PrakarsaWarga.Com – Pemanfaatan air daur ulang dinilai memiliki potensi besar untuk membantu kota-kota menghadapi dampak perubahan iklim, terutama meningkatnya suhu udara dan semakin seringnya gelombang panas. Temuan terbaru dari penelitian di Australia menunjukkan bahwa air hasil daur ulang dapat dimanfaatkan untuk menjaga ruang hijau perkotaan tetap subur sekaligus membantu menurunkan suhu lingkungan tanpa merusak kualitas tanah.
Penelitian tersebut dilakukan oleh tim dari Universitas Macquarie bersama Sydney Water dan Kebun Raya Sydney di Arboretum Penelitian, Kebun Raya Australia Mount Annan, Sydney. Fokus utama riset adalah mencari solusi berkelanjutan agar kota-kota mampu beradaptasi dengan perubahan iklim yang diperkirakan semakin ekstrem dalam beberapa tahun mendatang.
Ruang Hijau Jadi Senjata Melawan Cuaca Ekstrem
Lokasi penelitian berada di Sydney Barat, wilayah yang dikenal memiliki suhu lebih tinggi dibanding kawasan lain di kota tersebut. Salah satu daerahnya, Penrith, bahkan pernah mencatat suhu udara yang termasuk tertinggi di dunia pada Januari 2020.
Menurut peneliti Universitas Macquarie, Laura Fernandez, meningkatnya suhu akibat perubahan iklim dan fenomena El Niño membuat kota membutuhkan strategi baru untuk menjaga lingkungan tetap nyaman dihuni.
Dalam kondisi seperti itu, air daur ulang dinilai menjadi alternatif yang sangat menjanjikan untuk menyiram taman kota, pepohonan, hingga ruang terbuka hijau yang berfungsi menurunkan suhu lingkungan.
Pantau 600 Pohon Selama Tiga Tahun
Untuk menguji efektivitasnya, tim peneliti memantau sekitar 600 pohon dari 15 spesies asli Australia selama tiga tahun.
Separuh pohon mendapatkan penyiraman menggunakan air daur ulang, sementara sisanya menggunakan air minum sebagai pembanding. Seluruh proses penelitian dilakukan dengan pemantauan ketat menggunakan jaringan sensor pintar yang mencatat suhu udara, kelembapan, kadar air tanah, hingga tingkat salinitas setiap 15 menit.
Data tersebut kemudian dibandingkan dengan area yang tidak ditanami pohon untuk mengetahui seberapa besar pengaruh ruang hijau terhadap iklim mikro di sekitarnya.
Hasil Penelitian Sangat Menjanjikan
Hasil sementara menunjukkan bahwa penggunaan air daur ulang tidak menghambat pertumbuhan pohon maupun meningkatkan kadar garam di dalam tanah.
Sebaliknya, keberadaan pepohonan yang tumbuh sehat justru membantu menurunkan suhu lingkungan sekitar. Temuan ini memperkuat anggapan bahwa air daur ulang dapat menjadi sumber irigasi yang aman sekaligus ramah lingkungan untuk kawasan perkotaan.
Para peneliti menilai solusi tersebut sangat relevan bagi kota-kota yang menghadapi tantangan berupa pertumbuhan penduduk, keterbatasan sumber air bersih, dan meningkatnya suhu akibat perubahan iklim global.
Edukasi Masyarakat Lewat Flow Trail
Tak hanya melakukan penelitian, tim juga mengembangkan program edukasi bertajuk Flow Trail di Kebun Raya Australia Mount Annan.
Melalui papan informasi dan kode QR yang dipasang di berbagai titik, pengunjung diajak memahami pentingnya pengelolaan air serta peran pepohonan dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan membantu kota beradaptasi terhadap perubahan iklim.
Penelitian Berlanjut Hingga 2028
Riset ini dijadwalkan berlangsung hingga tahun 2028. Para peneliti ingin mengetahui bagaimana berbagai jenis pohon merespons kondisi cuaca yang diperkirakan akan semakin panas dan kering ketika fenomena El Niño kembali terjadi.
Laura Fernandez menjelaskan bahwa beberapa musim panas terakhir di Australia masih tergolong sejuk dan basah. Oleh karena itu, periode El Niño mendatang akan menjadi kesempatan penting untuk menguji ketahanan pohon yang menggunakan air daur ulang sebagai sumber irigasi utama.
Hasil akhir penelitian diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam menyusun strategi adaptasi perubahan iklim, termasuk memperluas penggunaan air daur ulang untuk menjaga ruang hijau sekaligus mengurangi dampak gelombang panas di kawasan perkotaan.








