PrakarsaWarga.Com – Sebuah inovasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tengah dikembangkan untuk membantu menekan angka pasien gagal jantung yang harus kembali menjalani perawatan di rumah sakit. Teknologi ini dirancang agar dokter dapat mendeteksi sisa cairan di paru-paru secara lebih cepat dan akurat sebelum pasien diizinkan pulang.
Perangkat bernama Novel Artificial Intelligence-based Heart Failure Device (NAVI-HF) tersebut dikembangkan oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Rony Marethianto Santoso bersama tim peneliti. Inovasi ini menggabungkan stetoskop digital dengan algoritma AI yang mampu menganalisis suara napas pasien melalui aplikasi pada smartphone.
AI Bantu Deteksi Risiko Gagal Jantung Lebih Dini
Pada pasien gagal jantung, sisa cairan di paru-paru sering kali masih tertinggal meski kondisi pasien tampak membaik. Jika tidak terdeteksi, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko pasien kembali dirawat dalam waktu singkat setelah pulang dari rumah sakit.
Melalui NAVI-HF, suara paru yang direkam menggunakan stetoskop digital akan diproses oleh algoritma AI untuk mengenali tanda-tanda residual kongesti paru atau penumpukan cairan yang masih tersisa.
Apabila sistem mendeteksi adanya indikasi tersebut, dokter akan mendapatkan peringatan sehingga pasien bisa memperoleh penanganan lebih lanjut sebelum dipulangkan.
Solusi Praktis untuk Membantu Dokter
Selama ini, pemeriksaan paru umumnya masih mengandalkan stetoskop konvensional. Metode tersebut sangat bergantung pada pengalaman dan kemampuan masing-masing dokter dalam mengenali suara abnormal.
Sementara itu, pemeriksaan menggunakan lung ultrasound memang memiliki tingkat akurasi lebih tinggi, tetapi belum tersedia secara luas di banyak fasilitas kesehatan karena membutuhkan alat khusus, tenaga ahli, serta biaya yang tidak sedikit.
NAVI-HF hadir sebagai solusi tambahan yang lebih praktis untuk membantu proses pengambilan keputusan klinis tanpa menggantikan pemeriksaan medis yang sudah ada.
Hasil Penelitian Tunjukkan Akurasi Menjanjikan
Dalam penelitian yang melibatkan 246 pasien, algoritma AI pada NAVI-HF menunjukkan performa yang cukup baik.
Hasil penelitian mencatat perangkat tersebut memiliki:
- Akurasi mencapai 86 persen
- Sensitivitas 91 persen
- Spesifisitas 82 persen
Selama enam bulan masa pemantauan, pasien yang memperoleh hasil positif dari NAVI-HF diketahui memiliki risiko sekitar 1,6 kali lebih tinggi untuk kembali menjalani perawatan akibat gagal jantung dibandingkan pasien dengan hasil negatif.
Temuan tersebut menunjukkan AI berpotensi menjadi alat bantu penting dalam mendeteksi risiko kekambuhan lebih awal.
Dapat Digunakan untuk Pemantauan dari Rumah
Ke depan, pengembang berharap NAVI-HF tidak hanya dimanfaatkan di rumah sakit, tetapi juga mendukung layanan telemedicine dan pemantauan pasien dari rumah.
Pasien nantinya cukup menggunakan stetoskop digital portabel yang terhubung ke telepon pintar. Hasil pemeriksaan kemudian dikirim melalui sistem berbasis cloud sehingga dokter dapat memantau kondisi pasien secara jarak jauh tanpa harus menunggu kunjungan ke rumah sakit.
Model pemantauan ini diharapkan mampu mengurangi angka rawat ulang, mempercepat penanganan jika kondisi memburuk, sekaligus membantu menekan biaya layanan kesehatan.
Masih Memerlukan Uji Lanjutan
Meski hasil awal menunjukkan potensi yang menjanjikan, tim peneliti menegaskan bahwa NAVI-HF masih berada dalam tahap pengembangan.
Algoritma AI tersebut masih harus menjalani validasi pada jumlah pasien yang lebih besar dan di berbagai rumah sakit agar dapat memastikan konsistensi hasil pada karakteristik pasien yang beragam.
Jika seluruh tahapan penelitian berjalan sesuai rencana, NAVI-HF berpotensi menjadi salah satu inovasi kesehatan berbasis AI yang dapat meningkatkan kualitas perawatan pasien gagal jantung sekaligus mendukung transformasi layanan kesehatan digital di Indonesia.









