Adopsi AI Meluas, Ancaman Keamanan Cloud Ikut Meningkat, Perusahaan Diminta Perkuat Perlindungan Data

PrakarsaWarga.Com – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terus berkembang pesat di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, bisnis, industri manufaktur, hingga layanan publik. Di balik berbagai manfaat yang ditawarkan, penggunaan AI ternyata juga memunculkan tantangan baru, terutama dalam aspek keamanan cloud dan perlindungan data digital.

Seiring semakin banyaknya perusahaan yang mengintegrasikan AI ke dalam sistem operasional, kebutuhan akan infrastruktur cloud juga meningkat. Namun, kompleksitas lingkungan digital yang terbentuk membuat risiko serangan siber semakin besar apabila tidak dibarengi dengan sistem pengawasan yang memadai.

Perusahaan keamanan siber asal Amerika Serikat, Gigamon, menilai bahwa tantangan utama saat ini bukan lagi sekadar menentukan lokasi penyimpanan data, melainkan memastikan seluruh aktivitas di lingkungan cloud dapat dipantau secara menyeluruh.

Cloud Security Evangelist Gigamon, Steve Goudreault, mengatakan perusahaan harus memiliki visibilitas penuh terhadap aliran data, identitas digital, serta komunikasi antar sistem agar mampu mengendalikan risiko keamanan yang terus berkembang.

Menurutnya, mengetahui lokasi penyimpanan data saja tidak lagi cukup. Organisasi juga harus memahami ke mana data bergerak, siapa yang mengaksesnya, hingga memastikan setiap mekanisme perlindungan berjalan sesuai standar keamanan.

Hal tersebut menjadi semakin penting karena teknologi AI bekerja dengan memanfaatkan berbagai layanan, mulai dari public cloud, private cloud, Software-as-a-Service (SaaS), sistem lama (legacy), hingga beragam aplikasi bisnis yang saling terhubung.

Selain itu, AI juga menggunakan machine identities atau identitas mesin yang memungkinkan aplikasi saling berkomunikasi secara otomatis tanpa campur tangan manusia. Semakin banyak koneksi yang terbentuk, semakin besar pula peluang bagi pelaku kejahatan siber untuk memanfaatkan celah keamanan apabila pengawasan tidak dilakukan secara optimal.

Cloud Lokal Belum Tentu Lebih Aman

Gigamon juga menyoroti meningkatnya minat perusahaan di Indonesia terhadap penggunaan sovereign cloud, cloud lokal, maupun hybrid cloud. Pilihan tersebut umumnya dilakukan untuk memenuhi regulasi mengenai kedaulatan data dan meningkatkan perlindungan informasi.

Meski demikian, perusahaan menegaskan bahwa lokasi penyimpanan data bukan jaminan utama keamanan sistem.

Sebuah organisasi tetap harus mampu menunjukkan siapa saja yang mengakses data, bagaimana komunikasi antar aplikasi berlangsung, serta memastikan seluruh kontrol keamanan bekerja secara efektif.

Tanpa visibilitas yang baik, aktivitas mencurigakan seperti lalu lintas data yang tidak biasa atau penyalahgunaan identitas mesin berpotensi tidak terdeteksi hingga akhirnya menimbulkan kebocoran data.

Steve Goudreault menambahkan bahwa keputusan memilih layanan cloud kini bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga berkaitan langsung dengan kepercayaan pelanggan, kepatuhan terhadap regulasi, serta keberlangsungan bisnis perusahaan.

Ancaman Siber di Indonesia Terus Bertambah

Tantangan keamanan cloud juga semakin relevan mengingat ancaman siber di Indonesia terus mengalami peningkatan.

Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), sepanjang tahun 2024 tercatat lebih dari 609 juta serangan siber di Indonesia. Pada periode yang sama, jumlah serangan malware juga meningkat sekitar 12,67 persen.

Bagi perusahaan yang mengelola data pelanggan, sistem pembayaran digital, maupun rantai pasok berbasis teknologi, kondisi tersebut dapat menghambat operasional, memperlambat penanganan insiden, hingga menurunkan tingkat kepercayaan pelanggan.

Tidak hanya di Indonesia, tren serupa juga terjadi di kawasan Asia Pasifik. Berdasarkan Gigamon 2026 Hybrid Cloud Security Survey, kasus kebocoran data di berbagai organisasi meningkat sekitar 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Akibat meningkatnya risiko tersebut, lebih dari 90 persen pemimpin bidang teknologi informasi dan keamanan mulai meningkatkan investasi pada solusi keamanan baru yang mampu memberikan visibilitas lebih baik terhadap seluruh aktivitas di lingkungan cloud.

Salah satu ancaman yang kini menjadi perhatian adalah lateral movement, yakni teknik yang digunakan pelaku kejahatan siber untuk berpindah dari satu sistem ke sistem lain setelah berhasil menembus jaringan. Aktivitas seperti ini sering kali sulit dideteksi oleh sistem keamanan konvensional, terutama di lingkungan AI yang memiliki lalu lintas data sangat padat.

Melihat perkembangan tersebut, para pelaku usaha disarankan untuk tidak hanya fokus pada percepatan transformasi digital, tetapi juga memperkuat strategi keamanan siber agar pemanfaatan AI dapat berjalan secara aman, efisien, dan berkelanjutan.

 

 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Hoshizora Foundation Buka Beasiswa 2026 untuk Pelajar SD hingga SMA, Ini Syarat dan Jadwal Pendaftarannya

Hoshizora Foundation Buka Beasiswa 2026 untuk Pelajar SD hingga SMA, Ini Syarat dan Jadwal Pendaftarannya

Pembangunan Sekolah Belum Rampung, Siswa SMA Unggul Garuda Bulungan Belajar Sementara di Sulawesi

Pembangunan Sekolah Belum Rampung, Siswa SMA Unggul Garuda Bulungan Belajar Sementara di Sulawesi

SPMB 2026 Mataram: Lima SMA Negeri Kekurangan Pendaftar, Dikpora Siapkan Langkah Pemerataan Siswa

SPMB 2026 Mataram: Lima SMA Negeri Kekurangan Pendaftar, Dikpora Siapkan Langkah Pemerataan Siswa

Sekolah Rakyat Terpadu Trenggalek Siap Beroperasi 2026, Tampung Lebih dari Seribu Siswa

Sekolah Rakyat Terpadu Trenggalek Siap Beroperasi 2026, Tampung Lebih dari Seribu Siswa

Al Haris Dorong Guru dan Tokoh Agama Perkuat Benteng Moral Generasi Muda Jambi

Al Haris Dorong Guru dan Tokoh Agama Perkuat Benteng Moral Generasi Muda Jambi

Penelitian Ungkap Golongan Darah A Berisiko Lebih Tinggi Terkena Stroke, Benarkah?

Penelitian Ungkap Golongan Darah A Berisiko Lebih Tinggi Terkena Stroke, Benarkah?