PrakarsaWarga.Com – Mengunyah es batu mungkin terlihat seperti kebiasaan sederhana. Namun, jika keinginan tersebut muncul berulang kali dan terasa sulit dikendalikan, kondisi ini tidak sebaiknya dianggap sepele.
Dorongan kuat untuk terus mengunyah atau mengonsumsi es batu dikenal sebagai pagophagia. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan sejumlah masalah kesehatan, salah satunya kekurangan zat besi.
Bagi sebagian orang, menggigit es setelah menikmati minuman dingin hanyalah kebiasaan sesaat. Sensasi dingin dan teksturnya yang renyah memang dapat memberikan rasa menyenangkan.
Namun, situasinya berbeda apabila seseorang merasa terus-menerus ingin mengunyah es, bahkan hampir setiap hari. Dorongan yang menetap tersebut dapat menjadi tanda bahwa tubuh sedang mengalami kondisi tertentu.
Mengutip WebMD, pagophagia merupakan bentuk pica, yakni kondisi ketika seseorang memiliki dorongan untuk mengonsumsi atau mengunyah sesuatu yang bukan makanan pada umumnya. Pada pagophagia, objek yang diinginkan secara khusus adalah es.
Sering dikaitkan dengan kekurangan zat besi
Salah satu kondisi yang paling sering dikaitkan dengan kebiasaan mengunyah es adalah anemia defisiensi besi. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup zat besi untuk mendukung produksi hemoglobin secara optimal.
Sejumlah penelitian menemukan bahwa keinginan mengunyah es pada sebagian penderita dapat berkurang setelah kekurangan zat besi ditangani. Karena itu, dokter dapat menyarankan pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar zat besi dan kondisi darah secara keseluruhan.
Meski demikian, kekurangan zat besi bukan satu-satunya kemungkinan penyebab pagophagia. Kondisi ini juga dapat berkaitan dengan mulut kering, kekurangan mineral tertentu, maupun beberapa kondisi psikologis.
Hubungan antara pagophagia dan anemia hingga kini masih terus diteliti. Salah satu teori menyebutkan bahwa sensasi dingin dari es mungkin memberikan efek tertentu terhadap kewaspadaan pada orang yang mengalami anemia. Namun, mekanisme pastinya belum sepenuhnya diketahui.
Jangan abaikan dampaknya pada gigi
Terlepas dari penyebabnya, kebiasaan mengunyah es secara berlebihan dapat menimbulkan masalah pada kesehatan gigi.
Tekanan berulang saat menggigit es yang keras berpotensi merusak enamel atau lapisan pelindung gigi. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membuat gigi lebih sensitif.
Risiko lainnya adalah gigi retak atau kerusakan pada tambalan. Bagi orang yang menggunakan kawat gigi, kebiasaan menggigit es juga berpotensi mengganggu atau merusak perangkat ortodonti.
Karena itu, menghentikan kebiasaan mengunyah es bukan hanya penting untuk mencari tahu penyebabnya, tetapi juga untuk menjaga kesehatan gigi.
Kapan perlu memeriksakan diri?
Mengunyah es sesekali tidak otomatis berarti seseorang mengalami pagophagia. Kondisi yang perlu mendapat perhatian adalah ketika dorongan tersebut muncul terus-menerus, sulit dihentikan, atau disertai keluhan kesehatan lainnya.
Jika kebiasaan tersebut terjadi secara rutin, pemeriksaan medis dapat membantu menemukan penyebab yang mendasarinya. Dokter mungkin melakukan pemeriksaan fisik dan tes darah, terutama bila terdapat kecurigaan kekurangan zat besi atau anemia.
Penanganannya pun bergantung pada penyebab. Jika ditemukan kekurangan zat besi, dokter dapat merekomendasikan perubahan pola makan atau pemberian suplemen zat besi sesuai kondisi pasien.
Pada akhirnya, kebiasaan mengunyah es yang terus berulang bisa menjadi lebih dari sekadar kesukaan terhadap sensasi dingin. Jika dorongan tersebut sulit dikendalikan, jangan abaikan kemungkinan bahwa tubuh sedang memberikan sinyal adanya masalah kesehatan.







