PrakasaWarga.com — Pemerintah Indonesia tengah mengkaji pemanfaatan batu bara sebagai bahan baku untuk menghasilkan bahan bakar cair. Gagasan ini sejalan dengan keinginan Presiden Prabowo Subianto untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam di dalam negeri.
Teknologi mengubah batu bara menjadi bahan bakar cair sebenarnya bukan hal baru. Proses yang dikenal sebagai coal-to-liquid (CTL) tersebut telah dikembangkan dan digunakan di sejumlah negara.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno menjelaskan bahwa teknologi tersebut telah diterapkan sejak lama, termasuk di Jerman.
Menurut Tri, Jerman pernah memanfaatkan teknologi pencairan batu bara karena keterbatasan sumber minyak. Batu bara kemudian diolah menjadi bahan bakar cair yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan.
“Kalau di dunia ini dimulai coal-to-liquid itu sudah lama,” ujar Tri saat ditemui di Balai Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (21/9/2026).
Afrika Selatan Jadi Contoh Pengembangan Batu Bara Cair
Selain Jerman, Tri menyebut Afrika Selatan sebagai salah satu negara yang telah mengembangkan teknologi coal-to-liquid dalam skala besar.
Sasol menjadi salah satu perusahaan yang dikenal mengembangkan teknologi tersebut. Pengolahan batu bara menjadi bahan bakar dilakukan untuk mengatasi keterbatasan akses terhadap minyak akibat kondisi geopolitik dan sanksi internasional pada masa lalu.
Tri menyebut produksi bahan bakar cair dari batu bara oleh Sasol saat ini berada di kisaran 300 ribu barel per hari.
“Jadi memang sudah ada kalau itu,” kata Tri.
Indonesia Masih Evaluasi Teknologi
Meski pemerintah memiliki rencana mengembangkan bahan bakar berbasis batu bara, belum ada keputusan final mengenai negara yang akan menjadi mitra dalam proyek tersebut.
Tri mengatakan pemerintah masih melakukan evaluasi terhadap sejumlah opsi. Menurut dia, aspek paling penting bukan semata-mata negara asal mitra, melainkan teknologi yang akan digunakan.
“Nanti beberapa sedang dievaluasilah. Tentang negaranya kan enggak terlalu ini, yang penting teknologinya,” ujar Tri.
Rencana tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan batu bara di Indonesia tidak hanya diarahkan untuk pembangkit listrik atau kebutuhan industri. Pemerintah juga membuka peluang pemanfaatannya







