PrakarsaWarga.Com – Pulau Jawa masih menjadi motor utama perekonomian Indonesia meski arus investasi dalam beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan pergeseran ke berbagai wilayah di luar Jawa.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, kontribusi Jawa terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional masih berada di atas 50 persen. Kondisi tersebut menandakan bahwa setelah 81 tahun Indonesia merdeka, aktivitas ekonomi nasional masih cukup terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Pada kuartal II-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Jawa mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni 5,65 persen, sekaligus menyumbang 56,47 persen terhadap perekonomian nasional.
Sementara itu, Sumatera menjadi wilayah dengan kontribusi terbesar kedua, mencapai 22,50 persen.
Besarnya kontribusi Jawa tidak terlepas dari konsentrasi penduduk, industri, perdagangan, jasa, hingga infrastruktur yang telah berkembang selama puluhan tahun. Namun, di tengah dominasi tersebut, terdapat tanda bahwa investasi mulai bergerak lebih merata ke luar Jawa.
Lebih dari Separuh Penduduk Indonesia Tinggal di Jawa
Salah satu alasan utama mengapa kegiatan ekonomi masih terkonsentrasi di Jawa adalah jumlah penduduknya.
Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, jumlah penduduk Indonesia mencapai 284,67 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 55,65 persen atau lebih dari separuh penduduk nasional tinggal di Pulau Jawa.
Angka itu tidak jauh berbeda dengan hasil Sensus Penduduk 2020. Saat itu, sebanyak 151,59 juta orang atau 56,10 persen penduduk Indonesia tercatat tinggal di Jawa.
Besarnya jumlah penduduk membuat Jawa menjadi pasar konsumsi terbesar sekaligus menyediakan tenaga kerja dalam jumlah besar bagi dunia usaha.
Kondisi tersebut kemudian mendorong berkembangnya berbagai kegiatan ekonomi, mulai dari industri manufaktur, perdagangan, jasa, konstruksi hingga sektor keuangan.
Dengan pasar yang besar dan jaringan infrastruktur yang relatif lebih lengkap, perusahaan juga memiliki alasan kuat untuk mempertahankan kegiatan bisnisnya di Jawa.
Struktur Ekonomi Jawa Lebih Beragam
Dominasi Jawa tidak hanya terlihat dari jumlah penduduk, tetapi juga dari beragamnya sektor ekonomi yang berkembang di wilayah tersebut.
Pada kuartal II-2026, industri pengolahan menjadi salah satu sektor penting dalam perekonomian nasional dengan kontribusi 18,50 persen terhadap PDB. Sektor tersebut tumbuh 4,52 persen secara tahunan.
Sementara perdagangan memberikan kontribusi 13,02 persen dengan pertumbuhan 6,39 persen. Adapun sektor konstruksi menyumbang 9,79 persen dan tumbuh 6,68 persen.
Berbagai sektor tersebut memiliki basis kegiatan yang kuat di Pulau Jawa.
Hampir seluruh provinsi di Jawa juga mencatat pertumbuhan ekonomi positif pada kuartal I-2026. Jawa Timur tumbuh 5,96 persen, Jawa Tengah 5,89 persen, DI Yogyakarta 5,84 persen, Jawa Barat 5,79 persen, Banten 5,64 persen, dan DKI Jakarta 5,59 persen secara tahunan.
Dari sisi kontribusi terhadap perekonomian Jawa, DKI Jakarta masih menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 29,13 persen. Berikutnya Jawa Timur 25,16 persen, Jawa Barat 22,63 persen, Jawa Tengah 14,50 persen, Banten 7 persen, dan DI Yogyakarta 1,57 persen.
Artinya, kekuatan ekonomi Jawa tidak hanya bergantung pada Jakarta. Sejumlah wilayah lain juga telah berkembang menjadi pusat industri dan kegiatan ekonomi.
Industri Menjadi Kekuatan Besar di Jawa
Jawa Timur dan Jawa Tengah menjadi contoh wilayah yang memiliki basis industri pengolahan cukup kuat.
Pada kuartal I-2026, industri pengolahan memberikan kontribusi 31,45 persen terhadap PDRB Jawa Timur. Di Jawa Tengah, sektor yang sama menyumbang 32,69 persen terhadap PDRB.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Jawa memiliki ekosistem ekonomi yang relatif lengkap. Mulai dari tenaga kerja, pasar, industri, pemasok, jaringan distribusi hingga infrastruktur pendukung telah terbentuk dalam waktu panjang.
