Kolaborasi antara Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dan Anurag University menghadirkan inovasi baru di bidang energi bersih melalui pengembangan Battery Energy Storage System (BESS) berbasis Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi penyimpanan energi sekaligus mendukung pemanfaatan energi terbarukan secara lebih optimal.
Riset tersebut dikembangkan sebagai solusi atas tantangan penggunaan sumber energi baru terbarukan (EBT), seperti tenaga surya dan tenaga angin, yang memiliki karakteristik pasokan listrik tidak stabil atau bersifat intermiten. Dengan dukungan AI, sistem penyimpanan energi diharapkan mampu menjaga pasokan listrik tetap andal sekaligus mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Ketua tim peneliti UNS, Chico Hermanu Brillianto Apribowo, menjelaskan bahwa penelitian ini berfokus pada pengembangan model optimasi sistem penyimpanan energi yang mempertimbangkan dua faktor penting, yakni ketidakpastian produksi energi terbarukan dan penurunan performa baterai akibat penggunaan dalam jangka panjang.
Menurutnya, selama ini banyak sistem penyimpanan energi hanya berfokus pada kapasitas baterai tanpa memperhitungkan degradasi yang terjadi seiring waktu. Padahal, faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap umur pakai baterai, biaya operasional, hingga keputusan investasi.
AI Membantu Mengatur Kinerja Baterai Secara Optimal
Penelitian yang dilakukan dalam Program International Research Network EQUITY THE Impact Rankings 2025 ini melibatkan kolaborasi dengan Srikanth Goud B, akademisi dari Department of Electrical and Electronics Engineering, Anurag University.
Dalam proyek tersebut, tim mengembangkan perangkat yang terintegrasi dengan Smart Battery Management System (BMS). Sistem ini memanfaatkan teknologi machine learning untuk mengatur proses pengisian daya, pelepasan energi, hingga strategi operasional baterai secara otomatis sesuai kondisi jaringan listrik dan kesehatan baterai.
Melalui pendekatan tersebut, sistem dapat bekerja lebih efisien, memperpanjang usia baterai, mengurangi biaya operasional, serta meningkatkan fleksibilitas sistem kelistrikan.
Tahap Uji dan Sertifikasi Produk
Perangkat yang dikembangkan kini telah memasuki tahap pengujian di Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Bahan dan Barang Teknik (B4T) Bandung sebelum memperoleh sertifikasi produk.
Pengujian dilakukan untuk memastikan performa, aspek keamanan, dan kelayakan perangkat sehingga siap digunakan dalam berbagai kebutuhan penyimpanan energi.
Selain digunakan sebagai sistem penyimpanan energi, perangkat ini juga memiliki potensi menjadi alternatif pengganti genset dengan kapasitas yang dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan pengguna.
Dukung Transisi Energi Bersih Indonesia
Pengembangan baterai cerdas berbasis AI dinilai semakin penting seiring target pemerintah menambah kapasitas pembangkit listrik hingga 69,5 gigawatt (GW) pada 2034, dengan sekitar 76 persen di antaranya berasal dari sumber energi terbarukan.
Teknologi ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem energi bersih, mulai dari integrasi pembangkit listrik tenaga surya dan angin, sistem penyimpanan energi, jaringan listrik pintar, hingga layanan energi yang lebih ramah lingkungan.
Tak hanya memberikan manfaat dari sisi teknologi, inovasi ini juga berpotensi menciptakan peluang ekonomi baru melalui pengembangan industri penyimpanan energi, mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbahan bakar fosil, serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan tentang pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan kemitraan global.
Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengelola sistem baterai, kolaborasi UNS dan Anurag University menjadi salah satu langkah penting dalam mempercepat transformasi menuju masa depan energi yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan.






