PrakarsaWarga.Com – Nanik S Deyang resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Keputusan tersebut diambil karena ia akan menjalani pengobatan penyakit jantung di luar negeri setelah mendapat persetujuan Presiden Prabowo Subianto.
Meski melepas jabatan sebagai Kepala BGN, Nanik mengungkapkan dirinya masih diminta untuk ikut mengawal jalannya program Badan Gizi Nasional. Bahkan, terdapat wacana pembentukan Dewan Pengawas BGN dan implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), di mana dirinya berpeluang mengemban tugas sebagai ketua dewan tersebut.
Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Kebijakan, Dirgayuza Setiawan, membenarkan pengunduran diri Nanik. Ia menyebut keputusan tersebut diambil agar Nanik dapat fokus menjalani perawatan kesehatan.
Selama memimpin BGN sekitar satu setengah bulan, Nanik dinilai berhasil melakukan sejumlah langkah pembenahan terhadap program MBG. Salah satu capaian utamanya adalah melakukan evaluasi terhadap hampir 28.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.
Selain itu, BGN di bawah kepemimpinannya juga mengklasifikasikan sekitar 3.000 dapur berdasarkan standar mutu serta menghentikan pengembangan dapur di wilayah yang dinilai sudah memenuhi kebutuhan layanan.
Dalam proses evaluasi tersebut, tim BGN menemukan 414 SPPG yang bermasalah. Temuan itu disebut berhasil menyelamatkan anggaran negara hingga ratusan miliar rupiah melalui langkah perbaikan dan penertiban.
Tak hanya itu, Nanik juga membentuk 11 tim reformasi untuk memperkuat tata kelola BGN. Reformasi tersebut difokuskan pada peningkatan kualitas layanan, penyaluran manfaat kepada kelompok yang paling membutuhkan, serta melibatkan tenaga profesional dari berbagai kementerian dan lembaga.
Jejak Karier Nanik S Deyang
Nanik S Deyang lahir di Madiun, Jawa Timur, pada 3 Januari 1968. Sebelum berkiprah di pemerintahan, ia dikenal sebagai jurnalis dan pernah memimpin Kelompok Media Peluang (KMP).
Dalam dunia politik, Nanik pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Koalisi Indonesia Adil Makmur pada Pilpres 2019 yang mengusung pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.
Kariernya di pemerintahan berlanjut ketika dipercaya menjadi Wakil I Badan Pengentasan Kemiskinan periode 2024–2029, sebelum kemudian dilantik sebagai Wakil Kepala BGN pada September 2025. Ia juga tercatat menjabat sebagai Komisaris PT Pertamina sejak Juni 2025.
Dengan pengunduran dirinya, tongkat estafet kepemimpinan BGN akan dilanjutkan oleh pejabat berikutnya. Sementara itu, berbagai program reformasi yang telah dirintis diharapkan tetap berlanjut demi meningkatkan kualitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di seluruh Indonesia.









