Perkembangan teknologi robotika kembali mencuri perhatian dalam ajang World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026. Salah satu inovasi yang paling menarik adalah robot yang dapat dikendalikan hanya dengan pikiran manusia melalui teknologi Brain-Computer Interface (BCI).
Teknologi ini memungkinkan pengguna mengontrol robot tanpa menyentuh tombol, memberikan perintah suara, maupun melakukan gerakan tubuh. Cukup mengenakan headset electroencephalography (EEG), sistem mampu membaca aktivitas listrik otak dan menerjemahkannya menjadi perintah yang dipahami robot.
Dalam demonstrasi yang ditampilkan di WAIC 2026, robot berhasil mengambil gelas hingga memungut buah apel hanya berdasarkan niat pengguna. Seluruh proses berlangsung sangat cepat, yakni kurang dari 200 milidetik, sehingga respons robot terasa hampir seketika.
Teknologi tersebut memadukan tiga komponen utama, yaitu Brain-Computer Interface (BCI), Artificial Intelligence (AI), dan sistem robotika dalam satu platform. AI berperan menganalisis sinyal otak untuk mengenali maksud pengguna, kemudian meneruskannya menjadi instruksi yang langsung dijalankan oleh robot.
Konsep ini dikenal sebagai Neuro-Embodied AI, yaitu sistem yang memungkinkan robot memahami niat manusia melalui aktivitas otak sebelum mengeksekusi tindakan yang diinginkan.
Menariknya, platform ini dirancang agar kompatibel dengan berbagai jenis robot komersial. Mulai dari lengan robot industri, robot humanoid, hingga robot berkaki empat dapat memanfaatkan teknologi tersebut untuk meningkatkan kemampuan interaksi dengan manusia.
Tak hanya menghadirkan robot yang dikendalikan pikiran, pengembang juga memperkenalkan Embodied AI Data Collection Solution, sebuah platform yang dirancang untuk mengumpulkan data pelatihan AI bagi robot generasi berikutnya.
Sistem ini menggunakan robot berlengan ganda yang dipadukan dengan sarung tangan khusus untuk merekam setiap gerakan manusia saat melakukan berbagai aktivitas. Bersamaan dengan itu, headset EEG juga merekam sinyal otak operator sehingga sistem tidak hanya mengetahui gerakan tangan, tetapi juga memahami tujuan di balik setiap tindakan.
Pendekatan tersebut menghasilkan data pelatihan AI yang lebih lengkap karena mencakup aspek fisik sekaligus niat manusia. Hal ini diyakini dapat mempercepat pengembangan robot yang mampu bergerak dan berinteraksi secara lebih alami layaknya manusia.
Selain teknologi Neuro-Embodied AI, sejumlah inovasi lain juga diperkenalkan dalam pameran tersebut. Di antaranya adalah Revo 3 Dexterous Hand, tangan robot dengan tingkat presisi tinggi, Intelligent Bionic Hand yang merupakan tangan prostetik pintar, serta Intelligent Bionic Leg yang mampu menyesuaikan pola gerakan penggunanya secara otomatis berdasarkan data sensor yang diproses secara real-time.
Kemajuan ini menunjukkan bahwa integrasi antara kecerdasan buatan, antarmuka otak, dan robotika terus berkembang pesat. Di masa depan, teknologi tersebut berpotensi menghadirkan robot yang semakin cerdas, responsif, dan mampu membantu manusia dalam berbagai bidang, mulai dari industri, kesehatan, hingga kehidupan sehari-hari.






