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menguasai teknologi canggih. Yang tidak kalah penting adalah tumbuhnya budaya belajar, gemar membaca, serta kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis.
Oleh karena itu, penguatan ekosistem perbukuan, perpustakaan, budaya literasi, dan profesi pustakawan harus menjadi perhatian bersama sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan nasional.
Perpustakaan Harus Menjadi Pusat Pembelajaran
Dalam momentum peringatan Hari Pustakawan Indonesia, Wamendikdasmen mengajak seluruh satuan pendidikan menjadikan perpustakaan sebagai pusat kegiatan belajar sekaligus ruang tumbuhnya budaya berpikir kritis, kreatif, dan reflektif.
Ia berharap perpustakaan tidak hanya menjadi tempat menyimpan buku, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi yang mampu melahirkan generasi pembelajar sepanjang hayat. Menurutnya, budaya membaca merupakan fondasi utama dalam membangun bangsa yang cerdas, berdaya saing, dan siap menghadapi tantangan era digital.
Dengan semakin berkembangnya teknologi AI, keberadaan pustakawan justru dipandang semakin relevan. Profesi ini menjadi garda terdepan dalam memastikan masyarakat tidak hanya memperoleh informasi dengan cepat, tetapi juga mendapatkan pengetahuan yang berkualitas dan mampu membangun cara berpikir yang bijaksana.







