PrakarsaWarga.Com – Rencana FIFA untuk membuka kepemilikan saham pada sejumlah turnamen internasional, termasuk Piala Dunia, memicu gelombang kritik dari berbagai pihak. Kebijakan yang digagas di bawah kepemimpinan Presiden FIFA Gianni Infantino itu dinilai berpotensi mengubah wajah sepak bola menjadi semakin berorientasi pada kepentingan bisnis.
Dalam skema yang diusulkan, FIFA akan membentuk badan baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE). Lembaga ini nantinya bertugas mengelola aset komersial turnamen, sementara kepemilikan saham akan melibatkan seluruh asosiasi anggota FIFA serta investor dari sektor keuangan global.
Namun, rencana tersebut mendapat penolakan dari sejumlah federasi, termasuk UEFA. Mereka mempertanyakan transparansi proses penyusunan kebijakan sekaligus mengkhawatirkan masuknya investor swasta dapat memberikan pengaruh terhadap arah pengambilan keputusan di masa depan.
Meski FIFA menegaskan investor tidak akan memiliki kewenangan dalam urusan teknis maupun regulasi sepak bola, banyak pihak menilai jaminan tersebut belum cukup untuk menghilangkan kekhawatiran akan konflik kepentingan.
Selain isu independensi, kritik juga diarahkan pada kemungkinan meningkatnya tekanan komersial terhadap kalender pertandingan yang sudah padat. Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak pada kesehatan pemain dan keseimbangan kompetisi di berbagai level.
Menanggapi kritik yang terus mengemuka, Gianni Infantino menawarkan tambahan dana pengembangan sepak bola kepada seluruh 211 asosiasi anggota FIFA. Setiap federasi dijanjikan memperoleh bantuan sebesar US$40 juta sebagai bagian dari program pengembangan olahraga.
Langkah tersebut justru memunculkan tudingan baru. Sejumlah pengamat menilai janji pendanaan itu berpotensi dipersepsikan sebagai upaya mencari dukungan politik menjelang pemilihan Presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027.
Presiden LaLiga, Javier Tebas, menjadi salah satu tokoh yang paling vokal mengkritik kebijakan tersebut. Ia menilai dana pengembangan tidak seharusnya digunakan sebagai alat untuk memengaruhi sikap anggota FIFA terhadap sebuah kebijakan strategis.
Perdebatan mengenai rencana penjualan saham Piala Dunia diperkirakan masih akan berlanjut. Banyak pihak mendesak FIFA membuka ruang dialog yang lebih luas dan memastikan seluruh keputusan dilakukan secara transparan demi menjaga integritas sepak bola dunia.









