PrakarsaWarga.Com – Dampak perubahan iklim kini tidak lagi menjadi ancaman di masa depan. Di berbagai daerah Indonesia, krisis iklim telah dirasakan langsung oleh anak-anak melalui berkurangnya akses terhadap air bersih, pendidikan, hingga waktu bermain. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa perubahan iklim tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut perlindungan hak anak.
Sejumlah wilayah seperti Kabupaten Sumba Barat Daya di Nusa Tenggara Timur dan Asmat di Papua Selatan menjadi contoh daerah yang menghadapi tantangan serius akibat musim kemarau yang semakin panjang. Ketika sumber air mengering, anak-anak terpaksa ikut membantu keluarga mencari air ke lokasi yang lebih jauh, sehingga waktu mereka untuk belajar maupun beristirahat ikut berkurang.
Krisis Air Bersih Bebani Kehidupan Anak
National Director Wahana Visi Indonesia (WVI), Angelina Theodora, menjelaskan bahwa perubahan iklim telah memberikan dampak nyata terhadap kehidupan anak-anak di berbagai daerah yang mengalami keterbatasan sumber air.
Saat musim kemarau tiba, sebagian masyarakat harus bergantung pada air hujan atau menempuh perjalanan yang lebih jauh untuk mendapatkan air bersih. Dalam kondisi tersebut, anak-anak sering kali ikut memikul tanggung jawab mengambil air demi memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Situasi ini membuat mereka kehilangan waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar di sekolah, bermain bersama teman, maupun beristirahat. Dampaknya bukan hanya pada kualitas hidup, tetapi juga berpotensi menghambat tumbuh kembang anak.
Perubahan Iklim Juga Mengancam Hak Anak
Menurut Angelina, dampak perubahan iklim perlu dipandang sebagai isu perlindungan hak anak. Ketika seorang anak harus menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari air bersih, maka hak atas pendidikan, bermain, dan memperoleh kehidupan yang layak ikut terancam.
Ia menilai persoalan ini masih belum mendapat perhatian yang cukup karena banyak masyarakat menganggap dampak perubahan iklim baru akan terasa dalam jangka panjang. Padahal, kenyataannya berbagai konsekuensi sudah mulai dirasakan saat ini oleh kelompok yang paling rentan, termasuk anak-anak.
Ancaman Penyakit Ikut Meningkat
Selain memicu krisis air bersih, perubahan iklim juga berpotensi meningkatkan risiko penyebaran berbagai penyakit.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kenaikan suhu global dapat mempercepat perkembangan nyamuk pembawa virus serta memperpendek masa inkubasi penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD). Kondisi tersebut membuat ancaman terhadap kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak, menjadi semakin besar apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Dunia Internasional Soroti Perlindungan Hak Anak
Perhatian terhadap dampak perubahan iklim terhadap anak juga menjadi pembahasan di tingkat internasional.
Profesor Hukum dan Hak Anak di Dunia yang Berkelanjutan Universitas Leiden, Ann Skelton, bersama kandidat doktor Ruhama Yilma Abebe, menilai bahwa pandangan penasihat Mahkamah Internasional (ICJ) mengenai perubahan iklim sebagai isu hak asasi manusia masih belum memberikan perhatian khusus terhadap perlindungan hak anak.
Dalam analisis yang dipublikasikan Universitas Leiden, keduanya menilai anak-anak hanya disebut sebagai kelompok rentan tanpa pembahasan yang lebih mendalam mengenai perlindungan hak mereka. Padahal, anak merupakan kelompok yang paling terdampak oleh krisis iklim sekaligus aktif menyuarakan keadilan iklim di berbagai forum dunia.
Perlu Langkah Nyata Hadapi Krisis Iklim
Berbagai pihak mendorong pemerintah, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen bangsa untuk mulai mengambil langkah nyata dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Upaya menjaga lingkungan, memperkuat akses air bersih, meningkatkan edukasi mengenai perubahan iklim, serta melindungi hak-hak anak dinilai menjadi bagian penting dari strategi menghadapi tantangan iklim di masa depan.
Tanpa tindakan yang cepat dan berkelanjutan, dampak perubahan iklim dikhawatirkan akan semakin membatasi hak anak Indonesia untuk memperoleh pendidikan, kesehatan, serta kehidupan yang aman dan layak.








