PrakarsaWarga.Com – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengungkapkan masih besarnya nilai fasilitas kredit yang belum dimanfaatkan atau undisbursed loan di sektor perbankan. Hingga pertengahan 2026, nilainya mencapai Rp2.490 triliun, atau sekitar 21,52 persen dari total plafon kredit yang telah disediakan bank.
Menurut Perry, dana yang masih mengendap tersebut memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional apabila dapat segera disalurkan kepada dunia usaha maupun masyarakat.
“Fasilitas pinjaman yang belum digunakan masih cukup besar. Oleh karena itu, realisasi penyaluran kredit perlu terus didorong agar mampu memperkuat pembiayaan bagi sektor ekonomi,” ujar Perry.
Meski masih terdapat kredit yang belum terserap secara optimal, Bank Indonesia mencatat kinerja penyaluran kredit perbankan tetap menunjukkan tren positif sepanjang 2026.
Hingga Juni 2026, pertumbuhan kredit nasional mencapai 12,67 persen secara tahunan. Angka tersebut meningkat dibandingkan Mei 2026 yang berada di level 11,51 persen.
Di sisi lain, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) oleh industri perbankan juga terus mengalami pertumbuhan. Per Juni 2026, DPK tercatat naik 10,21 persen, mencerminkan likuiditas perbankan yang masih cukup kuat untuk mendukung ekspansi pembiayaan.
Perry menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit didorong oleh tiga sektor utama, yakni kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi.
Kredit investasi menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan 24,9 persen, disusul kredit modal kerja sebesar 8,94 persen, serta kredit konsumsi yang tumbuh 5,75 persen.
Melihat perkembangan tersebut, Bank Indonesia tetap optimistis target pertumbuhan kredit nasional pada tahun 2026 dapat terjaga di kisaran 8 hingga 12 persen.
BI berharap perbankan dapat mempercepat realisasi penyaluran fasilitas kredit yang masih tersedia agar mampu memperluas akses pembiayaan, meningkatkan aktivitas dunia usaha, memperkuat investasi, serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika ekonomi global.
Dengan likuiditas yang masih memadai dan pertumbuhan dana masyarakat yang positif, optimalisasi penyaluran kredit dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk mendorong penciptaan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas usaha, serta memperkuat daya saing ekonomi Indonesia.