Keberadaan ekosistem tersebut membuat perpindahan pusat ekonomi dari Jawa ke luar Jawa tidak dapat terjadi dalam waktu singkat.
Namun, bukan berarti pembangunan ekonomi di luar Jawa tidak mengalami perkembangan.
Investasi Mulai Lebih Banyak Mengalir ke Luar Jawa
Perubahan menarik justru terlihat dari data realisasi investasi.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi pada kuartal I-2026 mencapai Rp498,8 triliun. Angka tersebut tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari total investasi tersebut, sekitar Rp247,5 triliun atau 49,6 persen masuk ke Jawa. Sementara investasi di luar Jawa mencapai Rp251,3 triliun atau sekitar 50,4 persen.
Dengan demikian, untuk pertama kalinya porsi investasi di luar Jawa sedikit lebih tinggi dibandingkan investasi di Jawa.
Pergeseran ini salah satunya didorong oleh perkembangan industri hilirisasi sumber daya alam.
Hilirisasi Mengubah Peta Investasi Nasional
Investasi hilirisasi banyak diarahkan ke daerah yang berdekatan dengan sumber bahan baku. Langkah tersebut dinilai dapat memangkas rantai pasok sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di daerah.
Pada semester I-2026, investasi hilirisasi mineral tercatat mencapai Rp206,5 triliun. Sekitar 75,7 persen investasi hilirisasi tersebut berada di luar Jawa.
Sulawesi Tengah dan Maluku Utara menjadi contoh wilayah yang mengalami perkembangan pesat akibat masuknya investasi industri berbasis mineral.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan pembangunan industri pengolahan yang dekat dengan sumber daya alam dapat memperpendek rantai pasok sekaligus menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya perubahan lokasi aktivitas ekonomi dari wilayah yang jauh dari sumber daya menuju kawasan yang lebih dekat dengan bahan baku.
Morowali Jadi Contoh Pertumbuhan Ekonomi di Luar Jawa
Morowali, Sulawesi Tengah, menjadi salah satu contoh nyata dampak investasi dan hilirisasi terhadap perkembangan ekonomi daerah.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku Morowali meningkat signifikan, dari Rp7,55 triliun pada 2014 menjadi Rp188,86 triliun pada 2025.
Dalam periode tersebut, rata-rata pertumbuhan PDRB Morowali mencapai 21,36 persen.
Namun, pertumbuhan ekonomi yang tinggi juga menghadirkan pekerjaan rumah. Pada periode 2023-2025, rata-rata pertumbuhan ekonomi Morowali mencapai 15,91 persen. Sementara tingkat kemiskinan turun dari 12,31 persen menjadi 10,38 persen.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako, Ahlis Djirimu, menilai pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum otomatis menghasilkan penurunan kemiskinan dalam proporsi yang sama.
Menurutnya, pembangunan perlu memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat lokal.
Tantangan Pemerataan Ekonomi Indonesia
Perkembangan Morowali memperlihatkan bahwa investasi di luar Jawa mampu menciptakan pusat pertumbuhan baru. Namun, pemerataan ekonomi bukan hanya persoalan memindahkan investasi dari Jawa ke daerah lain.
Pembangunan juga perlu memastikan masyarakat setempat mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi, memperoleh pekerjaan, meningkatkan keterampilan, serta menikmati manfaat dari pertumbuhan daerah.
Jawa sendiri masih memiliki keunggulan berupa jumlah penduduk besar, infrastruktur yang relatif lengkap, pasar yang luas dan struktur ekonomi yang beragam. Sementara daerah di luar Jawa memiliki potensi besar dari sumber daya alam, kawasan industri baru, energi, pariwisata, serta sektor-sektor strategis lainnya.
Karena itu, tantangan Indonesia ke depan bukan sekadar mengurangi dominasi Jawa, melainkan menciptakan pusat-pusat ekonomi baru tanpa menghilangkan kekuatan ekonomi yang sudah terbentuk.
Jika investasi, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pengembangan industri dapat berjalan beriringan, maka pertumbuhan ekonomi nasional berpeluang menjadi lebih merata.
Setelah 81 tahun merdeka, pemerataan ekonomi masih menjadi pekerjaan panjang. Pergeseran investasi ke luar Jawa menjadi sinyal positif, tetapi manfaatnya perlu dipastikan benar-benar sampai kepada masyarakat dan mampu menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan.




