AI Dorong Transformasi Pendidikan dan Buka Peluang Baru bagi Talenta Digital

PrakarsaWarga.Com – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini menjadi salah satu penggerak utama dalam memperkuat kerja sama pendidikan antara China dan negara-negara ASEAN. Melalui berbagai program akademik dan pelatihan teknologi, generasi muda di kawasan Asia Tenggara mendapatkan peluang baru untuk mengembangkan kemampuan digital yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan.

Salah satu kisah sukses datang dari Worawit Boonkate, pemuda asal Thailand yang berhasil bertransformasi menjadi tenaga ahli AI setelah menjalani pendidikan selama tiga tahun di China.

Sebelumnya, Boonkate merupakan lulusan teknik komunikasi dari Thailand dan belum memiliki pengalaman khusus di bidang kecerdasan buatan. Namun, setelah melanjutkan studi pascasarjana di Universitas Guizhou, Provinsi Guizhou, China, ia mampu mengembangkan kemampuan AI hingga menjadi seorang profesional.

Saat ini, Boonkate bekerja di True Corporation, salah satu perusahaan telekomunikasi besar Thailand. Selama lebih dari dua tahun, ia telah menerapkan keahlian AI yang diperolehnya untuk mendukung pengembangan produk dan berbagai inovasi teknologi perusahaan.

Menurutnya, kemajuan teknologi China, banyaknya riset AI, serta fasilitas laboratorium yang modern memberikan lingkungan belajar yang sangat mendukung bagi mahasiswa internasional.

AI Jadi Penghubung Baru Pendidikan China dan ASEAN

Pekan Kerja Sama Pendidikan China-ASEAN 2026 yang berlangsung di Guizhou pada 28 Juli hingga 2 Agustus menjadi ajang penting untuk memperkuat kolaborasi pendidikan berbasis teknologi.

Kegiatan tersebut diikuti oleh pejabat pendidikan, pimpinan universitas, serta para ahli dari berbagai negara ASEAN dan China. Para peserta menilai AI memiliki peran besar dalam menciptakan peluang baru di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia.

Pelaksana tugas Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Badri Munir Sukoco, menyampaikan bahwa Indonesia dapat mengambil pelajaran dari pengalaman China dalam mengintegrasikan AI ke dalam sistem pendidikan tinggi.

Menurutnya, kerja sama antara Indonesia dan China ke depan dapat dikembangkan melalui berbagai proyek berbasis AI, termasuk dalam bidang kesehatan, material baru, hingga inovasi industri.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan dan Olahraga Laos, Daravone Kittiphanh, menilai perkembangan AI membuat dunia pendidikan harus beradaptasi dengan cepat.

“AI sedang mengubah dunia pendidikan dan tempat kerja. Karena itu, mahasiswa perlu dibekali kemampuan digital, berpikir kritis, keterampilan praktis, etika AI, serta kemampuan manusiawi yang tidak mudah digantikan teknologi,” ujarnya.

Kampus China Siapkan Program AI untuk Mahasiswa ASEAN

Sejumlah universitas di China kini mulai memperluas program pelatihan AI bagi mahasiswa internasional, khususnya dari negara-negara ASEAN.

Universitas Shandong, misalnya, mengembangkan program pelatihan manufaktur pintar bersama universitas di Vietnam dan perusahaan teknologi Goertek. Program tersebut memberikan pembelajaran bahasa Mandarin, teknologi AI, hingga pengalaman industri.

Sebanyak 20 mahasiswa Vietnam menjadi peserta pertama yang mengikuti program selama empat bulan sebelum melanjutkan pengalaman kerja di cabang Goertek Vietnam.

Selain itu, Universitas Shanghai juga mengembangkan konsep pendidikan “seni plus teknologi AI” yang menggabungkan kreativitas dengan teknologi modern. Program ini menarik minat mahasiswa dari berbagai negara ASEAN.

Universitas tersebut juga memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung pembelajaran bahasa Mandarin melalui platform digital di Institut Konfusius Thailand.

Guizhou Perkuat Jejaring Pendidikan Internasional

Provinsi Guizhou menjadi salah satu wilayah China yang aktif membangun kerja sama pendidikan dengan negara-negara ASEAN.

Dalam beberapa tahun terakhir, Guizhou telah menjalin hubungan dengan lebih dari 90 universitas dan lembaga pendidikan di ASEAN serta negara mitra Belt and Road Initiative (BRI).

Selain itu, wilayah tersebut telah mendirikan 17 pusat pelatihan pendidikan di negara-negara ASEAN dengan jumlah peserta mencapai sekitar 20.900 mahasiswa.

Bagi Boonkate, pengalaman belajar di China bukan hanya memberikan kemampuan AI dan bahasa Mandarin, tetapi juga membentuk pemahaman budaya serta kedisiplinan yang membantu perjalanan kariernya.

Kerja sama pendidikan berbasis AI antara China dan ASEAN diperkirakan akan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan tenaga kerja digital di era teknologi.

 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Jokowi dan Fenomena Silent Majority: Mengapa Dukungan Tak Selalu Terlihat di Media Sosial?

Jokowi dan Fenomena Silent Majority: Mengapa Dukungan Tak Selalu Terlihat di Media Sosial?

Agen AI Pribadi Diprediksi Jadi Asisten Digital Utama Miliaran Pengguna

Agen AI Pribadi Diprediksi Jadi Asisten Digital Utama Miliaran Pengguna

AI Dorong Transformasi Pendidikan dan Buka Peluang Baru bagi Talenta Digital

AI Dorong Transformasi Pendidikan dan Buka Peluang Baru bagi Talenta Digital

Otorita IKN Gandeng PNM Perkuat UMKM, Bidik Target Pengentasan Kemiskinan pada 2035

Otorita IKN Gandeng PNM Perkuat UMKM, Bidik Target Pengentasan Kemiskinan pada 2035

Rina Nose Ungkap Alasan Operasi Hidung, Prioritaskan Fungsi dan Proporsi Wajah Alami

Rina Nose Ungkap Alasan Operasi Hidung, Prioritaskan Fungsi dan Proporsi Wajah Alami

Kelulusan Adiezty Fersa Setelah 18 Tahun Jadi Motivasi Gilang Dirga Kembali Kuliah

Kelulusan Adiezty Fersa Setelah 18 Tahun Jadi Motivasi Gilang Dirga Kembali Kuliah