PrakarsaWarga.Com – Pemerintah tengah melakukan evaluasi terhadap sasaran penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kajian ulang ini dilakukan setelah Presiden Prabowo Subianto meminta agar pelaksanaan program lebih difokuskan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan, terutama kelompok rentan dan wilayah dengan risiko stunting tinggi.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Agustina Arumsari mengatakan Presiden Prabowo telah meminta agar seluruh masukan terkait pelaksanaan MBG dipelajari secara menyeluruh sebelum menentukan kebijakan baru.
“Beliau mendengarkan semua masukan dari semua peserta rapat yang hadir tadi, ada usulan yang macam-macam,” ujar Agustina dikutip dari Antara.
Menurutnya, evaluasi tersebut bertujuan agar program MBG berjalan lebih efektif dan tepat sasaran. Pemerintah membuka kemungkinan adanya penyesuaian kelompok penerima manfaat berdasarkan tingkat kesejahteraan masyarakat.
“Yang perlu diefisienkan, yang tidak harus menerima lagi program MBG, ya silakan tidak usah menerima lagi. Tetapi mereka yang berada di desil yang bawah, di daerah tertinggal, dan daerah yang prevalensi stunting-nya tinggi silakan diberikan,” jelas Agustina.
BGN Diberi Waktu Satu Bulan untuk Mengkaji
Wakil Kepala BGN Trenggono menyampaikan bahwa pihaknya akan segera menindaklanjuti arahan Presiden tersebut. Namun, hingga saat ini pemerintah masih belum menetapkan rincian baru mengenai kriteria penerima MBG.
Beberapa hal yang masih dikaji antara lain kelompok desil yang menjadi prioritas, termasuk kemungkinan penyesuaian penerima berdasarkan kondisi wilayah maupun kategori sekolah.
“Kriterianya nanti seperti apa masih kami kaji. Semua ini masih dalam proses pengkajian terlebih dahulu,” ujar Trenggono.
BGN menargetkan kajian terkait penerima manfaat MBG selesai dalam waktu sekitar satu bulan. Hasil evaluasi nantinya akan menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam memperbaiki tata kelola program yang telah menjangkau puluhan juta penerima manfaat.
MBG Akan Lebih Fokus ke Kelompok Rentan
Pemerintah menilai program MBG perlu memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang memiliki kebutuhan gizi lebih tinggi.
Selain menyasar keluarga dengan tingkat kesejahteraan rendah, perhatian juga diberikan kepada daerah tertinggal serta wilayah dengan angka stunting tinggi.
Langkah evaluasi ini diharapkan dapat membuat pelaksanaan MBG semakin efektif, baik dari sisi distribusi, anggaran, maupun dampak terhadap peningkatan kualitas gizi anak Indonesia.
Mengenal Sistem Desil dalam Penentuan Kesejahteraan
Dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), desil merupakan pengelompokan tingkat kesejahteraan keluarga berdasarkan kondisi sosial ekonomi.
Pembagian desil terdiri dari 10 kelompok yang masing-masing mewakili sekitar 10 persen keluarga di Indonesia.
Rinciannya sebagai berikut:
- Desil 1: kelompok rumah tangga 10 persen terbawah atau kategori sangat miskin.
- Desil 2: kelompok 10-20 persen terbawah atau kategori miskin.
- Desil 3: kelompok 20-30 persen terbawah atau hampir miskin.
- Desil 4: kelompok 30-40 persen terbawah atau rentan miskin.
- Desil 5-6: kelompok 40-60 persen tingkat kesejahteraan.
- Desil 7-10: kelompok 30 persen dengan tingkat kesejahteraan tertinggi.
Melalui evaluasi ini, pemerintah berharap Program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan lebih tepat sasaran dan memberikan dampak maksimal dalam meningkatkan kesehatan serta kualitas generasi muda Indonesia.









