PrakarsaWarga.Com – Gelaran Magelang Ethno Carnival (MEC) 2026 sukses menyedot perhatian masyarakat. Berlangsung di Alun-alun Kota Magelang, Minggu (1/11/2026), acara ini menjadi puncak rangkaian Magelang Flower Festival yang berlangsung meriah dengan antusiasme tinggi dari warga dan pengunjung.
Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan penyelenggaraan festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi daerah.
“Kita berkumpul dalam suasana penuh kegembiraan untuk menyaksikan Magelang Ethno Carnival 2026. Atas nama pemerintah dan masyarakat Kota Magelang, kami mengucapkan terima kasih serta apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membantu terselenggaranya acara ini,” ujar Damar dalam sambutannya.
Magelang Ethno Carnival dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Para peserta memulai perjalanan dari sisi timur Alun-alun Kota Magelang, kemudian menampilkan berbagai pertunjukan di depan panggung kehormatan sebelum melanjutkan parade menyusuri Jalan Pemuda.
Sejumlah pejabat daerah turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Wakil Wali Kota Magelang Sri Harso, Kepala Kejaksaan Negeri Kota Magelang Agustinus Baka Tangdililing, Kapolresta Magelang Kota AKBP Dikri Olfandi, Dandim 0705/Magelang Letkol Inf Budi Bowo Leksono, serta Ketua Pengadilan Negeri Kota Magelang Natalia Maharani.
Para tamu undangan juga tampil mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah sebagai bentuk keberagaman budaya yang mewarnai perhelatan tersebut.
Angkat Identitas Magelang sebagai Kota Bunga
Damar mengatakan, Magelang Ethno Carnival menjadi penutup rangkaian Magelang Flower Festival sekaligus momentum untuk menghidupkan kembali identitas Kota Magelang sebagai Kota Bunga.
Menurutnya, Magelang sejak dahulu dikenal dengan julukan Tuin Van Java atau Taman Pulau Jawa dan Paradise Van Java yang menggambarkan keindahan serta keistimewaan daerah tersebut.
Ia berharap identitas sejarah itu tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga dapat menjadi inspirasi dalam membangun kota yang semakin indah, menarik, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Damar juga menekankan pentingnya mengembangkan potensi budaya dan kreativitas masyarakat agar memberikan dampak nyata bagi kemajuan daerah.
Perputaran Ekonomi Capai Rp300 Juta per Hari
Selain memperkenalkan kekayaan budaya, penyelenggaraan Magelang Flower Festival dan Magelang Ethno Carnival dinilai mampu memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.
Damar menjelaskan, kegiatan tersebut melibatkan berbagai sektor usaha kreatif, mulai dari perancang busana, penjahit, perajin, seniman, pelaku seni pertunjukan, komunitas, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kehadiran pengunjung dalam jumlah besar juga memberikan peluang bagi pedagang dan pelaku usaha lokal untuk meningkatkan pendapatan selama festival berlangsung.
Bahkan, berdasarkan laporan yang diterimanya, transaksi ekonomi selama rangkaian kegiatan sejak 25 Oktober 2026 diperkirakan mencapai Rp250 juta hingga Rp300 juta setiap harinya.
“Coba bayangkan, perputaran ekonomi atau transaksi selama pagelaran, selama event dari tanggal 25 itu per harinya mencapai Rp250 juta sampai Rp300 juta. Ini luar biasa dengan kegiatan yang sangat low cost. Saya berharap bisa menjadikan high impact atau dampaknya bermanfaat bagi masyarakat,” ungkap Damar.
Ia berharap festival serupa dapat terus dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya dengan penyelenggaraan yang semakin baik dan memberikan manfaat lebih luas.
Damar juga mengajak masyarakat untuk ikut meramaikan berbagai agenda wisata dan budaya yang telah disiapkan Pemerintah Kota Magelang pada November hingga Desember 2026, termasuk kegiatan Merti Gunung Tidar yang dijadwalkan berlangsung pada 6–8 November.
Pedagang dan Pengunjung Beri Respons Positif
Dampak positif festival turut dirasakan para pelaku usaha di sekitar Alun-alun Kota Magelang. Bayinah (44), salah satu pedagang kupat tahu di pusat kuliner Tuin Van Java, mengaku jumlah pengunjung meningkat selama kegiatan berlangsung.
Menurutnya, keramaian acara memberikan pengaruh terhadap pendapatan pedagang karena semakin banyak masyarakat yang datang untuk menikmati festival.
“Kalau ada event berpengaruh pada pendapatan karena banyak pengunjung. Ada peningkatan, ya lumayan,” kata Bayinah.
Ia mengungkapkan telah menyiapkan lebih dari 50 porsi kupat tahu untuk melayani pembeli pada hari pelaksanaan acara.
Sementara itu, Amel (39), pengunjung asal Purworejo, menilai Magelang Ethno Carnival tahun ini tampil lebih menarik dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
Ia mengapresiasi kreativitas peserta yang menghadirkan beragam kostum unik dan menarik. Amel berharap jumlah variasi kostum serta kreativitas peserta dapat semakin ditingkatkan pada penyelenggaraan tahun depan.
Menurutnya, festival tersebut berpotensi menjadi agenda wisata yang semakin besar sekaligus menarik lebih banyak wisatawan untuk berkunjung ke Kota Magelang.
Dengan tingginya antusiasme masyarakat dan meningkatnya aktivitas perdagangan, Magelang Ethno Carnival 2026 diharapkan tidak hanya menjadi panggung pelestarian budaya, tetapi juga mampu memperkuat sektor pariwisata dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat.








